Dikerjakan T Syafi,i : Pembangunan Lapangan Futsal Bubun Senilai Rp150 Juta Terbengkalai

Lapangan Futsal Bubun  berbiaya Rp.150 juta tak bermanfaat


Tanjungpura– Metrolangkatbinjai.com

Harapan masyarakat Desa Bubun, Kec.Tg.Pura, Kab.Langkat, bisa menikmati dan berlatih Futsal di desa mereka hingga kini masih menjadi mimpi.

Pasalnya, kendati dana pembangunan lapangan futsal yang disebut-sebut merupakan bantuan pemerintah pusat dari Kemenpora tahun 2017 senilai Rp150 juta yang sudah dikirimkan ke rekening Desa Bubun, seperti raib ditelan bumi.

Ironisnya, kondisi bangunan lapangan futsal yang mulai dikerjakan sejak bulan Juni 2017 lalu tersebut hingga saat ini masih berupa pondasi yang hanya ditimbun dengan material sertu. Padahal, seluruh dana pembangunan gedung untuk lapangan futsal tersebut sudah dicairkan seluruhnya sewaktu Kades Bubun masih dipimpin Faisal.

Informasi yang diterima Metro Langkat dari warga Desa Bubun menyebutkan bahwa selama ini warga sudah pernah mempertanyakan permasalahan pembangunan lapangan futsal bantuan pemerintah pusat tersebut kepada pihak perangkat desa setempat.

Namun, warga yang mulai resah sampai saat ini merasa kesulitan untuk menemui mantan Kades Bubun, Faisal.

“Sampai saat ini mantan Kades Bubun, Faisal, susah ditemui. Begitu juga perangkat desa lainnya seperti lepas tangan dan saling lempar bola. Begitu juga dengan Bendahara Desa, Izra Ulpa, tidak mampu menjelaskan kemana dana tersebut dipergunakan,” ujar perwakilan warga Desa Bubun saat menghubungi media ini melalui ponselnya, Jum’at, (20/4).

Selain itu, sambung warga melalui ponselnya, Bendahara Desa Bubun, Izra Ulpa, mengatakan bahwa pembangunan lapangan futsal tersebut diserahkan pengerjaannya kepada salah seorang warga Desa Lalang, Kec.Tg.Pura bernama Tengku Syafi’i.

“Bendahara bilang ke warga, dulu Tengku Syafi’i itu yang membuat profosal permohonan bantuan dana pembangunan lapangan futsal ke pemerintah pusat melalui Kemenpora. Bahkan, T.Sfafi’i itu juga yang membawakan profosal tersebut ke Jakarta menggunakan kop surat Desa dan ditandatangani Kepala Desa Bubun, Faisal serta Bendahara Desa, Izra Ulpa. 

Anehnya, kenapa pada saat akan dilakukan pencairan, rekening Desa Bubun bisa dipegang T.Syafi’i,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya dengan alasan masalah ini membawa seluruh warga Desa Bubun dan bukan dirinya pribadi.

Bendahara Izra Ulpa juga menjelaskan bahwa yang mengerjakan pembangunan lapangan futsal tersebut adalah T.Syafii dan baru dikerjakan hanya sampai pembangunan fundasi.

Tapi anehnya, masih menurut warga setempat, mantan Kades Faisal dan Bendahara Desa Bubun, Izra Ulpa, melakukan pencairan uang kembali senilai Rp118 juta yang konon disebut-sebut telah diserahkan langsung kepada T.Syafi’i untuk menyelesaikan pembangunan lapangan futsal.

“Namun, sejak penyerahan uang kontan sebesar Rp118 juta berdasarkan kwitansi penyerahan uang yang ditandatangani mantan Kades Faisal dan Izra Ulpa, kepada T.Syafi’i itu, tapi pembangunan lapangan futsalnya tidak dikerjakan juga sampai sekarang. Kami menduga, antara mantan Kades Bubun, Faisal, Bendahara Desa Bubun Izra Ulpa dan T.Syafi’i, memang sudah merencanakan akan membagi-bagi dana bantuan pemerintah pusat tersebut. Mereka menganggap warga desa ini tidak mengetahui kalau dana bantuan itu sudah cair semua,” ujar warga lagi.

Dalam kesempatan itu, warga Desa Bubun meminta kepada aparat Kejaksaan Negeri Langkat untuk segera memeriksa pihak-pihak perangkat Desa Bubun, khususnya mantan Kades Faisal dan Bendahara Desa yang masih aktif, Izra Ulpa, untuk mempertanggungjawabkan dana bantuan pemerintah pusat untuk membangun lapangan fustsal senilai Rp150 juta tersebut.

Warga juga menduga, anggaran pembangunan pundasi lapangan futsal yang terbengkalai tersebut diam-diam menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) oleh mantan Kades Bubun bersama Bendahara. Padahal, anggaran pembangunan lapangan futsal tersebut murni merupakan bantuan pemrintah pusat melalui Kemenpora.

Sementara itu, Bendahara Desa Bubun, Izra Ulpa, saat coba dikonfirmasi Metro Langkat melalui ponselnya, Jum’at (20/4) mengenai keresahan warga atas pembangunan lapangan futsal yang anggarannya sebesar Rp150 juta, sepertinya ketakutan.

Saat dikonfirmasi, Izra Ulpa sempat menanyakan identitas Metro Langkat. Saat disebutkan identitas pihak yang menelpon merupakan wartawan Metro Langkat dan akan mengkonfirmasi tentang terbengkalainya pembangunan lapangan futsal dengan anggaran senilai Rp150 juta, anehnya Izra Ulpa mulai coba bersandiwara dan bersikap pura-pura tidak mendengar suara Metro Langkat.

“Halo..., haloo, haloo....,” ujar Izra Ulpa seperti gugup dan langsung memutuskan konfirmasi. Saat ponselnya coba dihubungi terus berulangkali, ponsel Bendahara Desa Bubun tersebut ternyata sengaja dimatikan karena terdengar pemberitahuan bahwa nomor ponselnya sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Begitu juga saat dikirimkan konfirmasi melalui layanan Short Massage Service (SMS) ke ponselnya, Sabtu malam Minggu pesan yang dilayangkan telah terkirim. Namun Bendahara Desa Bubun tersebut tidak bersedia membalas dan tidak bersedia menerima telfon Metro Langkat saat coba dihubungi kembali meski terdengar nada masuk.(Rud)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments