Mantan Pimcabpem BRI Katamso Medan Akan Dijemput Paksa Oleh Kejari Binjai



Foto Net

Binjai-Metrolangkatbinjai.com

Mantan Pimpinan Cabang Pembantu (Pimcabpem) Bank Rakyat Indonesia Katamso Medan berinisial AS, bakal dijemput paksa oleh Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Pidsus Kejari) Binjai.

Pasalnya, AS tidak menunjukkan sikap koperatif kepada penyidik.

"AS sudah dipanggil dua kali, tapi tidak datang dari panggilan penyidik," jelas Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Binjai, Asepte Gaulle Ginting, Minggu (28/10).

Informasi dihimpun, AS dua kali mangkir dari panggilan Penyidik, masing-masing pada Senin 15 Oktober 2018 lalu dan 22 Oktober 2018.

Pada Senin (22/10) lalu, tersangka AS dan OS dijadwalkan menjalani pemeriksaan oleh penyidik.

"Sayangnya, hanya OS yang memenuhi panggilan penyidik. Tapi OS tidak koperatif. Akibatnya, OS pun ditahan oleh penyidik berdasarkan alasan subjektif dan objektif," ujar Asepte.

 Asepte melanjutkan, AS saat ini sudah resign dari Perbankan plat merah tersebut. Informasi itu diperoleh Kasi Pidsus berdasarkan keterangan dari Pegawai BRI.

Karenanya, sambung Asepte, Kejari Binjai sudah meminta bantuan Kejaksaan Agung melalui Kejaksaan Tinggi Sumut untuk melacak keberadaan AS. Meski demikian, AS yang sudah menjadi buronan Penyidik belum ada diterbitkan surat penetapan Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Kami sudah mohon ke Kejatisu," ujar mantan Kasi Pidsus Kejari Batubara ini.

Pun demikian, seru Kasi Pidsus, AS diminta untuk bersikap koperatif untuk datang tanpa dipanggil penyidik. Tujuannya, agar AS tidak menjadi buronan Kejari Binjai.

"Kami menghimbau agar AS datang memenuhi panggilan penyidik," tandasnya.

Diketahui, ‎penyidik Pidsus Kejari Binjai menetapkan tiga tersangka dalam perkara ini. Adalah, mantan Pimpinan Cabang Pembantu BRI Katamso Medan berinisial AS, mantan Surveyor atau pejabat pelaksana yang melakukan tugas penilaian berinisial OS, dan pemohon kredit berinisial DS.

Sejauh ini, OS sudah ditahan oleh Penyidik yang dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai. Dalam perkara ini, DS ‎melakukan peminjaman kredit sebesar Rp 500 Juta melalui tiga perusahaannya masing-masing, UD Grace Panglima Denai, CV Finance SS dan CV ‎Deandls Mual Asri, pada 2009 lalu.

Ketiga perusahaan ini menjaminkan bangunan berupa Rumah Toko (Ruko) dengan SHM nomor 703, SHM nomor 699 dan SHM no 698. Namun, jaminan tersebut fiktif. Akibatnya, kerugian Negara ditaksir mencapai Rp 1,5 miliar.‎

Bahkan, DS sudah dipanggil sebanyak tiga kali, akan tetapi yang bersangkutan mangkir.

Penyidik juga sudah coba mengendus keberadaan DS dengan menggeruduk kediamannya di sekitar Stadion Teladan Medan. Di‎duga tanpa dilakukan pengecekan lebih dulu oleh BRI Cabang Pembantu Katamso Medan yang merupakan Perbankan Plat merah itu mencairkan dana pinjaman kepada DS.

‎‎Usai menerima dana segar tersebut, DS macet membayar kredit. Artinya, dana pinjaman yang harus dicicil DS tidak berjalan mulus sebagaimana semestinya. Akibatnya, ketiga jaminan yang berada di Binjai disita oleh BRI.

Usai disita, BRI melakukan pelelangan per Rukonya sebesar Rp 275 juta pada Juli 2013.

Akhirnya, seorang warga bernama Sugianto memenangkan pelelangan tersebut. Oleh Sugianto, Ruko yang dibelinya melalui pelelangan BRI itu dijual kepada Moina yang kemudian atas nama Sertifikat Hak Milik (SHM) dibaliknamakannya. Ternyata, Pemilik Ruko yang dibeli Sugianto itu milik Herlina Purba yang berdomisili di Jakarta.

Sejumlah saksi sudah diperiksa dalam proses penyelidikan perkara tersebut. Seperti Herlina Purba, pihak yang komplain atas asetnya disita oleh BRI.

Selain itu, Oknum pejabat di BRI Cabang Sisingamangaraja Medan yang membawahi BRI Cabang Pembantu Katamso Medan, juga sudah diambil keterangannya sebagai saksi. (Red)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments