Lagi-lagi, PSI Keluarkan Kebijakan Yang Mengundang Kontroversi

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Lagi-lagi, PSI Keluarkan Kebijakan Yang Mengundang Kontroversi

Syah Putra
Wednesday, December 26, 2018




Metrolangkatbinjai.com

Kebijakan yang mengundang Kontroversi lagi lagi dikeluarkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kebijakan yang menuai kontrovesi ialah instruksi terkait ucapan selamat Natal. Instruksi terkait ucapan Natal itu disampaikan Sekjen PSI Raja Juli Antoni.

Kepada seluruh kadernya, Antoni menginstruksikan untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat nasrani. Instruksi itu ditujukan baik kepada kader yang merupakan umat nasrani, maupun yang merupakan umat muslim. Alasannya, mengucapkan selamat Natal adalah bagian dari interaksi sosial. Hal itu tidak berkaitan dengan persoalan peribadahan.

Dilansir dari Detiknews.com, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) beberapa kali mengeluarkan kebijakan yang mengundang kontroversi. Kebijakan itu antara lain, menolak perda syariah atau perda yang berlandaskan agama hingga yang terakhir soal instruksi soal ucapan selamat Natal.

Kontroversi kebijakan PSI bermula dari penyataan Ketum PSI, Grace Natalie yang tidak mendukung perda syariah dan perda yang berlandaskan agama lainnya menjadi polemik. Penolakan PSI terhadap perda bernuansa agama itu dilontarkan Grace saat HUT ke-4 PSI. Grace mulanya berbicara tentang partainya yang akan mencegah diskriminasi dan tindakan intoleransi, seperti penutupan rumah ibadah secara paksa.

"PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindak intoleransi di negeri ini," kata Grace di ICE BSD Hall 3A, Tangerang, Minggu (11/11).

"Partai ini tidak akan pernah mendukung perda Injil atau perda syariah, tidak boleh lagi ada penutupan rumah ibadah secara paksa," sambungnya.

Pernyataan itupun memicu komentar dari berbagai pihak hingga desakan agar Grace meminta maaf. Kritik kemudian datang dari PBNU, partai politik, hingga anggota Dewan. PBNU tak sependapat dengan Grace. Begitu pula parpol seperti PPP dan PKS melalui fraksinya di DPR RI.

Tak berhenti sampai di situ, PSI kembali mengeluarkan kebijakan yang mengundang kontroversi yakni politik anti-poligami. Grace awalnya melarang semua kader PSI untuk berpoligami. Praktik poligami disebutnya merupakan salah satu sumber ketidakadilan bagi perempuan.

"Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami," kata Grace pada acara Festival 11 di Jatim Expo, Surabaya, Selasa (11/12).

Tekad penolakan poligami itu juga nantinya akan dilakukan jika PSI suatu saat nanti lolos ke parlemen. Partainya akan menjadi yang pertama berjuang merevisi UU Poligami.

Ucapan Grace pun ditanggapi berbagai pihak. Yang pertama memprotes adalah kader PSI sendiri, yakni Nadir Amir yang merupakan salah satu caleg dan juga ketua DPC PSI Kecamatan Cina, Bone, Sulawesi Selatan.

"Bagaimana tidak, keluarga saya ada yang poligami. Bapak saya punya empat istri, om saya dan sepupu saya juga ada yang poligami. Lingkungan keluarga saya mulai risih dengan aturan itu," kata Nadir saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/12).

Terakhir, kebijakan PSI yang menuai kontrovesi ialah instruksi terkait ucapan selamat Natal. Instruksi terkait ucapan Natal itu disampaikan Sekjen PSI Raja Juli Antoni.

Kepada seluruh kadernya, Antoni menginstruksikan untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat nasrani. Instruksi itu ditujukan baik kepada kader yang merupakan umat nasrani, maupun yang merupakan umat muslim. Alasannya, mengucapkan selamat Natal adalah bagian dari interaksi sosial. Hal itu tidak berkaitan dengan persoalan peribadahan.

"Saya instruksikan kepada seluruh anggota, kader, pengurus dan Caleg PSI yang beragama muslim agar mengucapkan selamat Natal dan bersilaturahim kepada kawan-kawan beragama Kristen dari partai manapun dan dari pendukung capres siapapun. Jadikan Natal sebagai momentum mempererat ikatan solidaritas kebangsaan kita yang nampaknya mulai tercabik-cabik," kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/12).

Tak hanya Parpol lawan koalisi, rekan koalisi PSI di Pilpres 2019, PKB juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan itu. PKB menilai instruksi itu 'rentan' menjadi bumerang bagi koalisi terutama bagi capres yang diusung, yakni Joko Widodo (Jokowi).

PKB khawatir instruksi kepada para kader PSI itu mengurangi simpati masyarakat kepada Jokowi. Menurut PKB, ucapan selamat Natal merupakan hal yang kultural, sehingga tidak perlu diinstruksikan.

"Belum paham, tapi khawatir mengurangi simpatik. Hal-hal yang kultur tidak perlu dipaksa dengan instruksi," kata Wasekjen PKB Daniel Johan. (Red/Detiknews)