Terkait Dugaan Kredit Fiktif BRI, Kejari Binjai Minta Bantuan BPKP Sumut



Foto Net

Binjai-Metrolangkatbinjai.com

Kejaksaan Negeri (Kejari) Binjai sudah menetapkan tiga tersangka ‎dalam perkara dugaan kredit fiktif Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pembantu Katamso Medan.

Meski demikian, penyidik Pidana Khusus Kejari Binjai belum mengetahui kerugian Negara yang diterbitkan oleh Auditor Independen.

Karenanya, Kejari Binjai akan meminta bantuan kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumut, untuk menghitung kerugian Negara dalam perkara dugaan Kredit fiktif B‎RI CP Katamso Medan.

"Berkaitan dengan BRI, kami sudah ke BPKP," jelas Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar, belum lama ini.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Binjai, Asepte Gaulle Ginting, Minggu (4/11) mengamini, Korps Adhyaksa sudah mengajukan ke BPKP untuk membantu menghitung kerugian Negara. Atas permohonan bantuan ini, BPKP Sumut langsung menunjuk tim untuk penghitungan kerugian Negara.

"Untuk BRI, timnya (BPKP) sudah ada. Jadi tinggal menunggu hasilnya. Kami sudah ke BPKP, ajukan ahli," ujarnya.

Begitupun, BPKP Sumut belum ada turun ke Kota Rambutan.

"Untuk penghitungan kerugian Negara kami ke BPKP," tandas mantan Kasi Pidsus Kejari Batubara ini.

Diketahui, ‎penyidik Pidsus Kejari Binjai menetapkan tiga tersangka dalam perkara ini. Adalah, mantan Pimpinan Cabang Pembantu BRI Katamso Medan berinisial AS, mantan Surveyor atau pejabat pelaksana yang melakukan tugas penilaian berinisial OS dan pemohon kredit berinisial DS.

Sejauh ini, OS sudah ditahan oleh penyidik yang dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai. Dalam perkara ini, DS ‎melakukan peminjaman kredit sebesar Rp 500 juta melalui tiga Perusahaannya masing-masing, UD Grace Panglima Denai, CV Finance SS dan CV ‎Deandls Mual Asri, pada 2009 lalu.

Ketiga perusahaan ini menjaminkan bangunan berupa rumah toko (ruko) dengan SHM nomor 703, SHM nomor 699 dan SHM no 698. Namun, jaminan tersebut fiktif. Sehingga kerugian negara ditaksir mencapai Rp 1,5 miliar.‎

DS pun sudah dipanggil sebanyak tiga kali, akan tetapi yang bersangkutan mangkir. Bahkan, penyidik juga sudah coba mengendus keberadaan DS dengan menggeruduk kediamannya di sekitar Stadion Teladan Medan.

Di‎duga tanpa dilakukan pengecekan lebih dulu oleh BRI Cabang Pembantu Katamso Medan, Perbankan plat merah itu mencairkan dana pinjaman kepada DS. ‎‎Usai menerima dana segar tersebut, DS macet membayar kredit.

Artinya, dana pinjaman yang harus dicicil DS tidak berjalan mulus sebagaimana semestinya. Akibatnya, ketiga jaminan yang berada di Binjai disita oleh BRI.

‎Usai disita, BRI melakukan pelelangan per rukonya sebesar Rp 275 juta pada Juli 2013. Sugianto memenangkan pelelangan tersebut. Oleh Sugianto, ruko yang dibelinya melalui pelelangan BRI itu dijual kepada Moina yang kemudian atas nama Sertifikat Hak Milik (SHM) dibaliknamakannya.

Ternyata pemilik ruko yang dibeli Sugianto itu milik Herlina Purba yang berdomisili di Jakarta. Sejumlah saksi sudah diperiksa dalam proses penyelidikan perkara tersebut. Seperti Herlina Purba, pihak yang komplain atas asetnya disita oleh BRI.

Selain itu, oknum pejabat di BRI Cabang Sisingamangaraja Medan yang membawahi BRI Cabang Pembantu Katamso Medan, juga sudah diambil keterangannya sebagai saksi. (Put)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments