Kisah Pilu Gadis Sei Lepan : Ditingal Ibu, Dicabuli Ayah Kandung,Abang Kandung dan Paman


Korban Sa saat diantar kerumah singgah

Langkat-Metrolangkatbinjai.com

Kabar dicabulinya seorang gadis remaja berusia (13) tahun sebut saja Sa,  asal Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat membuat mata kita terbelalak. Pasalnya, gadis malang tersebut disetubuhi secara bergantian oleh orang yang seharusnya menjaga, merawat dan melindunginya.

Ya,.Ayah kandung, abang kandung dan paman kandung gadis yang kini masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) dengan buasnya " melahap" tubuh gadis molek ini tanpa prikemanusian. 
Dirumah ini korban berulang kali dicabuli

Meski korban berulang kali berontak dan menolak perbuatan biadab tersebut, tapi apadaya korban tak berdaya ketika orang orang ini mengancamnya dengan kata kata yang menciutkan nyali. 

Seperti abang kandungnya yang pertama kali merusak masa depannya mengancam akan memperlakukan korban secara kasar bila saja berani membuka mulut dan menceritakan apa yang dilakukannya. 

Takut akan intimidasi dari saudara tuanya itu, korban hanya bisa menahan perih dan ketakutan seorang diri. Ahirnya, setiap kali ada kesempatan dan ingin berhubungan, sang abang bebas melakukanya. 

Hanya tuhan yang tau betapa hancurnya perasaan korban ketika itu. Apalagi ia melihat kedua adik perempuanya yang berusia 10 dan 4 tahun juga dicabuli oleh sang abang kandung. 

Entah berapa kali perbuatan biadab itu dilakukan abang kandungnya. Korban sendiri malas mengingatnya karena terlalu pedih rasanya. 

Derita gadis kecil yang telah layu ini tak serta merta berahir. Belakangan atau sekitar satu tahun lalu, perbuatan biadab itu dilakukan pula oleh sang ayah. 

Pria yang keseharianya bekerja serabutan ini dengan kejinya menarik tubuh korban kedalam kamar tidur dan langsung mencabulinya. Puas dengan aksi pertama, ayah yang tak patut jadi panutan inipun mengancam korban untuk tidak menceritakan apa yang telah dilakukan kepada siapapun khususnya sang istri. 

Sejak kejadian yang memilukan tersebut, aksi sang ayah makin keranjingan. Bukanya menyadari kesilapan yang dilakukan, ia malah semakin sering menodai darah dagingnya tersebut.  

Parahnya, ketika ia ingin menyalurkan birahi purbawinya, tak perduli korban sedang berada disekolah. Ia akan menjemput dengan dalih ada urusan keluarga. Begitu nafsu sexnya tersalurkan, maka korban kembali diantarkan kesekolah. 

Korban yang terus dijadikan pelampiasan nafsu abang dan ayah kandungnya ini, kian menderita setelah pamannya juga melakukan hal yang sama.  Disuatu hari ketika dirumah sedang sepi sang paman datang dan langsung menyetubuhinya. 

Usai menodai dirinya, sang paman langsung menyuruh korban bersih bersih dikamar mandi.  Tak lupa juga sipaman berpesan untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada siapapun. 

Lengkaplah sudah derita gadis malang empat bersaudara ini. Dalam satu minggu ia akan melayani orang-orang tak bermoral ini secara bergantian. Sering kali korban mengatakan kepada ayah atau abang dan juga pamannya kalau yang mereka cabuli adalah dagingnya sendiri

Pun begitu, tetap saja ketiga laki-laki tak bermoral tersebut dengan bangganya menyetubuhi korban. Karena tak lagi tahan diperlakukan layaknya budak sex, ahirnya korban buka mulut dan menceritakan penderitanya kepada warga. 

Selain itu, korban juga mengadukan apa yang dialami kepada sang ibu. Tak tahan dengan penderitaan putrinya,ibu tiri korban yang saat ini tengah hamil langsung melaporkan kejadian itu kepada kepala dusun. 

Persoalan inipun terus bergulir hingga korban didampingi kepala Dusun melaporkan ke P2TP2A Kab Langkat. 

Derita korban sendiri berawal dari perpisahan orang tuanya. Entah apa yang menjadi penyebabnya, yang pasti ibu kandung dan sang ayah bercerai.  Sejak perceraian yang terjadi dua tahun lalu itu, korban tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu.  

Bahkan korban tak mengetahui dimana keberadaan siibu sampai sekarang. Yang ia ketahui sang ibu telah menikah lagi dengan laki-laki lain. Begitu juga dengan sang ayah telah juga berumah tangga dengan seorang janda dengan dua orang anak. 

Dari sinilah petaka itu bermula. Korban yang sebelumnya sempat tinggal dan bersekolah diMedan harus pindah sekolah. 

Korban harus mengikuti kemanapun sang ayah pergi karena tak tau lagi harus kemana. Bersama abang kandung dan dua saudara tirinya, merekapun tinggal serumah.(yong) 


Show EmoticonHide Emoticon