Preman, Pemuda Pancasila, Tukang Becak (bag-3)




Oleh : H Affan Bey Hutasuhut/Wartawan Majalah TEMPO (1987/1994)

Ulama besar Mekkah Syekh Sayyid Ahmad Ar-Ruqaimi memberikan nasihat seraya membelai kepala Ketua Cana seperti anak sendiri.

Kendati dicemooh dari sana sini, Ketua Cana jalan terus. Ia berupaya menjauhkan para kader dari narkoba, bahkan mendirikan panti rehabilitasi bagi yang sudah kecanduan. Ketua Golkar ini juga terus berupaya mengetuk hati para pengusaha perkebunan, pengusaha industri, pemilik pabrik baik dalam skala kecil maupu besaer di Langkat, agar para kader ini setidaknya bisa menjadi karyawan di bagian security atau sesuai dengan kempuan dan ijazah yang dimiliki. 

Dari upaya tersebut, tentu ada yang menerima dengan lapang hati. Sejumlah kader sudah tersalurkan bekerja di berbagai perusahaan tersebut. Yang jadi soal, kader Pemuda Pancasila di Langkat ini jumlahnya terus bertambah, sementara lapangan pekerjaan pertumbuhannya lambat. 

Selain mencarikan lapangan pekerjaan, Ketua Cana secara kontinyu terus menata organisasi ini, baik dari segi tertib administrasi, maupun disiplin para kader PP. Dari hasil kerja keras Ketua Cana, beberapa ranting PP yang ada di Langkat sudah mulai dicintai masyarakat. Simaklah bagaimana kedekatan masyarakat Desa Pantai Gemi Kecamatan Stabat dengan  para kader di Ranting desa tersebut. 

Kalau ada yang kemalangan, para kader Pemuda Pancasila selalu tampil untuk memberikan bantuan, mulai dari ait mineral, mendirikan tenda, bahkan turut mengangkat keranda jenazah hingga ke lokasi pemakaman. Setiap menjelang Ramadhan, menyebelih sapi untuk dibagikan kepada warga desa tersebut. 

Menjelang Ramadan mereka juga aktif bergotong royong membersihkan kuburan di sana sehingga orang berziarah merasa nyaman. Menjaga keamanan masjid agar orang yang menjalankan salat tarawih merasa nyaman lantaran tidak khawatir akan kehilangan sepeda motor yang diprkir di halaman masjid. 

Pertanyaannya, apakah Ketua Cana sudah merasa puas dengan apa yang sudah diperbuatnya ? Tidak, pekerjaan masih jauh dari harapannya. Ia berharap dan mentadari butuh kerja keras dan dukungan dari segenap lapisan masyarakat dalam menyikapi hal ini. Setidaknya, kalau tak mau membantu membuka pintu lapangan pekerjaan buat mereka, jangan recok kali dengan melontarkan kata-kata yang keji lantaran sarat dengan fitnah.  

Contohnya, menjelang Pilkada Langkat ini. Dalam menyukapi Pilpres atau Pilkada, para calon maupun masing-masing pendukungnya bersikap wajar saja. Gak usah nyinyir kali, karena bukanlah kebencian atau kasih sayang kita seserorang berhasil meraih sukses. 
Kalau sudah melempar isu preman ke sana-sini, memangnya ada jaminan bakal menang dalam hal apapun. .
Seseorang yang ingin sukses meraih impiannya memang dituntut harus bekarja keras. Tapi kalau Allah SWT berkehendak, orang yang lagi tidur pun bisa kecipratan rezeki. 

Simak cerita seorang tukang becak di Galang. “Pak dalam hidup ini kita gak usah ngoyo kali mencari rezeki. Yang penting berusaha saja dengan cara yang baik dan maksimal. Coba bayangkan, saya dan dua kawan lainnya sedang menunggu sewa di simpang empat Galang menuju Pulau Gambar. 

Teman yang satunya tidur nyennyak di becaknya. Tiba-tiba ada orang baru turun dari angkutan umum. Melihat ini saya dan teman satunya menyongsongnya dan menawarkan tumpangan. Apa yang terjadi, kami yang sibuk menawarkan tumpangan, orang itu malah membangunkan kawan yang sedang tidur.untuk menawanya je tempat tujuan. ” kata Pak Nyoto.

Pengalaman Pak Nyoto ini tampak sepele. Tapi kalau direnung ini bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi para pendukung calonnya agar bisa menjaga diri. Tukang becak ini mengingatkan kepada siapa saja, agar berbuat wajar-wajar saja dqalam kehidupan ini, termasuk memberikan dukungan kepada calon masing-masing. 

Sebab ditiup-tiupkan pun berbagai isu,  itu menjadi tak ada artinya kalau Sang Pencipta bertindak lain. (*)



Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments