Pengembalian Uang Oleh Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Alat Peraga Timbulkan Tanda Tanya



Foto Net

Binjai-Metrolangkatbinjai.com

Pengembalian uang Rp 250 juta yang dilakukan Penasehat Hukum Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Ahmad Fadli Roza, menimbulkan banyak tanya dari masyarakat. Bahkan, pemulangan kerugian Negara yang dilakukan secara mendadak ini membuat kaget Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar.

Direktur Pusat Studi Pembaharuan Hukum dan Peradilan, Muslim Muis, menduga ada donatur di belakang tersangka Dodi, sehingga pengembalian uang Negara ini terjadi.

"Diduga ada itu donaturnya, tiba-tiba dia bawa duit (Rp 250 juta). Kalau pengakuan tidak bersalah tiba-tiba bawa duit, inikan aneh. Pengakuan bukan alat, tapi kalau merasa bersalah pasti mengembalikan. Jangan-jangan itu ada donatur dari para pelaku-pelaku lain yang berusaha mengembalikan kerugian Negara supaya tidak disebut-sebut lagi," kata Muslim melalui telepon selularnya, Kamis (15/11).

Pandangan nyaris senada juga diutarakan Praktisi Hukum UMSU, Abdul Hakim. Menurut Abdul Hakim, penyidik harus lebih memburu kebenaran material dan bukti-bukti fakta. Bukan hanya sekadar pengakuan dari Dodi Asmara, selaku Direktur CV Aida Cahaya Lestari.

"Agar tak muncul keanehan, diperiksa secara seksama untuk cari kebenaran material. Terus dicari mana pernyataan Dodi yang belum. Bukan menjengkali ini dia sebagai pekerja. Adalah tugas penyidik agar terang benderang supaya tahu pola modus‎ operandi di peristiwa korupsi ini," kata dia.

"Dalam pidana ini penting, jangan-jangan Dodi asumsinya alat saja. Tapi bisa saja benar ada persekongkolan, hanya ikut-ikut atau turut membantu. Ya banyak juga masyarakat tahu ada asumsi mereka, bisa saja ada deal-deal," sambungnya.

Terkait pengakuan Dodi Asmara yang tidak menikmati, Abdul Hakim merasa heran.

"Kok bisa dia setor Rp 250 juta. Duit siapa. Proses pemeriksaan lah yang bisa tunjukkan kebenaran. Bisa saja rekayasa, biar lepas tangan," tukasnya.

Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara, sayangnya belum berhasil dimintai tanggapannya. Sebab, dia saat ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Binjai.

Begitu pun, Dodi Asmara yang merupakan warga Jalan Glugur Rimbun, Desa Sei Glugur, Pancurbatu, Deliserdang pernah menyatakan tidak tahu menahu soal pengadaan alat peraga Sekolah Dasar Tahun 2011 yang berujung dugaan korupsi ini. Pria yang membujang selama 36 tahun ini menyebutkan jika proyek dengan anggaran Rp 1,2 miliar itu dijalankan oleh Daud Nasution.

"Bukan saya yang melakukan pengadaan. Saya sebenarnya sudah tidak mau, cuma Daud Nasution yang pemborongnya pakai atas nama perusahaan saya. Dari keluar tender, Daud yang mengerjakan. Perusahaan itu atas nama saya," kata pria yang dicokok tim gabungan Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumut di Hotel Grand Darussalam, Jalan Darussalam, Medan Petisah, Minggu (22/7) lalu.


Selama diburon, Dodi mengaku tidak ada pergi kemana-mana. Hanya di sekitar Kota Medan saja. Dia juga mengaku pernah bekerja sebagai kuli bangunan hingga akhirnya bekerja jadi sopir antar jemput di Hotel Grand Darussalam Medan.

"Gak ada kemana-mana saya. Di Medan saja. Saya baru siap kerja bangunan, tadi ditelepon untuk bawa tamu ke bandara. Setelah bawa tamu itu, baru balik dari bandara (ditangkap)," ujar dia.

Dodi mengaku, CV Aida Cahaya Lestari memang atas nama dirinya. Dari proyek ini, Dodi mengaku hanya dapat komisi Rp 20 juta dari nilai pagu anggaran sebesar Rp 1,2 miliar.

‎"Selama ini saya tidak tahu berapa semua nilai kontraknya, Saya cuma dapat fee. Setelah tender di bulan 7 atau bulan 8 2010 lalu itu, fee itu saya dapat," ujar dia.

Diketahui, 11 orang yang ditetapkan tersangka oleh penyidik dilakukan secara bertahap. Tahap pertama ada tiga tersangka yang menyandung status tersangka.

Adalah, Ismail Ginting selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Binjai yang pernah menjabat Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan merangkap jabatan Sekretaris Disdik. Kemudian Bagus Bangun selaku Pejabat Pembuat Komitmen dan rekanan pelaksana pengadaan barang Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara.

Tahap kedua yang ditetapkan tersangka ada delapan. Masing-masing Ketua Panitia Pengadaan Lelang Joni Maruli, Sekretaris Arapenta Bangun dan Anggota Hendra Sihotang. Kemudian dari Panitia Penerima Hasil Lelang yakni Olivia Agustina, Erinal Nasution dan Rosmiani merupakan Aparatur Sipil Negara di Disdik, Rahmat Soleh ASN Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Ahmad Rizal ASN Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Binjai.

Dari 11 tersangka, penyidik baru melakukan penahanan terhadap Dodi Asmara yang kini sudah dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai. Pengadaan alat peraga ini dilakukan Disdik Kota Binjai yang bersumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus dengan pagu sebesar Rp 1,2 miliar. Modus korupsi yang dilakukan tersangka dengan cara menggelembungkan harga atau mark-up hingga pengadaannya fiktif.‎ (Red)


Show EmoticonHide Emoticon