Preman, Pemuda Pancasila, Tukang Becak ( Bag-2)



 
Oleh : H Affan Bey Hutasuhut/Wartawan Majalah Tempo (1997/2004)

Ketua Cana bersama Boimin, penggali kubur yang diberangkangkatkan umroh


Adalah Jenderal Nasution, Jendral Ahmad Yani, dan petinggi militer  lainnya yang mendirikan Organisasi Pemuda Pancasila pada 28 Oktober 1959 di Jakarta. 
Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) yang membidani kelahiran organisasi tersebut. IPKI merupakan sayap politik dari para petinggi militer yang masih aktif dalam kedinasan.

 Mereka tidak dapat langsung bermain di kancah politik, karena memang undang-undang melarang militer aktif melakukan kegiatan politik praktis. IPKI dilahirkan guna mengemban tugas mulia yakni melindungi NKRI dari rongrongan bahaya laten komunis yang kala itu dimotori oleh PKI.
Setiap gerakan PKI selalu dikontrol dan dibayang-bayangi oleh IPKI. Ketika PKI melakukan manuver politik dengan mendirikan organisasi Pemuda Rakyat, dengan sigap IPKI mendirikan organisasi Pemuda Pancasila pada 28 Oktober 1959.

Untuk melawan gerakan Pemuda Rakyat ini maka IPKI mencari orang yang bermental keras dan siap bertarung dengan Pemuda Rakyat ini. Dari sinilah kemudian beberapa pentolan pemuda di Medan seperti almarhum HMY Effendi Nasution, Ucok Mayestik, Anwar Kongo, yang dikenal sebagai preman Medan ditunjuk menjadi Pengurus PP Sumut. 

Effendi Nasution alias Pendi Keling adalah preman legendaris dan mantan petinju sekaligus sosok pendiri organisasi Pemuda Pancasila di kota Medan. Dengan karisma yang dimilikinya, Pendi Keling berhasil mempersatukan para preman di Medan, sehingga mereka kemudian menjadi kekuatan politik. 

Preman Medan ini awalnya dikenal pada masa penjajahan Belanda. Oleh tuan-tuan kebun, istilah preman diotujukan kepada mereka kuli non-kontrak atau tenaga lepas yang dibayar harian. Kala itu, tuan-tuan kebun Belanda yang menjadi penguasa tanah Deli menyebut mereka dengan judulan “Vrije Man” yang berarti orang bebas.

Meski dipekerjakan, kerap kali kalangan Vrije Man ini menjadi gangguan bagi tuan kebun Belanda dalam rangka menjalankan usahanya karena kerap tampil sebagai pembela kuli kontrak asal Jawa, Tionghoa, dan India yang disiksa mandor kebun atas perintah tuan kebun.Dalam melakukan perlawanan tersebut, kerap para preman ini membuat keributan, mabuk minuman keras, bahkan menantang tuan kebun yang zalim ini berkelahi. 

Namun seiring dengan perkembangan zaman, para preman di Medan, khususnya tahun 1960-an lebih banyak ngumpul di bioskop sebagai calo tiket. Ucok Mayestik bermarkas di Bioskop Mayestik Petisah, Dame Siregar yang pernah menikam seorang pilot AU mangkal di Biorkop Astanaria Medan Baru, 

Mereka ini pantang ditantang untuk berkelahi. Berantam adalah khas yang dimiliki oleh preman Medan. Dunia mereka tak lepas dari minuman keras, juga menjadi pelindung bagi pengusaha. Dalam kondisi seperti itulah, Bang Pendi Keling dan preman lainnya diajak bergabung dalam organisasi Pemuda Pancasila.

Salah seorang pendiri HMI bahkan pernah memberikan kesaksian bahwa pada masa itu (1959-1966) Pemuda Pancasila dikenal sebagai salah satu organisasi yang gigih memerangi PKI dan antek-anteknya. Fase ini bisa dikatakan sebagai era peneguhan karakter Pemuda Pancasila sebagai pengawal ideologi Pancasila. Bahkan sejumlah kader PP kala itu banyak yang gugur./

Sayangnya, setelah PKI ambruk, tidaklah serta merta Bung Fendi Nasution, dan seluruh kader PP di Indonesia seketika itu pula berubah menjadi orang yang lembut. Bayang-bayang kekerasan yang membelit para kader PP terus membelit hingga kini. 

Pengurus MPP PP Pusat sangat menyadari keadaan ini. Makanya untuk percepatan terjadinya perubahan karakter keras di PP, dibuatlah satu kebijakan yang diberi nama Back to Zero, kembali ke titik awal. Maksudnya, para kader PP kembali membenahi segala permasalahan di tubuh PP, mulai dari masalah administrasi, mendudukkan para pengurus di Wilayah dan MPC, dengan sosok yang berwibawa mampu merubah mental para kader secara perlahan. 

Dari kebijakan inilah kemudian secara umum para pengurus di wilayah, termasuk Ketua Cana di Langkat memiki beban yang berat. Yakni, mendidik para kader dilapis kecamatan hingga ke jajaran ranting untuk merubahnya menjadi kader yang menjauhi kekerasan dan dekat masyarakat. 

Ini bukan pekerjaan yang mudah. Para kader PP di lapis bawah umumnya hanya berpendidikan SMA, bahkan banyak yang hanya tamat SMP. Dengan kualitas pendisikan seperti itu tentu tak mudah untuk mengeluarkan mereka dari dunia jalanan. Mereka butuh pekerjaan, mereka butuh biaya untuk memberi makan makan anak dan istri. 

Siapa yang peduli dengan nasib mereka. Siapa pula yang peduli dengan Ketua Cana di Langkat yang terus berupaya membina para kader PP ini agar dicintai masyarakat. Yang ada justru caci maki dan tuduhan yang sangat menyakitkan, Ketua Cana, preman. (bersambung)


Baca Juga