Delusi Kuasa Di Tubuh Beringin



Foto ilustrasi Net

Ditulis Oleh : Mohammad Radius Anwar (Peneliti, Gondangdia Institute)

"Pembusukan moral (korupsi) dilakukan oleh orang tertinggi jabatannya adalah perbuatan yang paling bejat"

(dikutip dari Pepatah Latin 'Corruptio optima pessima')


Cita Rasa Politisi...

Kemeja kuning dan celana panjang licin, sepatu mengkilap, wajah cerah kinclong dan rambut klimis.... keluar dari mobil sedan Royal Saloon, ada juga yang keluar dari BMW dan adalagi yang keluar dari mobil Mercy... demikianlah biasa terlihat di dalam perhelatan Partai Golkar, entah itu Rakernas, Munas ataupun ulang tahun partai. Kader Golkar satu per satu turun dari mobil mewahnya dan menghampiri gedung perhelatan tersebut.

Hal ini adalah biasa terjadi di kota-kota besar dimana partai-partai papan atas atau Partai papan tengah dalam menyelenggarakan hajatannya. Ini merupakan sebuah representasi partai yang berkuasa ataupun partai yang memiliki perolehan suara yang cukup signifikan, sehingga partai punya kepercayaan diri untuk tampil dihadapan publik.

Itulah fenomena Partai di Indonesia pasca Reformasi. Namun hal itu justru berbanding terbalik dengan agenda-agenda keberpihakan di masyarakat, dimana masyarakat sedang perihatin, sedang kesusahan dan sedang mengalami tingkat perekonomian yang memprihatinkan. Malahan para politisinya terlihat hidup bergaya hidup mewah, berbanding terbalik dengan program-program perjuangan pro-rakyat. Menjadi politisi menjadi gaya hidup mewah, fasilitas oke, dan serba wah..wajarlah tumbuh kelas menengah yang berlomba-lomba ingin menjadi politisi kemudian menjadi  anggota Dewan yang terhormat.

Hal diatas tentunya tidaklah mengapa apabila uang dan kemewahan itu diperoleh dari sebuah cara-cara yang dibenarkan, tidak hanya oleh Agama, juga oleh Hukum Negara dan dibenarkan di mata masyarakat.  Bila  tidak diperoleh dengan cara yang halal, ini menjadi sumber kecemburuan sosial dan bisa menyulut emosi sampai pada tindakan anarkis, kerusuhan dan pembakaran, seperti yang terjadi pada peristiwa tahun 1998.

Watak serakah, manipulatif, konsumtif tentunya akan melahirkan perilaku yang sangat koruptif. Inilah yang menjadi akar terbesar persoalan bangsa ini. Korupsi adalah sebuah pertaruhan moral sebuah bangsa, karena salah satu agenda reformasi bangsa ini adalah memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.

Partai politik punya andil dan tanggung jawab besar pada komitmen pemberantasan korupsi yang kita tahu itu menjadi sebuah 'Extra Ordinary Crime', yang penegakan dan pemberantasannya diperlakukan secara khusus. Efek dari komitmen melawan korupsi itu berkolerasi dengan hukum, agama, sosial, psikologis dan politik yang pada akhirnya akan merongrong kedaulatan negara akibat dihantam darurat korupsi.

Oleh karena korupsi ini adalah kejahatan yang luar biasa yang menghinggapi pikiran dan emosi publik serta mensublimasi para pengambil kebijakan (anggota Dewan, dan para pejabat pemerintah tak terkecuali para pelaku bisnis terjerumus dalam konspirasi jahat yaitu perampokan uang negara).


Setelah ditelusuri satu per satu kasus korupsi sebagian besar dilakukan secara berjamaah (bersama-sama) dalam satu tubuh atau badan atau beberapa tubuh (kelompok partai politik di Senayan). Fenomena ini sungguh luar biasa, artinya telah terjadi gempa korupsi dengan sebuah kekuatan MegaProyek dengan skala Rupiah yang sangat spektakuler (kerugian negara yang sangat dahsyat, nilai rupiahnya fantastis). Hal ini sudah menjadi Patologis (penyakit kejiwaan yang merebak di masyarakat), sudah menjadi penyakit 'Waham' bila menggunakan sabda Nabi Muhammad, yaitu penyakit 'Cinta Dunia Takut Mati' ini penyakit Ummat Islam di akhir zaman kata Rasulullah dalam sebuah hadist soheh.

Waham, penyakit kejiwaan ini searti dengan istilah Delusi didalam psikologi. Faktor yang mengakibatkan seseorang mengalami delusi itu banyak macam, namun dalam konteks ini kita batasi pada delusi kuasa dalam bidang politik.

Delusi

Delusi atau Waham adalah sebuah 'keyakinan atau cara memahami yang dipegang secara kuat namun tidak akurat dalam kenyataannya, dan terus ada, walaupun buktinya menunjukkan hal yang tidak memiliki dasar dalam kenyataannya. Dalam psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan. Sebagai penyakit, delusi berbeda dari kepercayaan yang berdasar pada informasi yang tidak lengkap atau salah, dogma, kebodohan, memori yang buruk, ilusi, salah persepsi. Delusi menyudutkan orang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Seseorang bertindak berdasarkan persepsi yang salah yang membuat kita membayangkan respon negatif dari orang lain.

Dalam bidang politik dapat kita lihat bahwa ada cara pandang orang atau partai politik yang melihat tujuan sebagai  'kekuasaan', akibatnya kesalahan melihat ini yang membuat ia bertindak melakukan penipuan atau korupsi, supaya dapat bisa meningkatkan karir politiknya. Pun ketika ia mendapatkan kekuasaan politik tertinggi, ia akan tetap hidup dalam 'penderitaan' karena waham/delusi sudah bercokol di dalam benaknya, Reza A.A Watimena (2014).

Delusi juga bisa sebagai ucapan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang tokoh atau elit partai politik, yang ia lontarkan tentang sesuatu kondisi yang tidak ada kesesuaiannya dengan kenyataan yang ada, bahkan terkesan dilebih-lebihkan dan tidak ada dasarnya.

Delusi sebagai sebuah penyimpangan dan mental perilaku yang banyak variannya, salah satunya seperti dalam dunia politik yang sarat dengan persaingan yang sangat ketat, membuat para aktor politik mudah sekali terjebak dalam pragmatisme politik. Di dalam buku Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, Dan Marketing Politik (2010), DR. Firmanzah mendefinisikan Pragmatisme politik adalah "Orientasi jangka pendek dari para aktor politik untuk dapat atau memenangkan persaingan politik. Seringkali orientasi jangka pendek ini membawa para aktor politik ke arah sikap yang lebih mementingkan tujuan untuk 'berkuasa', bukan melakukan perubahanan dan pembaharuan kebijakan publik sebagai hasil dari 'berkuasa' itu. Hal inilah yang berimplikasi ditabraknya aturan, etika, moral, janji politik dan idealogi partai yang hanya untuk mengamankan posisi politik mereka", kata Firmanzah.

Kepentingan partai dan golongan lebih diutamakan ketimbang kepentingan bangsa dan negara, inilah fenomena yang berkembang di Partai Golkar dan partai-partai lain di Indonesia. Yang penting terpilih dan yang penting partai menang. Prinsip seperti ini tentunya membuat kepentingan yang lebih luas niscaya terabaikan.

Delusi Kuasa di Tubuh Partai Golkar

Di dalam tubuh partai Beringin ada gejala yaitu delusi kuasa yang dilakukan secara 'berjamaah' atau secara kelembagaan organisasi. Melalui pragmetisme politik tadi kader partai terdelusi di dirinya , dalam kelompok, dalam faksi, dan dalam individu-individu elit partai yang melihat 'berkuasa' dan 'kekuasaan' adalah segala-galanya. Sehingga partisipasi kader di dalam politik hanyalah sebuah manifestasi dan hanya sebagai keinginan untuk 'berkuasa'. (Padahal dalam pengertian idealnya ( yang sehat), berkuasa hanyalah media antara yang menjadi sarana untuk dapat menciptakan tatanan masyarakat yang ideal, sesuai dengan nilai dan paham yang dianut oleh suatu partai politik, DR. Firmanzah, hal 46-47 (2010).

Karena dorongan delusi kuasa tadi, sehingga 'kekuasaan' di tubuh partai Beringin menjadi tujuan akhir dari mereka berpolitik, sebagai syahwat politik,dan bukan  mengantarkan partai politik pada sebuah pelayanan ,kemenagan dan disegani, malah justru mengantarkan mereka ke dalam penjara dan keterpurukan partai di dalam persepsi publik, mereka dengan delusi kuasa itu sedang menggali kuburannya dan mempersiapkan kematiannya. Tidak hanya itu
Partai politik yang terbukti menerima uang korupsi, partai itu bisa dibekukan.

Perilaku delusi kuasa ini. Bagi mereka, partai politik yang belum memengkan Pemilu akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat meraih kekuasaan. Sebaliknya, mereka yang sedang berkuasa akan mati-matian untuk mempertahankan kekuasaannya. Demi tujuan delusi kuasa tadi mereka bahkan bisa 'menggadaikan idealogi partai melalui pembangunan koalisi dengan partai lain yang jelas-jelas menganut idealogi yang berseberangan. Tidak hanya itu
partai politik bisa melakukan
Kejahatan (delusi kuasa) secara berjamaah, seperti Mega Skandal Bank Century, kejahatan yang luar biasa itu, dengan melibatkan orang-orang penting, pejabat tinggi, anggota Dewan dan pihak perbankan di Republik ini. Dengan cara memanipulasi data-data agar bisa menjadi legalitas yang sah untuk membailout Bank Century yang memang sudah tidak sehat wal'afiat itu.

Pada akhirnya dunia politik sarat dengan kepentingan dan tujuan bagaimana cara bisa berkuasa, namun di sisi lain mengabaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi rakyat. Akibat delusi kuasa, cita-cita luhur terabaikan, juga kepentingan umum dan solusi cenderung dipolitisasi sehingga pada akhirnya para politisi enggan berbuat sesuatu untuk rakyat, lambatnya kinerja pembahasan Rancangan Undang-Undang, dan tersanderanya agenda Pro-rakyat oleh kasus korupsi yang dibargaining dengan 'posisi jabatan' dipemerintahan yang berkuasa, contohnya dukungan Partai Golkar pada Penguasa dan bagi-bagi posisi jabatan yang proposional, akibatnya persoalan-persoalan rakyat tak terselesaikan. Pengalihan isu adalah cara yang paling mudah untuk mengalihkan kasus-kasus yang melilit bangsa ini, toh akhirnya penyakit di tubuh partai Beringin ini tak tersembuhkan, Pimpinan di tubuh partai itupun tidaklah cukup untuk menghalau para pecinta delusi kuasa ini bermain di ranah 'under table'. Padahal kita tahu, berpolitik itu yang sesungguhnya adalah mengambil keputusan, dan setiap keputusan ada pihak-pihak yang dirugikan. Akibat delusi kuasa yang membuat rasa takut yang berlebihan untuk mengambil resiko, sehingga partai politik yang berkuasa cenderung menghindari solusi penyelesaian yang dapat membahayakan posisi kekuasaan mereka.

Delusi kuasa di tubuh partai ini telah melahirkan apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer " akan ada permainan politik oleh orang-orang kriminal dan permainan kriminal oleh orang-orang politik". Sebuah permain patologis yang merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyakit partai politik yang melahirkan banyak kriminal politik dan politik kriminal di tubuh partai politik merupakan Sebuah kejahatan kerah putih yang terselubung dibalik kekuasaan.

Sehingga partai politik dalam hal ini partai Beringin tak punya legitimasi dimasyarakat sebagai partai yang sehat dan bermartabat, partai diisi oleh orang-orang yang hanya bernafsu mengejar kekuasaan semata, dengan cara-cara pandang delusif, memperkaya diri sendiri, menghalalkan segala cara, dan perilaku munafik yang bersembunyi dibalik ketiak penguasa.

Mungkin ada baiknya  kita sebagai masyarakat perlu mengambil sikap terhadap partai politik yang merusak sendi-sendi kehidupan, merampok uang rakyat dan menghalakan segala cara, jangan lagi dipilih atau dicoblos dikemudian hari, walaupun di dalamnya ada caleg, politisi sehat jiwanya, tokoh masyarakat, Kyai Haji, Ustad, Guru, Dosen, dan termasuk kerabat kita. Bila tidak kita tolak , kita akan menjerumuskan mereka ke dalam sistem koruptif dan budaya koruptif yang justru itu akan merugikan mereka dikemudian hari.

Dampaknya dikemudian hari bisa kita lihat kasus anggota dewan di Partai Besutannya SBY, politisi Angelina Sondak ini adalah seorang mantan Putri Indonesia, berpendidikan lulusan Australia dan anak seorang Profesor di Universitas Samratulangi Sulut, karena ia masuk ke dalam Sistem dan budaya koruptif tadi maka ia secara otomatis terpengaruh (delusi kuasa) yang pada akhirnya Angelina menjadi pengatur dan pembagi-bagi proyek, dari situ ia menerima imbalannya.

Demikianlah cara delusi kuasa membujuk dan merayu para orang-orang yang masuk ke dalam sistem dan budaya yang koruptif tadi.

Delusi kuasa sangat berbahaya bagi mental dan spiritual, penyakit ini akan merusak pikiran tidak hanya orang-orang berpendidikan tinggi, kaum cerdik pandai, tetapi juga dapat menggerus kalangan agamawan dan rohaniawan, karena penyakit waham/delusi ini penyakit kejiwaan yang tidak pandang bulu, apalagi hanya sekedar Beringin yang selama ini dikenal angker, sekali terkena delusi kuasa, Beringin akan menjadi partai-partaian (mainan) yang ditertawakan oleh anak-anak muda milenial kelak. Karena partai itu sudah menjadi sarang penyamun dan ditinggalkan.
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments