Penasehat Hukum Direktur CV Aida Lestari : Klien Kami Kembalikan Uang Rp 250 Juta



Foto Net

Binjai-Metrolangkatbinjai.com


Penasehat Hukum (PH) Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara yang menjadi rekanan dalam pengadaan alat peraga Sekolah Dasar (SD) Tahun 2011 hingga berbuntut dugaan korupsi menyerahkan uang Rp 250 juta sebagai bentuk pulangkan kerugian Negara.

Menurut PH Dodi Asmara, Ahmad Fadli Roza, uang Rp 250 juta terkumpul setelah keluarga kliennya menjual sebidang tanah.

"Dengan harapan dikembalikan (kerugian Negara) bisa memperingan nanti vonisnya kalau bersalah," kata Fadli.

Selain berharap putusan majelis hakim rendah, katanya, mengembalikan setengah kerugian Negara sebesar Rp 500 juta ini sebagai bentuk itikad baik.

Berdasarkan keterangan kliennya, lanjutnya, Dodi Asmara turut menikmati hasil pengadaan tersebut.

"Nantilah disampaikan dalam persidangan," bebernya.

Disoal apakah CV Aida Cahaya Lestari merupakan perusahaan Dodi Asmara asli, atau bukan hanya atas nama saja, dirinya membenarkan hal itu.

"Pengakuan dia kepada saya, itu (CV Aida Cahaya Lestari) punya dia. Dia belajar-belajar katanya. Jadi dia mau mengembangkan sendiri perusahaannya, akhirnya bermasalah seperti ini. Itu‎ menurut pengakuan dia, di belakang itu saya tidak sampai kesana. Tapi pengakuan dia, seperti itulah," ujarnya.

PH Dodi Asmara, Ahmad Fadli, tiba di Gedung Kejari Binjai, Jalan Tengku Amir Hamzah, Binjai Utara, diterima oleh Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus).

"Mereka janji menyicil secara bertahap. Ya, ada PH Dodi Asmara datang untuk mengembalikan sebagian uang hasil pengadaan DAK. Rp 250 juta," jelas Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar.

Menurutnya, bentuk pengembalian kerugian Negara yang dilakukan PH Dodi Asmara tidak menghentikan perkara dugaan korupsi tersebut. Kata Victor, ini diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Barang bukti (Rp 250 juta) sudah disita oleh penyidik, dijadikan barang bukti di pengadilan. Kita juga kaget (kedatangan PH Dodi), tadi yang melapor Kasi Pidsus kedatangan penasehat hukum," ujarnya.

Dirinya menambahkan, adanya pemulangan kerugian negara ini adalah bentuk penyelamatan ‎uang Negara. Artinya, Kejari Binjai tidak hanya menindak.

"Sangat menyambut baik (pemulangan kerugian negara). Nanti di persidangan kami beberkan. Impact juga kepada yang lain (pulangkan kerugian negara)," tandasnya.

Diketahui, 11 orang yang ditetapkan tersangka oleh penyidik dilakukan secara bertahap. Tahap pertama ada tiga tersangka yang menyandung status tersangka, yakni Ismail Ginting selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Binjai yang pernah menjabat Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan merangkap jabatan Sekretaris Disdik.

Kemudian, Bagus Bangun selaku Pejabat Pembuat Komitmen dan rekanan pelaksana pengadaan barang Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara.

Tahap kedua yang ditetapkan tersangka ada delapan. Masing-masing Ketua Panitia Pengadaan Lelang Joni Maruli, Sekretaris Arapenta Bangun dan Anggota Hendra Sihotang. Kemudian dari Panitia Penerima Hasil Lelang yakni Olivia Agustina, Erinal Nasution dan Rosmiani merupakan Aparatur Sipil Negara di Disdik, Rahmat Soleh ASN Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Ahmad Rizal ASN Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Binjai.

Dari 11 tersangka, penyidik baru melakukan penahanan terhadap Dodi Asmara yang kini sudah dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai.

Pengadaan alat peraga ini dilakukan Disdik Kota Binjai yang bersumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus dengan pagu sebesar Rp 1,2 miliar. Modus korupsi yang dilakukan tersangka dengan cara menggelembungkan harga atau mark-up hingga pengadaannya fiktif.‎ (Red)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments