Kunjungi Kota Mostar, Hinca Panjaitan : Pelihara Persatuan dan Jaga Persahabatan, Demi Menjaga "PANCASILA".



Hinca Panjaitan saat kunjungi Kota Mostar di Bosnia dan Herzegovina

Metrolangkatbinjai.com

Dalam rangka menggelar Sosialisasi 4 Pilar dengan Masyarakat Indonesia, beberapa Anggota MPR RI melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di KBRI Sarajevo, Ibukota Bosnia dan Herzegovina, selama sepekan, tepatnya dimulai pada tanggal 23 November 2018 yang lalu.

Adapun Anggota MPR RI yang melakukan Kunjungan Kerja ke Sarajevo adalah H Ahmad Muzani, Farry Djemy Francis, Supratman Andi Agtas, Yandri Susanto, Mustafa Kamal, Hinca Panjaitan, Agip Munandar, Y Hendrasto Setiawan, serta Ade Abdul Rochim. Mereka juga mengunjungi Parlemen Bosnia pada 23 November 2018.

Dalam Kunjungan Kerjanya, Anggota MPR RI mengunjungi sebuah Kota Tua yang bernama "Mostar" yang mempunyai sejarah luar biasa. Mereka juga mengunjungi Jembatan Mostar, yang merupakan Jembatan Toleransi, serta menjadi saksi saat terjadi Perang di Wilayah Bosnia dan Herzegovina pada awal Tahun 1990 an, yang banyak meninggalkan kesedihan dan kerusakan.

Salah seorang Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dr Hinca Panjaitan, saat dikonfirmasi awak media, Selasa (4/12) mengatakan, pada saat terjadi perang di Wilayah Bosnia dan Herzegovina, tepatnya di sekitar Jembatan Mostar, banyak masyarakat yang kehilangan keluarga, sahabat, serta tempat tinggal. Bahkan banyak Kota yang mengalami perpecahan.

"Salah satu Kota yang mengalami kerusakan pada perang tersebut adalah Kota Mostar, yang merupakan Kota terbesar di Wilayah Herzegovina yang didiami sekitar 109.000 Warga," beber Hinca.

Sekjen DPP Partai Demokrat ini juga mengatakan, Kota Mostar memiliki cerita mengenai Jembatan Tua "Stari Most" yang merupakan simbol Bosnia, sebelum, selama dan sesudah Konflik yang terjadi pada awal Tahun 1990.

Menurut Hinca, Jembatan Stari Most merupakan Peninggalan Kekaisaran Ottoman Turki, yang dibangun pada Tahun 1556, atas Perintah Sultan Sulaiman, yang melambangkan hubungan antar antar Budaya dan Agama yang berbeda.

"Jembatan ini melintasi Sungai Neretva, menghubungkan bagian Barat Kota yang banyak didiami oleh Etnis Kroasia beragama Katolik, dengan Timur Kota yang merupakan tempat tinggal bagi Etnis Bosnia yang mayoritas Muslim," ungkapnya.

Mantan Ketua DPP-Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat ini juga mengatakan, Pada Tanggal 9 November 1993, Jembatan Mostar mengalami Nasib yang malang ketika Kawasan Bosnia dan Herzegovina dilanda Perang Etnis pada tahun 1992-1995.

"Kala itu Jembatan tersebut dihancurkan hingga roboh terjatuh ke Sungai, dimana dibawahnya merupakan simbol Multi Kulturalisme yang masih bertahan di Kawasan itu. Masyarakat Internasional menaruh perhatian atas penghancuran Jembatan Historis tersebut dan mendorong Pembangunan Jembatan baru," kata Hinca, seraya mengatakan jika batu kapur putih dari reruntuhan Jembatan Tua itu diselamatkan dari dasar Sungai.

"Batu batu baru juga digali dari tambang terdekat, dengan tujuan untuk membuat Jembatan yang semirip mungkin dengan Jembatan yang telah hancur, yang akhirnya pada 23 Juli 2004, Jembatan Mostar baru terbangun ditempat Jembatan Mostar yang lama," sambungnya.

Mantan Anggota Komite Konvensi penjaringan calon Presiden Partai Demokrat ini juga mengatakan, di Jembatan tersebut juga terdapat batu untuk mengenang peristiwa kehancuran Jembatan tersebut akibat perang antar Etnis pada Tahun 1993 yang bertuliskan "Don't Forget '93".

"Saya menyempatkan diri melihat Jembatan Ikonik Bosnia ini. Jembatan ini menjadi sangat terkenal sebagai simbol toleransi dan perdamaian. Perbedaan Etnis dan Agama di Bosnia dan Herzegovina direkatkan dan disatukan oleh Jembatan ini. Perbedaan bukan alasan bagi setiap Etnis untuk menutup diri," ucapnya.

Menurutnya, Jembatan Mostar mampu mempersatukan perbedaan, membuka Jalan persaudaraan dan menegaskan keberagaman sebagai kekayaan, bukan pemicu Konflik.

"Perang Etnis yang cukup panjang telah melahirkan kesadaran bahwa perbedaan tidak perlu di persoalkan dan dijadikan sumber Konflik. Kisah Mostar adalah Kisah kita juga. Terlebih kita bersyukur Negeri kita dikarunia oleh para leluhur sebuah semboyan, sebuah semangat kebersamaan yang terangkum dalam satu Bingkai, yaitu Bhinneka Tunggal Eka," paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Hinca, dari Tragedi Sarajevo, kita juga belajar bahwa harga perdamaian itu sangatlah mahal.

"Butuh waktu lama untuk kembali mempersatukan dan tak sedikit korban yang berjatuhan," katanya.

Diakhir pembicaraaan, Hinca berharap kepada kita semua untuk bersama sama memelihara Persatuan dan menjaga Persahabatan, demi menjaga satu nama, yaitu "PANCASILA". (Put)


Show EmoticonHide Emoticon