logo

Kasus Pembunuhan J Purba Kembali Disidangkan Di PN Binjai




Terdakwa Rosmalinda (Kaos Biru)

Binjai-Metrolangkatbinjai.com

Kasus pembunuhan J Purba (53) warga Jalan Teratai, Lingkungan VII, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Binjai Utara, kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Binjai, Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Barat, Kamis (30/8).

Sidang dengan Agenda mendengarkan keterangan saksi terdakwa Rosmalinda terhadap terdakwa Hardi Sihaloho itu dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi, sekaligus Ketua PN Binjai.

Pada persidangan tersebut, saksi terdakwa Rosmalinda yang dicecar pertanyaan oleh Penasehat Hukum terdakwa Hardi Sihaloho, Nasib Maringan Silaban, mengungkapkan kalau dirinya dipaksa Polisi untuk mengakui pembunuhan tersebut.

Dijelaskan Rosmalinda, ketika dirinya diamankan pihak kepolisian, dia dibawa ke jalan tol dan diturunkan di sebuah perkebunan kelapa sawit.

"Saya tidak tahu persis lokasinya dimana, yang saya lihat hanya kebun sawit," kata Rosmalinda.

Setelah itu, lanjut Rosmalinda, sejumlah polisi menutup wajah saya dengan plastik dan memukul kepala saya.

"Pukulan itu sangat sakit dan saya langsung menangis. Ketika penutup kepala saya dibuka, saya dipaksa menelan batang keladi. Perbuatan itu mereka lakukan sambil bertanya terkait pembunuh suami saya. Waktu itu saya tetap bilang tidak melakukannya," ungkap Rosmalinda.

Selain itu, kata Rosmalinda, sejumlah Polisi yang menangkapnya juga memaksa dirinya meminum air yang baunya seperti air seni.

"Saya sangat takut dan saat itu dua buah pistol juga diledakkan dekat kedua kaki saya. Selepas itu saya dibawa ke Polres Binjai," ungkapnya.

Di Polres Binjai, sebut Rosmalinda, keluarga dari korban yang suaminya bertugas di Polres Binjai juga meminta dirinya untuk mengakui pembunuhan itu. Terkait keterlibatan Hardi Sihaloho, Rosmalinda juga tidak mengetahuinya. Sebab kata Rosmalinda, Hardi Sihaloho hanya datang untuk mengantar tabung gas.

Sementara, terdakwa Hardi Sihaloho mengaku datang pada hari Jumat 23 Maret untuk memgambil tabung gas kosong ke rumah korban.

"Waktu itu saya tanya, mau diantar sekarang apa besok. Tapi Rosmalinda bilang dia mau pergi, jadi gas diantar pada Sabtu (24/3)," ungkap Hardi.

Usai persidangan, Penasehat Hukum Hardi Sihaloho, Nasib Maringan Silaban, mengakui terdapat kejanggalan dalam perkara tersebut.

"Dari kesaksian penyidik, dikatakan terdakwa Hardi datang pada Rabu (21/3) siang untuk mengantar tabung gas. Pada hari itu juga, penyidik mengatakan Hardi kembali ke rumah korban sekitar pukul 21:30. Karena menurut penyidik, Hardi datang berdasarkan permintaan terdakwa Rosmalinda untuk memberi pelajaran kepada suaminya," kata Maringan.

Namun, lanjut Maringan, kesaksian penyidik berbanding terbalik dengan pengakuan terdakwa.

"Terdakwa mengakui datang pada Jumat (23/3) untuk mengambil tabung gas kosong. Bahkan, terdakwa Rosmalinda juga tidak pernah meminta terdakwa Hardi untuk memberi pelajaran terhadap suaminya," papar Maringan.

"Jadi kami menilai, terdakwa Hardi bukan pelaku pembunuhan. Tetapi ada pelaku lain, terlebih kesaksian Rosmalinda mengatakan dirinya dipaksa untuk mengakui. Begitu juga terdakwa Hardi, dia dipaksa dengan berbagai penganiayaan untuk mengakui pembunuhan tersebut," tegas Maringan. (Put)

Tags

advertisement centil

Metrolangkatbinjai.com - merupakan media informasi terupdate seputaran kabupaten langkat, dan selalu memberikan informasi-informasi yang menarik setiap harinya.