Tak Ditanggapi, Warga Pasang Patok Tapal Batas Di Lahan Sengketa





Warga Pasang Patok Tapal Batas

Langkat-Metrolangkatbinjai.com

Sengketa lahan antara warga dengan Pihak Perusahaan yang ada di Sumatera Utara, hingga kini masih terjadi. Di Kabupaten Langkat, tepatnya di Desa Sei Bertung dan Desa Sumber Jaya, Kecamatan Serapit, sedikitnya 1800 Hektar lahan warga yang sudah bersertifikat di rebut paksa oleh PT Amal Tani.

Menurut warga, Sengketa lahan tersebut berawal sejak tahun 1962 silam, tepatnya saat terjadinya G 30 S/PKI, dimana ribuan hektar lahan dengan Pemilik yang Sah adalah warga keturuan Etnis Tionghoa asal Kota Medan, yakni Cong Api.

Namun, karena Pemberontakan Gerakan PKI, akhirnya Cong Api di usir dan harus rela melepas lahan tersebut, serta di serahkan kepada Letkol Djamin Ginting untuk di bagikan kepada Purnawirawan TNI.

Seiring berjalannya waktu, sambung warga sekitar, lahan tidur seluas 1800 Hektar itu di tanami dan di garap oleh warga Desa, dan telah di keluarkan Sertifikat oleh Pemkab Langkat, yakni melalui Badan Pertanahan.

Merasa cemburu, akhirnya pada tahun 1982, PT Amal Tani yang di kelola oleh Keturunan Letkol Djamin Ginting, merebut paksa dengan menggunakan tenaga Preman dan senjata tajam, hingga mengakibatkan Dua orang warga Desa meninggal Dunia.

Berbagai upaya warga sudah di lakukan untuk mengambil kembali lahan tersebut hingga mendatangi Istana Kepresidenan dan Badan Pertanahan Pusat. Namun tampaknya usaha ini hanya sia sia belaka, karena ratusan warga Desa harus menghadapi Mafia lahan yang menurut warga mempunyai aset Miliaran Rupiah.

Kali ini, demi mempertahankan mata pencaharian dan hak nya, warga di Dua Desa ini nekad memasang Patok yang merupakan Tapal Batas antara lahan PT Amal Tani dan lahan warga.

Aksi warga ini
di kawal ketat oleh TNI dari Kodim 0203 Langkat. Sebelumnya, beberapa bulan lalu, ratusan warga sempat melakukan Mediasi dengan PT Amal Tani, yang di hadiri oleh Unsur Pimpinan di Kecamatan Serapit, namun hingga kini belum juga ada penyelesaian.

"Sebagai Warga Negara Indonesia, kami hanya bisa berharap agar Bapak Presiden mau memperhatikan nasib warga kecil. Kenapa lahan yang sudah bersertifikat masih bisa di serobot oleh Pengusaha, apakah karena mereka memiliki uang banyak," ucap Warga sekitar yang mengaku bernama Brawijaya, Jumat (10/8). (Put)


Show EmoticonHide Emoticon