PT.Sri Timur Brandan Barat Dituding Kuasai Lahan Masyarakat



BRANDAN – Metrolangkat.com

Pencaplokan lahan masyarakat, ternyata tidak hanya terjadi di PT.Amal Tani yang saat ini masih dalam proses persiapan pengukuran ulang setelah dilakukan ancaman menduduki lahan perkebunan oleh ratusan petani di Dea Sebertung, Kab.Langkat.

Namun, perusahaan perkebunan PT.Sri Timur (Rapala Group), yang berlokasi di Desa sei Tualang, Kec.Brandan Barat (dulu Kec.Bababalan-Red), juga disinyalir telah menguasai lahan masyarakat secara sepihak.

Hal ini diutarakan oleh Khawalid Daulay SH (49), salah seorang ahli waris kandung almarhum Ramli Daulay, pensiunan mantan TNI AD yang beralamat di Jln.Perjuangan, No.52, Kota Madya Binjai, kepada Metro Langkat, Senin (16/7).

Menurut Khawalid yang saat ini berdomisili di Dusun B, Batuphat Timur Lhokseumawe, Aceh, dirinya memang mengetahui jika orang tuanya,alm.Ramli Daulay, memiliki tanah seluas lebih kurang 2 hektar di Desa Sei Tualang yang kini sudah menjadi wilayah Kecamatan Brandan Barat.

Namun, dirinya baru mendengar kalau tanah milik orang tuanya tersebut telah dikuasai perusahaan perkebunan swasta PT.Sri Timur.

“Aku memang sudah mendengar kalau tanah orang tua saya itu sudah dikuasai PT.Sri Timur dan sudah ditanami kelapa sawit. Saya sudah melihat ke lokasi dimana letak tanah almarhum orang tua saya itu. Tapi saat itu saya tidak memiliki bukti-bukti apapun,” ujarnya mengawali kisahnya.

Ternyata, tanpa disengaja, saat dirinya datang ke rumah Kakaknya, Yunainah (50), dan membongkar berbagai dokumen peninggalan alarhum, ternyata, alas hak bukti kepemilikan tanah seluas lebih kurag 2 hektar itu berupa Surat Keterangan Ganti Rugi jual beli antara almarhum Ramli Daulay dengan Tugiman yang saat itu berumur 74 tahun, warga Desa Sei Tualang.

Dalam Surat Ganti Rugi tertanggal 15 Mei 1979 tersebut dijelaskan bahwa pihak kedua (Tugiman) telah menyerahkan sebidang tanah berikut tanaman yang terdapat di atasnya kepada pihak kedua (Ramli Daulay) dengan secara ganti rugi sebesar Rp100.000, seluas 2 hektar, terletak di Desa Sei Tualang, Kec.Babalan (kini Berandan Barat-Red), berbatasan sebelah Utara tanah milik Adelin seluas 95 meter, sebelah Timur tanah milik Sarwono 95 meter, sebelah Selatan dengan M.Arief seluas 95 meter dan sebelah Barat dengan tanah milik Jasmin 95 meter.

Seiring berjalannya waktu, ayah saya, Ramli Daulay, meninggal tahun 1986.

“Saat itu saya masih kecil. Jadi saya kurang mengerti dengan semua harta miik orang tua saya itu. Tapi, anehnya, begitu saya mendapatkan alas hak kepemilikan lahan seluas 2 hektar itu dan menanyakan kembali ke pihak PT.Sri Timur, kok bisanya pihak perusahaan mengatakan bahwa orang tua saya telah menjual kepada mereka pada tahun 1988. Padahal Bapak saya itu meninggal tahun 1986. Dari mana datangnya kok tandatangan alm.bisa ada di tahun 1998 sebagaimana bukti perjanjian jual beli yang diserahkan pihak perusahaan,” jelas Khawalid Daulay penuh nada keheranan.

Setelah diamati, ternyata tandatangan alm.Ramli Daulay diduga dipalsukan karena sangat berbeda dengan tandatangan sesuai dalam Surat Ganti Rugi yang asli.  

Surat Ganti Rugi yang menyertakan tandatangan Camat Babalan saat itu , Matsyah BA, tandatangan Dan Ramil 13 P.Brandan, tandatangan Kapolsek P.Brandan (tanpa nama dan tanpa stempel), tandatangan Ka.Kejaksaan  P.Brandan (tanpa nama) dan tandatangan Kades Sei Tualang, Tunut.

“Selain keanehan nama-nama serta stempel pihak yang diklaim PT.Sri Tani sebagai pihak yang mengetahui terjadi ganti rugi lahan seluas 2 hektar senilai Rp1.762.500, itu,keanehan lain surat tersebut juga tanpa menyertakan tandatangan Asisten Perkebunan Sri Timur dan tanpa ada tandatangan Direksi PT.Sri Timur,” jelas Khawalid lagi.

Sementara itu, pihak PT.Sri Timur, melalui Staf Administrasi bermarga Manik, saat dikonfirmasi Metro Langkat terkait tudingan telah menguasai lahan masyarakat bernama alm.Ramli Daulay, staf perusahaan perkebunan itu membenarkannya.

“Kenapa pula Pak Khawalid itu menghubungi wartawan dalam masalah ini. Sebenarnya perkataan saya ini bukan jawaban resmi pihak perusahaan, karena saya hanya staf administrasi. Tapi sayamemang ada menyampaikan kepada Pak Khawalid, jika memang ada bukti-bukti kepemilkan lahan itu, silahkan tempuh lewat jalur hukum. Sebagai perusahaan, kita memiliki dokumen resmi kepemilikan lahan sesuai HGU yang diterbitkan BPN. Kenapa pula Pak Khawalid kok bawa-bawa wartawan. Apa kaitannya Bapak dengan Khawalid ini,” tanya Manik.

Setelah dijelaskan bahwa Khawalid yang merupakan salah satu ahli waris kandung alm.Ramli Daulay, merupakan nara sumber Metro Langkat, Manik tetap tidak mampu menutupi keheranannya.

“Kalau kita dituding melakukan pemalsuan surat menyurat atau dituduh menyerobot lahan ayahnya, ya silahkan aja menempuh jalur hukum. Itu juga sudah disampaikan kepada Khawalid. Sebenarnya masalah ini yang berkompeten memberikan keterangan Manager bermarga Sianipar,” ujarnya sembari akan meminta ijim dulu kepada pihak bersangkutan apakah dirinya mengijinkan nomor ponselnya diberikan kepada Metro Langkat untuk konfirmasi.

Namun, hingga berita ini diterbitkan ke Metro Langkat, baik media online dan media cetak, Manik tidak kunjung menghubungi koran ini untuk kejelasan perijinan Sianipar untuk konfirmasi.

Pihak ahli waris Ramli Daulay, sepakat akan melaporkan upaya pemalsuan tandatangan almarhum ayahnya sehingga bisa menguasai lahan seluas 2 hektar tersebut selama bertahun-tahun.(Rudi)





Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments