Soal Kematian Warga, Kadiskes Binjai Ajak Anggota DPRD Binjai Debat Saat RDP



 
RDP antraa DPRD dan Kadiskes Binjai
BINJAI - Metrolangkatbinjai.com

Suasana panas berlangsung saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi B DPRD Kota Binjai dengan Kadis Kesehatan Binjai, di ruang rapat DPRD Kota Binjai, Jumat (18/07) pagi. Bahkan, Ketua Komisi B DPRD Kota Bijai, Suharjo terpaksa harus menunda sidang menunggu kedatangan Sekdako Binjai, Mahfullah Daulay. 

“ Sidang kita skor menunggu kehadiran Sekdako, “ kata Suharjo. Hal ini berawal saat muncul interupsi dari Anggota Komisi B DPRD Binjai Jonita Agina Bangun yang meminta pimpinan sidang untuk melepon Ketua DPRD Binjai Zainudin Purba agar bisa menghadirkan Sekdako Binjai. 

Hal ini dirasa penting guna membahas pelayanan buruk di Puskesmas Rawat Inap AH Hasan Payaroba Kecamatan Binjai Barat.

“ Saya mohon kepada Ketua Komisi B DPRD Binjai untuk menghadirkan Sekdako Binjai untuk RDP selanjutnya. Jika tidak saya akan keluar dari ruangan ini  ,” kata Jonita Agina Bangun.

Permintaan Jonita Agina Bangun ini pun dipenuhi oleh Ketua Komisi B DPRD Binjai dengan memerintahkan staff DPRD Binjai untuk menghubungi Ketua DPRD Binjai. 

Namun Ketua DPRD Binjai belum bisa dihubungi sehingga RDP antara Komisi B DPRD Binjai dengan pihak IDI, Kapus rawat inap AH Hasan Payaroba dan Kadis Kesehatan Binjai di skor menungggu kehadiran Sekdako Binjai.

Dalam rapat dengar pendapat tersebut, Jonita Agina Bangun mempertanyakan apakah seorang dokter bisa keluarkan surat rujukan tanpa memeriksa pasien. Jonita juga mempertanyakan kenapa saat ia bersama Atan Sitepu dan Njoreken Pelawi datang tidak satupun orang berada di puskesmas AH Hasan Payaroba.

Selain itu Jonita juga mempertanyakan soal penyedian obat-obatan di puskesmas yang sangat memberatkan warga miskn. Padahal DPRD Binjai sudah anggarkan obat-obatan gratis untuk masyarakat Binjai.

 “DPRD Binjai minta kepada walikota Binjai dan IDI untuk dilakukan tindakan tegas kepada Kadis Kesehatan dan Kapus tersebut yang telah mengakibatkan nyawa pasien melayang ,” tegas Jonita Agina Bangun.

Sementara itu Njoreken Pelawi juga mempertanyakan soal ambulance Puskesmas yang tidak berfungsi. “ Mengapa pasien dibiarkan naik becak ke rumah sakit kesrem. Kami sudah anggarkan ambulance untuk masyarakat Binjai . 

Jangan karena anda mau ngundur diri (red:kepala puskesmas) masalah ini jadi selesai ,” kata Njoreken Pelawi.

Kepala puskesmas rawat inap AH Hasan Payaroba Binjai Barat pada rapat dengar pendapat itu lebih banyak membela diri. “ Saat itu saya berada di Dinkes Binjai dan soal anak terlantar itu tidak benar, “ kilahnya.

Sedangkan pasien yang meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit kesrem itu bukan tidak dilayani akan tetapi saat bersamaan dua petugasnya sedang menjahit pasien di ruang IGD.

“ Dan saat itu kami berdayakan satu petugas poli untuk menangi pasien yang meninggal itu. Ada diagnosanya pasien itu sudah sakit 6 bulan dengan keluhan sesak napas dan batuk ,” terang Kapus rawat inap AH Hasan Payaroba.

Mendengar penjelasan dari Kapus Payaroba tersebut, anggota DPRD Binjai Njoreken Pelawi langsung berang dan berkata saya tidak terima semua alasan itu. “ Bagus ibu mengaku salah  dan minta kesempatan kepada DPRD ,” kata Njoreken Pelawi.

Sementara Kadis Kesehatan Binjai, dr Mahaniari Manalu justru membela Kapus Payaroba di Kecamatan Binjai Barat tersebut. “ Saat kejadian itu saya sudah laporkan semua ke inspektorat Binjai dan ternyata dokter jaga yang disitu merupakan dokter dari pusat. Nama  dokter jaga yang tidak berada di tempat itu Erikson Sinaga  ,” jelas Kadis Kesehatan selaku kordinator seluruh Puskesmas di Binjai.

Ketua Komisi B DPRD Binjai ustad Suharjo mengatakan bahwa prajurit yang salah komandan yang harus tanggung jawab. (bay)
                                  


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments