Nasib Tenun Langkat, Terlantar Tanpa Perhatian Pemkab

Kain tenun langkat bercorak khas melayu. 

Tanjung Pura - Metrolangkatbinjai.com

Kini nasibnya seperti memesan nyawa yang sudah dileher. Nasibnya seperti orang yang sedang sesak nafas ibarat orang yang tenggelam, tangan sudah menggapai-gapai, tiba-tiba datang seseorang melempar pelampung.

Sudah setahun sejak kepergian almarhum Asfan Efendi, kini usaha tenunnyapun menggeliat kembali di tahun 2018 ini, pesananpun berdatangan kembali dan saat ini sudah mulai dikerjakan lagi, 5 dari 7 unit alat tenun bukan mesinnyapun telah mulai bergerak kembali, istri Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi memesan langsung 10 helai songket dengan 10 macam motifnya.
Peralatan menenun 

Namun sayang, saat Metro Langkat berkunjung, salah seorang pengerajin anaknya sedang sakit. “Kami saat ini sedang mengerjakan pesanan dari istri pak Gubernur Edy Rahmayadi, tapi belum siap, ada pengerajin yang anaknya sedang sakit, sakit anaknya makanya tak masuk ni", ungkap Hj. Nafisah kepada Metro Langkat, Selasa (30/10).

“Ada juga pesanan penganten kemari, belum bisa saya bilang, saya lagi banyak tempahan, ada aja tiap hari. Habis betul stok, waktu ke Jakarta dan MTQ”, tambahnya lagi.

Baru-baru ini, Hj. Nasfisah dibawa oleh Dinas Koperasi Pemprovsu untuk mengikuti pameran kerajinan kebudayaan se Nusantara di stand pemprop Sumut menampilkan tenun songket khas Langkat di Jakarta Convention Center/JCC pada 25-30 September 2018 yang lalu.

“Pesanan banyak, pemasaran cukup baik, tapi itulah pengerajin kurang, akhir tahunkan manalah mungkin bisa dianggarkan untuk pelatihan menenun, kita kan pelatihan itu harus dianggarkan dulu, kita kan ngerti”, beber wanita yang menahkodai UD Datuk Lesmana saat ini.

Saat ini, pengerajin dirumahnya sedang mengerjakan pesanan dari istri Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. Namun sayang, saat Metro Langkat berkunjung, seorang pengerajin anaknya sedang sakit.

“Kami saat ini sedang mengerjakan pesanan dari istri pak Gubernur Edy Rahmayadi, tapi belum siap, ada pengerajin yang anaknya sedang sakit, sakit anaknya makanya tak masuk ni", ungkapnya.

Tenun yang dipesan istri Edy Rahmayadi sebanyak 10 helai untuk 10 macam motif. Motif yang dipesan cukup beragam, “ada biduk tuas sudah siap dikerjakan, lebah bergantung dan lambang kerajaan langkat motif naga, tepak sirih dan sampan layar, lancang kuning dengam sulor kangkung, teki-teki dengan sitampuk manggis”, sebutnya.

Beliau sempat aktif selama 35 tahun menjabat sebagai Sekretaris PKK kecamatan Tanjung Pura ini, atau dapat dikatakan sebanding dengan 20 kali Camat Tanjung Pura itu telah diganti. “Inikan Camat baru, jadi kita belum tau dipakai atau tidak lagi”, bebernya sambil tertawa.

 “Mungkin dianggapnya udah tua, belum ada SK kami keluar ini”, ungkapnya. “Kini ibuk sudah tambah sibuklah ke Sumut, karena dekat dengan Pemprov sudah masuk ke Dekranas (Baca: Dewan Kerajinan Nasional) tapi belum dilantik.

 Hubungan ke Dekranas Sumut agak dekat sekarang ini. Kabarnya bulan Maret 2019 kata pak Edy karena sibuk tapi SK nya sudah dikasih sama kami, ungkapnya lagi.

Kami sering ke Jakarta, ke Aceh. BUMN Pertamina karena kami selalu dipromosikan, kadang saya yang pergi kadang mendiang bapak, memang yang sering mempromosikan orang propinsi, tapi kalau dizaman pak Syamsul, istri pak Syamsul ibu habibi, ibuk itu baik”, kenangnya.

Harga tenunnyapun bervariasi dari 750 ribu hingga 1 juta setengah. “Motif tabur 750 ribu per helai berbahan polister dan motif penuh lebih sulit dan lama pengerjaannya harganya 900 ribu, kalau katun 1 juta dan benang sutra 1 juta setengah, paling cepat 6 hari atau paling lama 8 hari untuk pengerjaan motif tabur dan 8 atau 9 hari motif penuh”, jelasnya.

Ia juga membuka pelatihan dirumahnya bagi anak muda atau siapa saja yang berminat mengetahui dan mahir menenun songket khas melayu Langkat. Kalau hanya sekedar tau, waktunya 1 bulan, kalau mau pandai bisa 3 bulan”, jelasnya.

Dua anak lelakinya merupakan pelatih atau instruktur mendesain motif dan mengaplikasikannya dikain, jika ada kerusakan bisa dibetulin, jika benang terputus, teknik menyambung benang ada. Dan kedua anaknya juga sekarang sudah mampu untuk memproduksi alat tenun bukan mesin atau disingkat dengan ATBM.

“Jika ditempah harganya mencapai 9 juta per unit untuk alat tenun bukan mesin”, ungkap Abdul Wahab Hasfi selaku anak pertama Hj. Nafisah yang saat ini aktif menjadi pelatih tenun songket khas Langkat. “Kalau hani atau alat penggulung benang sekitar 12 juta”, ungkapnya mengakhiri. (Gus)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments