Sembiring Persoalkan Penangkapan Dirinya Hingga Disidang PN Langkat

Ngertiken Sembiring. (ist) 

Langkat-Metrolangkatbinjai. com

Ngertiken Sembiring (43) warga Desa Bulu Duri Kecamatan Kuala, Kab. Langkat, terdakwa kasus pengancaman mengaku kecewa dengan proses hukum yang dijalaninya saat ini.

Pasalnya, pada awal penangkapan yang dilakukan personel Poldasu sekitar Juni lalu, dinilainya tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Kepada sejumlah awak media, Ngertiken Sembiring menjelaskan, Selasa (28/8), kasus yang dialaminya saat ini berawal adanya cekcok dengan pelapor, Ngakurken alias Kunkun.

Keributan itu dipicu oleh pengerjaan rumah toko (Ruko) milik Edison Tarigan. Pengerjaan itu, kata Ngerriken, sudah berlangaung sekitar satu tahun. "Selama pengerjaan tidak pernah saya menganggu," kata Ngertiken.

Belakangan, lanjut Ngertiken, sejumlah bahan bangunan ruko itu hilang. Selanjutnya adik ipar pemilik bangunan, Dedi, langsung menghubunginya. "Adik ipar Edison nelpon saya. Ya saya bilang lapor ke Polsek atau Danramil," ucap Ngertiken.

Beberapa bulan kemudian, sambung Ngertikan, adik ipar Edison kembali menghubunginya dan memberitahukan sejumlah bahan bangunan kembali hilang. Tak lama dari kehilangan kedua ada lagi kehilangan. Setiap kali ada yang hilang saya terus yang dihubungi. Jadi saya bilang sama dia, kalau kau telponi terus terganggu aku. Udah kalau gak ke Danramil, ke Polsek kalian melapor," terangnya.

Pasca barang bangunan yang berulang kali hilang, sebut Ngertiken, akhirnya pemilik bangunan menempatkan anggota OKP untuk menjaga bangunan tersebut. "Penjagaan yang dilakukan menggunakan parang dan pisau sambil minum-minum. Tingkah laku para penjagaan itu membuat resah warga dan sudah melapor ke Kades," bebernya.

Karena tidak sabar, akhirnya Ngertiken mendatangi para penjaga bangunan tersebut. "Saya bilang sama para penajagaan itu, jangan pakai atribut OKP dan membawa parang, karena masyarakat takut," ungkap Ngertiken.

"Ketika saya datangi mereka hanya bilang tidak ngapa-ngapain, katanya cuma pekerja bangunan. Jadi saya bilang, kalau kelen kerja bangunan ngapain bawa pisau? Kalau mau cari makan gak masalah, tapi jangan pakai atribut," terang Ngertiken mengulang percakapannya dengan para penjaga bangunan itu.

Ngertiken menambahkan, Puncak permasalahan terjadi pada 29 Januari 2018 Saat itu mobilnya disiram air oleh anggota salah satu ormas kepemudaan yang menjaga bangunan tersebut. "Akibat kejadian ini timbulah cekcok dan akhirnya saya dilaporkan dengan kasus pengancaman, pemerasan, dan undang-undang darurat terkait senjata tajam," imbuhnya.

Dari proses hukum yang dijalaninya,  Ngertiken masih belum terima dengan penangkapan yang dilakukan personel Poldasu. "Saya tidak pernah dipanggil untuk dimintai keterangan. Petugas langsung turun dan menangkap saya saat berada di rumah," ucapnya.

Akibat penangkapan personil Poldasu kepada saya tanpa melalui proses ngertiken sembiring merasa di cemarkan nama baiknya di tengah-tengah masyarakat Bulu duri

Sambung ngertiken sembiring penangkapan ini saya nilai cacat hukum,tanpa proses pemanggilan 1,2 dan3, Karena tanpa permisi personel Polda masuk ke dalam rumah dan melakukan pengeledahan,macam proses penangkapan teroris dan Saya tidak ada mengancam, jadi aku tak percaya dengan hukum, hukum hanya punya penguasa bukan rakyat kecil," tegasnya dengan nada kecewa saat menunggu panggilan sidang ke 9 di Pengadilan Negeri Stabat. (red)



Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments