Ditemukan Alat Berat Dikawasan Hutan Mangrove, Diduga Akan Lakukan Perambahan

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Ditemukan Alat Berat Dikawasan Hutan Mangrove, Diduga Akan Lakukan Perambahan

yongganas ganas
Friday, December 21, 2018

Babalan-MLB.com

Dua anggota Polisi Kehutanan Langkat, Jum'at (21/12/18) siang, menghentikan satu unit escavator (Becko) yang di duga akan melakukan aksi perambahan kawasan hutan manggrove di Paluh Badak, Dusun VII Paluh Sipat. Desa Teluk Meku. Kec Babalan. Kab Langkat.

"Mereka belum masuk kekawasan hutan lindung (mangrove), namun kita hanya mengantisifasi, makanya kita hentikan alat berat ini", ucap Sagala dan Jp Sitorus anggota Polhut (Polisi Kehutanan) Kab Langkat saat ditemui di lokasi.

Herman selaku mandor Becko warga Asabri, Desa Air Hitam, Kec Gebang Kab Langkat, saat ditemui MLB. com mengatakan, Becko baru sampai tadi malam dari Kec Pangkalan Susu, dan pagi ini baru akan kerja, namun karena ada kendala (kerusakan becko) maka siang baru mulai kerja.

"Baru aja mau kerja, kami didatangi oleh orang Polhut, dan menyuruh kami untuk berhenti dan keluar dari daerah ini, kita tidak tau masalahnya, padahal kita hanya ingin memperbaiki tanggul yang berada di pinggir sungai", ucapnya kesal.

Dari pantauan wartawan di lokasi, escavator disewa oleh orang perkebunan Kelapa Sawit, dimana perkebunan ini luasnya mencapai ratusan hektare milik orang keturunan Thionghoa warga Medan yang sering disebut warga dengan panggilan Pak Ichen.

Namun saat akan ditemui, dirinya tidak berada di tempat, bahkan tidak satupun pegawai dan orang kerja Pak Ichen yang dapat ditemui untuk dikonfirmasi terkait permasalahan ini.

Namun dari isu yang berkembang, jika escavator ini akan di gunakan untuk perluasan kawasan kebun kelapa sawit, yang mana arealnya merupakan kawasan hijau atau kawasan hutan bakau (mangrove) yang dilindungi oleh Negara

Tak lama kemudian, escavator langsung ditarik (dibawa) keluar area perkebunan dengan menggunakan satu unit mobil tronton.

Atas kejadian ini, warga berharap Pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Dinas terkait lainnya untuk segera menyikapi hal ini, dan memperketat pengwasan dilapangan dan pengurusan izin pembukaan lahan, terutama di daerah pesisir yang notabene merupakan kawasan hutan mangrove.

"Kita sebagai warga disini merasa heran Pak, setau kita ini dulunya kawasan mangrove (bakau)  hingga ketepi sungai sana (Sungai Babalan) yang berhadapan langsung ke laut lepas Selat Malaka.

Namun sekarang berubah menjadi kebun kelapa sawit, kita warga disini juga heran, kenapa kawasan hutan bakau bisa menjadi kebun kelapa sawit, bukan hanya kawasan kebun milik Pak Ichen aja.

Lahan yang lain juga begitu kebanyakan milik warga keturunan China, baik sawit dan tambak udang dulunya juga merupakan kawasan hutan bakau.

Untuk itu kita sebagai warga berharap, Pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Dinas terkait lainnya untuk segera menyikapi hal ini, dan memperketat penjagaan/pengawasan hutan, karena ini menyangkut kelestarian lingkungan dan mata pencaharian kami.

Sebagai nelayan tradisional yang menggantungkan hidup sebagai nelayan di hutan bakau", ucap Syamsul dan warga lainnya yang berprofesi sebagai nelayan tradisional. (Bud)