Minim Pengrajin Tak Dilirik Pemkab, Tenun Langkat Nyaris Punah

Usaha tenun Hj Nafisah yang minim pengrajin serta perhatian pihak Pemkab Langkat. (gus) 

Tanjung Pura – MetroLangkatbinjai.com

Bak mutiara yang terbenam di dasar laut, tenun songket melayu Langkat yang gemerlap, warna, corak dan berkilau emas yang mengandung makna filosofis mendalam di balik tenun yang sudah berusia tua dan turun temurun ini, kini nasibnya sungguh amat disayangkan, terancam punah disebabkan minimnya pengerajin. 

Tak ada anak muda yang berminat belajar menenun songket, ditambah minimnya dukungan Pemkab Langkat yang  agaknya belum menganggarkan dana APBDnya untuk memfasilitasi pelatihan menenun songket khas melayu Langkat bagi masyarakat Langkat yang berminat dan berpotensi mengembangkannya.

“Pengerajin hanya tiga orang yang masih aktif, kebanyakan sudah pergi merantau”, ujar Hj. Nafisah kepada Metro Langkat, Selasa (30/10) sekitar pukul 15.00 WIB dirumah beliau di desa Pekubuan Tanjung Pura Langkat.

 “Kalau laki-laki jarang yang berminat, kebanyakan perempuan, itupun dibawa suaminya”, lanjutnya lagi.

Wanita yang jauh melampaui semangat usianya ini, meski sudah berumur 73 tahun, namun ia tetap tampak bersemangat tak pupus harapan untuk meneruskan dan mengembangkan tenun khas melayu Langkat yang sudah mendarah daging baginya sejak tahun 1989. 

Meski nasib usaha tenunnya sempat terhenti, selama suaminya alm. Asfan Efendi yang telah lama meninggalkannya, menghadap sang khalik. 

“Selama meninggal bapak setahun, sejak September 2017, sempat malas, pernah gak enak perasaan, orang mesan terus, tunggulah dulu, tunggulah dulu karenakan takut kita kecewa orang nanti, bapakkan meninggal September 2017, ungkapnya melanjutkan.

Karena almarhum Asfan Efendi sudah tiada, anak pertamanya Abdul Wahab Hasfi turun gunung, yang dulunya sempat berlayar sejak lajang telah kerja kapal, dipanggil pulang untuk meneruskan usaha yang sudah dijalankan sejak turun temurun.
 
Kini usaha tenunnyapun menggeliat kembali di tahun 2018 ini, pesananpun berdatangan kembali dan saat ini sudah mulai dikerjakan lagi, 5 dari 7 unit alat tenun bukan mesinnyapun telah mulai bergerak kembali, namun masalahnya masih minim pengerajin

Tak hanya alat tenunnya, secara otomatis 1 unit alat penggulung benang atau disebut alat hani yang dimiliki Hj. Nafisah mulai berputar lagi, menggulung untaian benang polister, katun maupun benang sutra dengan penuh kesabaran dan ketekunan. 

Namun, pernah alat hani itu tenggelam air karena banjir terakhir di Tanjung Pura, tapi walaupun demikian alat hani tersebut masih bisa difungsikan hingga kini.

“Pesanan banyak, pemasaran cukup baik, tapi itulah pengerajin kurang, akhir tahunkan manalah mungkin bisa dianggarkan untuk pelatihan menenun, kita kan pelatihan itu harus dianggarkan dulu, kita kan ngerti”, jelasnya mengakhiri. (Gus)



Hj. Nafisah saat ditempat usaha tenunnya
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments