Oret-Oret Yong Ganas : Raja Tuan Sedang Demam... ..


Kalau cerita demam, biasanya yang sering terdengar ditelinga kita, demam berdarah atau DBD. Kalau terkena penyakit yang satu ini, nyawa bisa-bisa melayang kalau tak segera ditangani dokter.

Tapi kalau menurut Yong, demam yang satu ini jauh lebih berbahaya. Selain bisa membuat sipenderitanya lumpuh, stroke, jatuh miskin atau masuk penjara juga menyengsarakan banyak rakyat jelata.

Demam yang Yong maksud ialah demam Pilkada.  Demam ini sedang melanda sebuah Negeri yang katanya makmur adil dan beradab. Hampir semua pejabat tinggi diNegeri ini terkena demam tersebut. Hajabnya, tabib yang mengobatipun ketularan demam musiman itu.Ceck,ceck,ceck... !

Kabarnya, demam yang paling parah diderita  oleh sang Raja. Sampai-sampai ahli nujun Istana angkat tangan mengobatinya. Karena demam Raja makin tinggi, kalangan pejabat istanapun ahirnya sepakat memboyong Raja keluar istana mencarikan obat yang tepat keNegeri jiran.


Setelah bertemu dengan puluhan pakar pengobatan dari kerajaan lain, ahirnya penyakit Rajapun diketahui. Dalam keadaan setengah sadar, Raja mengigau seraya mengatakan kalau penyakitnya baru dapat disembuhkan bila wilayah kekuasaanya lebih ditingkatkan lagi.

Rupanya si Raja demam karena memimpikan singgasana dan istana baru. Meski permintaan tersebut sulit untuk terwujud, tapi sebagai panglima talam Raja yang kerjanya membuat hati raja senang,dengan yakinnya para punggawa Raja mengatakan kalau semua itu bisa diatur dan tidak jadi masalah.

Apalagi, Raja memiliki banyak harta dan dikenal dermawan banyak orang. Hal itu dibuktikan ketika sayembara pemilihan Raja diatas raja dilakukan ketika itu,  dimana seluruh raja-raja tetangga secara serempak menunjuk si Raja untuk menjadi pemimpin mereka.

Hal itu sebenarnya sebuah tanda kalau Raja memang diinginkan menjadi pemimpin Negeri di Bukit Baris-Baris itu.” Bisik sipanglima Talam mencari muka.  Selain itu, sipanglima Talam mengatakan kalau Raja memang pantas pindah Istana dengan memimpin wilayah yang lebih luas lagi.

Demam Raja makin tinggi mendengar umbangan para “ penjilat’ nya. Kini Raja tak hanya demam dibuatnya, tapi Raja juga mulai mabuk Jabatan. “ Alangkah hebatnya aku kalau bisa memimpin di Negeri baru itu, mungkin begitulah yang ada dibenak sang Raja saat ini.

Strategi dan perangkap Politik mulai dijalankan Raja dan para Panglimanya demi merebut Istana baru tadi.  Pencitraan sebagai senjata pertama mulai diluncurkan. Raja yang memiliki segudang “benggol” mulai bergerak menghambur-hamburkanya kenegri orang.

Kursi Raja mulai jarang didudukinya, Istananya yang megah hanya sebagai simbol saja. Raja mulai lupa kalau rakyatnya masih perlu diurusi. Raja lupa kalau Negerinya masih kupak-kapik disana sini, Raja lupa kalau masih banyak janji-janjinya yang belum diwujudkan.

Raja juga lupa kalau masih banyak rakyatnya yang menengadahkan tangan dipersimpangan jalan meminta-minta. Raja juga lupa kalau ribuan nelayannya masih diteror lanun laut. Raja lupa kalau anak-anak Negerinya banyak yang dicabuli belakangan ini.

Mungkin karena demam Raja terlalu tinggi sehingga Raja menjadi lupa ingatan atau mungkin sengaja tak mau mengingat apa yang pernah dijanjikan. Yang pasti para Panglima Talam juga lupa menyuruh Raja untuk berkaca diri.

Kini, pra keberangkatan si Raja, para Panglima talampun mulai sibuk mengkampanyekan diri. Sesama “Hamba” abdi Raja mulai saling sikut. Tebar kelakuan ditengah-tengah masyarakat terus dilakukan. Sekarang ini, di negeri penuh angan-angan inipun pejabatnya pada mabuk.

Masing-masing hulubalang membentuk kubu masing-masing untuk persiapan pemilihan mendatang, entah apa saja nama kubu-kubu mereka,  ada yang menamakan kelompok, Relakan Sudah, Sahabat Umat,Lebahmana, KawaniKami, Kampak Merah dan lain-lain.

Karena sibuknya para penjilat di Kerajaan negeri ini mengurusi diri sendiri sampai-sampai mereka lupa ada tangung jawab mengurusi rakyat. Beruntungnya semua rakyat di Negeri ini beriman dan tau diri, ahirnya rakyat mengurusi diri sendiri, karena para pejabatnya lagi terserang demam tinggi hendak menjadi Raja di Negeri ini.

Tapi, harus diketahui wahai Panglima talam dan Penjilat raja, doa-doa rakyat yang teraniaya ini tembus kelangit tujuh. Insya allah tangis dan ratapan mereka didengar tuhanya, ingat semua yang kalian nikmati didunia ini akan dimintai pertangung jawabpanya nanti disana. (**) 

  
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments