P2TP2A Berjanji Akan Jemput Bola Terkait Kasus Pencabulan

Iklan Semua Halaman

Header Menu

P2TP2A Berjanji Akan Jemput Bola Terkait Kasus Pencabulan

Syah Putra
Monday, January 7, 2019


Kordinator P2TP2A Ernis Safrin Lubis

Sawitseberang-Metrolangkatbinjai.com

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merupakan pusat kegiatan terpadu yang didirikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, dan menyediakan pelayanan bagi masyarakat Indonesia, terutama perempuan dan anak korban tindak kekerasan.

Terkait dengan informasi dan pemberitaan di media ini senin (7/1) mengenai pencabulan yang berujung damai dengan uang, P2TP2A angkat bicara.

Saat dikonfirmasi awak media mengatakan, P2TP2A berjanji akan melakukan jemput bola, dalam arti kata, mereka akan turun langsung ke lokasi tempat kejadian tindak kekerasan seksual terhadap anak tersebut.

“Kita akan menjemput bola, walaupun keluarga korban dan pelaku sudah melakukan perdamaian, tetapi proses hukum tetap berjalan. Karena ini adalah tindakan yang luar biasa," cetus Ernis Safrin Lubis, selaku kordinator P2TP2A, Senin (7/1) Siang.

Menurut Ernis, tidak ada kata damai dengan kasus pencabulan anak di bawah umur. Sebab, jangan pernah menjadikan anak sebagai sumber kejahatan ekonomi.

Lebih lanjut dikatakan Ernis, pihaknya juga membutuhkan semua element masyarakat untuk dapat melibatkan diri dan memberikan perhatian yang serius kepada anak. Walaupun tidak ada pelaporan dari pihak korban P2TP2A akan menangani kasus tersebut.

“Kita juga harus mengembalikan Psikologis anak tersebut, kalau tidak cepat menanganinya, maka hal itu akan mengganggu tumbuh kembangnya anak," Ernis.

Diberitakan sebelumnya, lagi-lagi terjadi pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Kali ini, dugaan kekerasan pencabulan terjadi di Komplek Perumahan Afdeling 3 PTPN 2 unit Sawit Seberang, Dusun 3 Kloneng sari, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sawit Seberang.

Menurut informasi yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa ada kasus pencabulan terhadap anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar berinisial SR (10) dan inisial LS (8). Dimana kedua korban tersebut adalah kakak beradik kandung, anak dari Sudarto (45) alias Kacuk yang bekerja sebagai karyawan PTPN2 Afdeling 3.

Kedua korban dicabuli oleh Suyatno (50)  buruh PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) di kebun PTPN2 Afdeling 3 Rayon Sawit Seberang. Ketika pelaku melakukan aksi bejatnya tersebut, di ketahui oleh seorang karyawan kebun yang bernama Suriyono (50), di areal perkebunan Kelapa Sawit yang tak jauh dari rumah pelaku.

Kasus pencabulan tersebut berujung damai di rumah Kepala Dusun Kloneng Sari, Jumani (51) Senin (17/12) lalu.

Informasi yang brrhasil dirangkum, Perdamaian tersebut juga dihadiri oleh pelaku pencabulan, orangtua korban dan saksi yang melihat kejadian tersebut.

Menurut keterangan beberapa warga yang tidak mau di sebutkan jati dirinya kepada awak media, bahwa di dalam perdamaian tersebut, pelaku menjual 2 ekor lembu, dan uang penjualan tersebut di berikan kepada orangtua korban sebagai tanda damai atau ganti rugi moral terhadap korban.

"Bukan hanya itu, semenjak kejadian tersebut, korban jarang nampak bermain-main lagi dengan teman-temannya," ucap salah seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Ketika awak media hendak meminta keterangan dan menggali informasi, Minggu (6/1) kepada pihak yang terkait dalam perdamaian tersebut, tak seorang pun dari mereka yang mau memberikan keterangan dan sempat terjadi pengusiran terhadap awak media ini.

“Walaupun telah terjadi proses perdamaian di antara mereka, tetapi proses hukum akan tetap berjalan.” Cetus Heri, LSM Bintara-RI.

Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada campur tangan Satgas PPA Polres Langkat dan P2TP2A.

"Agar kedepannya tidak ada lagi yang namanya predator pencabulan terhadap anak. Dan kedua korban pun juga harus mendapatkan pengobatan Fsikologis," tegasnya. (Zar)