Atribut Demokrat Dirusak, SBY : Saya Bukan Capres Dan Tidak Berkompetisi Dengan Pak Jokowi

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Atribut Demokrat Dirusak, SBY : Saya Bukan Capres Dan Tidak Berkompetisi Dengan Pak Jokowi

Syah Putra
Monday, December 17, 2018


Ketua Umum Partai Demokrat (Foto Net) 

Metrolangkatbinjai.com

Baliho dan Spanduk Partai Demokrat yang terpasang di Pekan Baru, dirusak oleh warga beberapa waktu lalu. Akibatnya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa diserang dalam perang yang sebetulnya tidak dia ikuti.

Dilansir Detiknews, Berkaitan dengan perusakan baliho, Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa diserang dalam perang yang sebetulnya tidak dia ikuti. Dia kemudian berbicara mengenai Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam Perang Dunia II setelah serangan Pearl Harbor.

Puluhan atribut Demokrat yang terpasang di Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau, dirusak dan ada pula yang dibuang pada Sabtu (15/12) dinihari. Atribut ini dipasang sebagai bentuk sambutan terhadap kedatangan SBY dalam acara pelantikan pengurus cabang Demokrat.

SBY menyatakan serangan terhadap pihaknya ini salah alamat. Presiden ke-6 RI itu menyatakan bahwa dia bukan merupakan kontestan dalam Pilpres 2019.

"Saya ini kan bukan capres. Saya tidak berkompetisi dengan Pak Jokowi. Kompetisi ini antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi. It's not my war. It's not my competition. Bukan. Tapi mengapa justru saya dan Demokrat yang diserang dan dihancurkan seperti ini? Sekali lagi, ini bukan perang saya. Kenapa saya dibeginikan?" tutur SBY dalam konferensi pers di Hotel Pangeran Pekanbaru, Sabtu lalu.

Serangan ini membuat SBY teringat pada serangan Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada Desember 1941. Sebagaimana diketahui, pasca-serangan ini, Amerika terlibat aktif dalam perang dunia II dengan melakukan serangan balasan terhadap Jepang. Empat tahun kemudian, Jepang dan koalisinya menyatakan menyerah tanpa syarat.

"Saya jadi teringat dulu pada perang dunia kedua. Sebetulnya Amerika Serikat itu tidak mau ikut perang. Yang ada memang pihak-pihak baik di Asia maupun di Eropa tidak melibatkan Amerika Serikat. Tiba-tiba diserang. Pearl Harbor di Hawaii diserang habis. Bangunlah Amerika Serikat karena diserang terus dan akhirnya segalanya menjadi sejarah seperti pada akhir dari Perang Dunia II. Saya sedang merenung, apakah saya harus melibatkan diri dalam perang yang frontal ini, padahal ini bukan perang saya," tutur SBY.

Dalam Pilpres 2019, Demokrat yang dipimpin SBY tergabung dalam koalisi pendukung capres 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun banyak pihak menilai Demokrat masih terlalu pasif dalam mendukung Prabowo dan bahkan sempat mengeluarkan arahan politik dua kaki. (Red/Detiknews)