Pelajar SMK YPII Tanjungpura Meningal Tak Wajar, Ortu Lapor P2TP2A

Saniah yang kehilangan anak kandungnya saat mendatangi kantor P2TP2A Kab Langkat di Stabat.(yong)



Stabat-Metrolangkatbinjai.com

Saniah (38) warga Dusun Paloh Merbo, Desa Pematang Cenggal, Kecamatan Tanjupura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tak terima atas kematian Putranya Soni Bima Ardani (15) pelajar Kelas 1 SMK di Yayasan Perguruan Islam Indonesia (YPII)di Tanjungpura

Pasalnya menurut Sania,kematian Saniah Bima Ardani akibat adanya kelalaian dari pihak sekolah tempat anaknya menimba ilmu.  Dimana Pihak sekolah telah membiarkan Putranya kesakitan tanpa berupaya membawanya kerumah sakit

Korban baru dibawa kerumah sakit setelah Sania bersama keluarga datang kesekolah. Saat Disekolah Sania melihat anaknya tergeletak diatas meja dengan kondisi tak sadarkan diri dan mulut mengeluarkan cairan buih

Hanya beberapa menit ditangani dokter rumah sakit umum (RSU)Tanjungpura, anak ketiga dari empat bersaudara itupun menghembuskan napas terahirnya.

Tiga hari pasca anaknya dikebumikan, Saniah mendapat kabar kalau putranya berkelahi dengan anak diluar sekolah dilingkungan Sekolah. Hal Inilah yang membuat Sania tak habis pikir kenapa pihak sekolah bisa lalai melakukan pengawasan

Oleh sebab itu ditemani suaminya Arbanik (40), Saniah mendatangi Kantor P2TP2A Kab Langkat di Stabat, Kamis (16/8) mohon diberikan pendampingan atas kasus ini.
Kepada kordinator p2tp2a Saniah berharap ada penjelasan dan titik terang atas kematian anaknya yang diduga karena sesuatu hal tersebut.

Kami disarankan mendatangi kantor ini oleh Polisi,makanya kami kemari. “ Ujar Saniah. Menurut ibu ini, saat dihubungi pihak sekolah, mereka menanyakan apakah anak saya ada mengidap penyakit ayan (epelepsi) saya jelaskan tidak ada keluarga kami satupun mengidap penyakit tersebut.

Lalu, saat dirumah sakit saya sempat mencium bau tidak sedap dari mulut anak saya, waktu itu saya tidak terpikir macam-macam. Namun, setelah anak saya dikebumikan barulah saya mendapat cerita kalau anak saya sebenarnya ada berkelahi disekolah oleh anak luar sekolah dilingkungan sekolah.

Jadi saya tidak tau apakah anak saya dipukul atau diracun hingga mengalami hal seperti itu, sebab saat pergi kesekolah pagi itu kondisi anak saya baik-baik saja, lalu selang beberapa jam kemudian saya mendapat kabar dari sekolah kalau anak saya sakit dan diminta untuk dibawa kerumah sakit.   

Yang saya sesalkan juga kenapa pihak sekolah tidak langsung mengambil langkah membawa anak saya kerumah sakit terdekat yang jaraknya hanya beberapa menit saja ditempuh, malah menunggu saya datang yang rumah saya jauh didalam pelosok.

Kalau saja cepat dibawa kerumah sakit mungkin nyawa anak saya bisa diselamatkan. Selain itu, saat membawa anak saya kerumah sakit, saya mengunakan becak, padahal disekolah ada mobil, jadi kayaknya memang ngak ada harganya nyawa anak saya.” Ketus Saniah berlinang air mata.

Saya menitipkan anak saya kesekolah itu dengan harapan pihak sekolah memperlakukan anak saya sama seperti anak-anak lainya, dan saya berharap tidak ada kejadian seperti ini lagi disekolah, memang kalau cerita sudah ajalnya, memang dimanapun bisa seseorang itu mati, tapi proses kematianya itu seperti apa, kalau karena kelalaian sepertinya sangat menyakitkan.” Ujar Saniah seraya mengaku iklas atas kematian putranya.

Semetara Kordinator P2TP2A Kab Langkat Drs Ernis Saprin yang menerima laporan warga ini berjanji akan turun kelapangan mencari fakta yang sebenarnya. “ Kita akan lakukan investasi kebawah, kita akan mengumpulkan bukti-bukti lapangan,setelah itu barulah kita mengetahui langkah apa yang akan diambil artinya kalau ada pidananya maka akan kita serahkan ke hukum.” Tegas Ernis.(yong)   
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments