Bag-3, HAJI SUJARNO: UPAYA MESINTESISKAN PENDIDKAN MASA LALU KE MASA KINI



Oleh MUHAMMAD FADLI*
Fadli Arbi



Pertama, dunia pendidikanadalah sumber ajaran nilai-nilai yang subtansial-esensial (abstrak), sebagai basis teks yang harus diinterpretasi ke dalam konteks sosial. Kedua, nilai-nilai yang riil, yakni pendidikan sebagai perangkat budaya yang dipergunakan sebagai alat untuk merubah situasi sosial.

Dengan kata lain, perangkat budaya di dalam dunia pendidikan sangat penting dilibatkan dalam upaya menafsirkan gagasan ideal ke realitas praksis agar dunia pendidikan mampu memberi jawaban pada persoalan-persoalan yang faktual.

Meski demikian, memahami idealitas dan realitas didalam dunia pendidikan tidak dapat dipahami secara dikotomistik, ibarat dua sisi mata uang yang saling melekat pada sisi masing-masing.Keduanya saling menguatkan.
Antara basis normatif disatu sisi dan basis histroris disisi lainnya.Disinilah keunikan seorang haji Sujarno, mampu mensitesiskan konsep pendidikan masalalu yang sarat etika dan estetika menyandingkannya dengan pengetahuan modern.

Prinsip pendidikan yang diusung oleh haji Sujarnomenjadi basis reflektif akan keterasingan manusia (anomie) dengan logika pengetahuan yang menempatkan dirinya sekadar objek bukan subjek bagi dirinya sendiri.

Sui-generispendidikan yang meletakkan nilai disatu sisi dan kemodernan disisi lainnya, akansaling bersinergi menjadi pengetahuan alternatif.Aksentuasi pendidikan bukanlah suatu yang given melainkan doing prosses.Prisip yang menjadi entri-pointpendidikan bahwa kebaikan dan menyebarkan kebaikan itu sendiri harus berbasis nilai bukan kepentingan sesaat.

Pendidikan harus menyebarkan virus kebaikan yang menularkan kebaikan-kebaikan lainnya sehingga tercipta masyarakat yang ideal melihat dirinya sebagai manusia dan memanusiawikan manusia lain yang ada disekitarnya.Itulah esensi pendidikan.

Konteks pendidikan diatas sudah cukup membedakan haji Sujarno dengan tokoh pendidikan lainnya di Langkat sana.Dalam konteks ini, gagasan orang besar perlu didiskusikan.Karena nalar kerdil lahir dari cacat intelektual, moral, politik dan sosial.[**]

*Penulis adalah adalah Sosiolog dan peneliti senior di Institute for Social Research and Empowering, tinggal di Yogyakarta.
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments