Tragis..! Sudahlah Anak Gadisnya Ditidurin, Bapaknya Pulak Dipenjarakan

Bapak malang yang dipenjarakan orang yang telah mencabuli putrinya didampingi PH, Togar Lubis SH MH saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Langkat di Stabat, Senin (19/3)

STABAT – Metrolangkatbinjai.com

Enak benar jadi laki-laki perusak anak gadis orang yang satu ini. Hanya modal tikar di bawah pohon coklat halaman rumahnya, pria bernama Muhammad Saleh Surbakti (39), warga Jln Kartini IA, Desa Suka Makmur, Kec.Binjai, Kab.Langkat ini puas nidurin karyawati usaha home industry-nya selama hampir setahun.

Padahal, pria berkulit hitam dan berkumis ini sudah memiliki 2 istri, meski istri keduanya yang telah memiliki anak satu telah diceraikan, malah menodai anak gadis orang.

Selama setahun hubungan cinta terlarang dengan Dewi Sri Ningsih, warga Duun VI, Desa Perdamean, Kec.Binjai, Kab.Langkat, yang selalu berakhir dengan hubungan intim layaknya suami istri di halaman rumahnya, akhirnya terbongkar juga. Ironisnya, sang istri pria hidung belang ini, pura-pura tidak tahu kalau hampir setiap malam suaminya selalu “memompa” karyawatinya di bawah pohon coklat hanya bermodalkan sehelai tikar.

Begitu tertangkap basah sedang dalam keadaan bugil lagi asik “memompa” karyawatinya tersebut oleh beberapa warga yang kebetulan melintas, malah istrinya mengijinkan suaminya, M.Saleh Surbakti, untuk berpoligami menikahi anak gadis Darmaji alias Beji (46) tersebut.

Bukannya berterimakasih karena sudah puas meniduri anak gadis Darmaji, malah pria hidung belang itu melaporkan ayah Dewi Sri karena pelipis kirinya terluka akibat di massa oleh warga yang geram dengan ulah pria M.Saleh Surbakti ini.

M Saleh Surbakti (baju batik depan PH) yang puas mencabuli putri terdakwa tampak tenang dipersidangan.(Rudi)
Anehnya, bukan kasus mencabuli anak gadis orang yang maju ke persidangan, malah ayah Dewi sri, Darmaji, harus meringkuk di penjara, atas laporan M.Saleh Surbakti, dengan Surat Laporan No.Pol : LP/212/IV/2017/SPKT-A/Res Binjai tertanggal 6 April 2017, atas tudingan melakukan penganiayaan dan pengeroyokan yang terjadi pada Kamis, 23 Maret 2017 lalu.

Ceritanya, pada Kamis malam, 23 Maret 2017 lalu, sekitar pukul 21.00 WIB, saat pria hidung belang, M.Saleh Surbakti, sedang “memompa” Dewi Sri di bawah pohon coklat di halaman rumah M.S Surbakti,  tertangkap basah oleh 4 orang laki-laki yang kebetulan melintas di lokasi itu.

“Saat itu, keempat orang pria warga Kampung Perdamean itu melihat sepeda motor milik Dewi Sri, kok ada di rumah M.Saleh Surbakti. Penuh rasa heran, kemudian keempat orang itu mencari tau keberadaan Dewi Sri,” ujar Togar Lubis SH, MH, Kuasa Hukum ayah Dewi Sri, yang dijadikan tersangka oleh penyidik Polres Binjai, yakni Darmaji dan Puryono.

Alangkah kagetnya keempat pemuda tersebut saat melihat M.Saleh Surbakti yang bugil sedang menyetubuhi Dewi Sri di atas tikar di bawah pohon coklat di halaman rumah Saleh Surbakti.

Sadar perbuatan bejadnya menyetubuhi karyawatinya diketahui keempat saksi mata tersebut, M.Saleh Surbakti langsung menghentikan aksinya.

“Saya akan bertanggungjawab,” ujar M.Saleh Surbakti, yang kesal menahan konaknya.

Namun, dalam persidangan yang digelar di Ruang Garuda Pengadilan Negeri Stabat, saksi korban yakni pelapor, M.Saleh Surbakti, berkilah kalau pada saat itu dirinya belum melakukan persetubuhan, melainkan hanya mencumbuin Dewi Sri meski dengan kondisi telanjang bulat.

Sidang penganiayaan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, R.Aji Suryo SH, MH, serta kedua Hakim Anggota, Safwanuddin Siregar SH, MH dan Safri Tarigan SH, MH, dalam agenda pembacaan dakwaan dan mendengarkan keterangan saksi-saksi yang diajukan saksi korban, M.Saleh Surbakti, dengan pintarnya menuding ayah Dewi Sri, Darmaji, telah melakukan penganiayaan bersama Puryono.

Dalam persidangan itu, M.Saleh Surbakti , mejelaskan bahwa dirinya telah dianiaya oleh Darmaji pada saat ayah gadis yang puas disetubuginya itu mendatangi rumahnya bersama 5 orang pria pascatertangkap basah sedang menyetubuhi Dewi Sri.

“Terdakwa Darmaji menganiaya saya pada saat terdakwa mendatangi rumah saya. Pada saat itu terdakwa memukul dagu kiri dan sempat ingin menusukkan pisau yang dibawanya. Saya mundur, kemudian terdakwa memukul dagu kiri saya sekali lagi. Begitu saya jatuh, saya mau diikat dan akan dibawa ke rumah terdakwa Darmaji,” ujar M.Saleh Surbakti.

Kepada Majelis Hakim, M.Saleh Surbakti menjelaskan, khawatir akan dikeroyok dan dibawa paksa, dirinya segera menelepon Kepling, Suwarno.

“Saya sudah bilang mau bertanggungjawab menikahi Dewi Sri, tapi niat saya itu tidak diterima, Yang Mulia,” ujarnya.

Bersama Kepling Suwarno, M.Saleh Surbakti, kemudian mendatangi rumah Darmaji.

“Nah, pada saat itu suasana rumah terdakwa sangat ramai dan saya dibawa du rumah Rasidin, tetangga terdakwa. Berulangkali saya ingin dipukul dan ternyata warga yang berkumpul menendang saya. Saya terjatuh dan pada saat itulah Puryono menendang menggunakan lututnya dan mengenai pelipis mata kiri saya sampai robek. Terdakwa mengatakan kalau mau damai bayar Rp30 juta,” cerita M.Saleh Surbakti.

Khawatir warga semakin beringas, Masih kata SM.Saleh Surbakti kemudian saya dibawa oleh Polisi yang datang dan dibawa ke Polsek Binjai.

“Saya akhirnya menginap di Polsek Binjai satu malam. Kemudian Darmaji yang datang, mengatakan bahwa dirinya harus membayar uang perdamaian itu. Saya menyanggupi permintaan uang damai yang Rp30 juta itu dan juga berjanji tidak akan menemui Dewi Sri lagi. Tapi pada saat itu saya hanya memiliki uang Rp3 juta, itu pun ditolak dan saya menitipkan uang itu kepada pihak Polsek Binjai.

Namun, keterangan M.Saleh Bangun tersebut dibantah oleh para terdakwa yang mengaku tidak ada melakukan pemukulan selain hanya menepis tangan saksi korban pada saat ingin minta maaf.

Begitu juga dengan terdakwa Puryono. Kepada Majelis Hakim, Puryono membantah kalau dirinya ada melakukan pemukuan. Sesuai dengan keterangan M.Saleh Burbakti, yang diduga sudah diatur sedemikian rupa untuk menghindari pelunasan uang perdamaian tersebut, saksi korban tetap bertahan dengan keterangannya.

Begitu juga dengan para terdakwa,  Darmaji dan Puryono. Keterangan M.Saleh Surbakti, ternyata sedikit berbeda dengan keterangan istrinya yang dihadirkan menjadi saksi.

Uniknya, meski selama setahun suaminya, M.Saleh Surbakti, menyetubuhi Dewi Sri di bawah pohon coklat di halaman rumahnya, tapi dirinya tidak mengetahuinya meski ada di dalam rumah.

Bahkan, setelah suaminya tau telah selingkuh dengan karyawaty usaha home industry di rumahnya, istri saksi korban menyetujui dan menyarankan suaminya untuk menikahi Dewi Sri.

Ironisnya, meski penyidik Polres tidak menahan kedua terdakwa dalam kasus penganiayaan tersebut, namun entah mengapa Kasi Pidum Kejari Langkat, bersikukuh untuk menahan kedua terdakwa.

Sidang yang berlangsung dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi yang diajukan saksi korban, akhirnya ditunda seminggu oleh Ketua Majelis Hakim karena waktu telah hampir menunjukkan jam 18.00 WIB.(RUD)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments