Preman, Pemuda Pancasila, Tukang Becak (Bag-1)




Oleh : H Affan Bey Hutasuhut

           Wartawan Majalah Tempo (1987-1994)

 
Kader Pemuda Pancasila Pantai Gemi saat mengabarkan kepada tukang gali kubur Azhari akan diberangkatkan umroh pada bulan Ramadan ini

Geliat menjelang Pemilihan Pilpres ataupun Pilkada selalu diwarna beragam pendapat khalayak ramai untuk mendukung calon pujaan hatinya. Ada komentar yang sejuk, ada yang datar-datar saja, tapi ada juga kelompok garis keras yang super nyinyir .  Dan sekumpulan orang super nyinyir inilah yang selalu berteriak dengan komentar yang cenderung memvonis mati lawannya tanpa rasa malu dengan berbagai tuduhan yang diambil dari keranjang sampah.

Isu yang jahatnya sama dengan kutu busuk penghisap itu kini tengah berkeliaran di sana sini. Yakni, Calon Bupati Langkat Terbit Rencana PA, SE, adalah seorang preman. Dan karenanya tak pantas dipilih untuk menjadi pemimpin Langkat. Isu ini bertiup kencanag dengan harapan Ketua Gokar Langkat ini bisa kalah dengan isu murahan ini.

Saya tak tahu apa dasarnya tuduhan tersebut. Tapi ada yang bilang, Ketua Cana ini kan Ketua MPC Pemuda Pancasila (PP)  Langkat, organisasi yang dinilai sering membuat onar di tengah masyarakat. “Masak orang PP mau jadi bupati, mau jadi apa nanti Langkat ini,” ucap seorang warga yang sudah termakan ‘ubi racun’ ini.

Saya sedih mendengar kata-kata ini. Apa iya semua orang PP ini terjebak menjadi preman. Kalau begitu saya ini termasuk preman juga dong. Saya ini pernah menjadi Pengurus di Majelis Pimpinan Wilayah (MPW)  Pemuda Pancasila Sumut sebagai Ketua Bidang Infokom.

Selama dua periode menjadi pengurus PP Wilayah Sumut, rasanya gak pernah memeras orang tuh.  Gak pernah nikam orang,  bahkan parkir aja aku bayar kok.  Sebagai orang yang pernah menjadi wartawan TEMPO, jangankan memeras, diberi uang oleh pejabat yang jadi  narasumber juga ditolak

Bukan perkara yang gampang unhtuk menolak pemberian sesorang. Ketika saya di awal tahun 90-an, pernah menolak pemberian uang dari seorang Kakanwil Bea Cukai di Tanjung Balai Karimun.  Saya tak tahu dia sakit akibat penolakan itu. Sebab pada berikutnya saya kembali mewawancarainya di kantornya diMeral Karimun Kepri.

Kebetulan saya waktu itu hendak merokok tapi tak ada mancis. Mau pinjam mancis bos segan, sebab waktu itu dia dikelilingi para pejabatnya. Ketika rokok saya pegangi saja selama lima menit, Kakanwil mengatakan,” abang mau merokok. Saya banyak mancis ini, seraya membuka laci meja kerjanya. Kalau saya kasi mancis ini nanti abang tolak lagi,” kata sang Kanwil.  Mendengar ini saya terkejut dan jantung seolah ditusuk sembilu.

 Kabar ini perlu saya buka, supaya jangan ada anggapan bahwa semua kader PP ini rakus duit, rakus, harta, tukang meras. Kesempatan saya sebagai kader PP banyak sekali untuk mendapatkan uang banyak. Tapi begitulah adanya.

Sikap uni juga dilakukan oleh banyak pengurus lainnya. Kalau azan sudah terdengar berkumandang, kami para pengurus bergatian melaksanakan salat yang ada di Kantor MPW PP Sumut di Jalan Thamrin Medan

Kami yang berada di pengurus Wilayah seluruhnya sudah sarjana, terutama di jabatan strategis. Mengapa hal ini dilakukan, sebab dengan adanya kebijakan Back to zero-kembali ke titik awal, sekitar tahun 2013 lalu, seluruh unsur pengurus baik di Wilayah maupun di MPC, secara perlahan diganti dengan orang berwawasan intelektual dengan tujuan untuk mendorong percepatan perubahan karaktel mental para kader dilapis bawah  yang masih menonjolkan kekerasan di kader bawah menjadi lebib berwasasan peduli sosial.

Kami pengurus wilayah dan MPC, termasuk Ketua Cana di Langkat, sudah berupaya keras merubah pola pikir kader di lapis bawah ini. Sebab sasaran dari Back to Zero ini antara lain upaya untuk  merubah kader PP yang selama dianggap angker dengan kekerasannya.  Tapi ternyata tak mudah merubah orang seketika dari orang jalanan tiba-tiba menjadi santri.

Cerita munculnya karakter kekerasan di kalangan warga PP tak bisa dilepaskan dalam sejarah terbentuknya PP ini tahun 1959.(bersambung)



Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments