Usai Mencari Pucuk Daun Nipah : Perahu Tiga Siswa SMA Pangkalan Susu Karam Diterjang Ombak Satu Meningal

Anak yang hilang bersama tengelamnya sampan boat



Pangkalan Susu- News Metro Langkat.com

Suasana duka kini tengah menyelimuti keluarga Yusuf dan istrinya Inur. Pasangan suami isteri yang tinggal di Kelurahan Bukit Jengkol Kecamatan Pangkalan Susu Langkat ini meresa sedih karena anaknya, Riski Ramadan, 16 tahun, siswa kelas X Darma Patra (DO) Bukit Kunci ini hilang akibat ditelah ganasnya ombak laut, Sabtu (25/02). Dan jenazahnya baru ditemukan warga nelayan dekat lokasi karam dalam keadaan terapung tak benyawa. 


Kabar duka yang memilukan hati Yusuf dan segenap keluarganya ini terjadi sangat diluar dugaan mereka. Sebab pada pagi harinya Riski masih pergi ke sekolah dengan mengenakan pakaian seragamnya. Dia pergi seperti biasanya, tak ada hal lain yang mencemaskan keluarga.

Cerita dula ini berawal pada hari Sabtu pagi sekira pukul sepuluh 10:00 WIB. Saat itu Riski Ramadan bertemu dengan dua temannya di sebuah Warnet di Desa Bukit Jengkol, yakni M Arif Almunawar, 14 tahun, pelajar kelas II MTS Al Ikhlas Beras Basah, dan Fahmi Aldy, 14 tahun,pelajar kelas II Pesantren Al Yusriah Aei Meran.

Dalam pertemuan tersebut, ketiganya berembug untuk mencari pucuk daun dari pohon nipah yang berada di seberang pulau Pangkalan Susu untuk dijual ke pengumpul dengan harga Rp 2000 per Kg. Setelah sepekat, ketiganya pun berangkat dengan boat atau perahu milik Fahmi Aldy. Riski Ramadan dan M Arif Al Munawar masih mengenakan seragam sekolahnya.

Sesaat akan berangkat, Fahmi Aldy masih sempat berpamitan Wak nya. Setelah itu sekira pukukl 11.00 WIB mereka bergerak tanpa membawa bekal makanan. Mereka tiba di tempat tujuan sekitar satu jam perjalanan, persisnya berada di hutan Desa Pangkalan Siata.

Di hutan itu masing masing mereka memotong pucuk nipah. Pekerjaan itu selesai sekitar dua dua jam kemudian dan buru-buru memasukkan pucuk nipah tersebut ke dalam perahu karena air mulai surut. Perahu kemudian sarat dengan muatan pucuk nipah tersebut.

Tak lama mereka bergerak kembali pulang, sekitar 50 meter dari dari tepi pantai ombak besar serta arus air surut yang  bergulung  pun telah menanti mereka di laut. Saat menuju arah Kuala Paluh Selampit antara Sungai Besitang dan kebun ubi, ombak terus menerjang.  hingga membuat perahu mereka berguncang keras dan dipenuhi air.

Untuk menyelamatkan diri, Fahmi Aldy sempat memutar arah balik boat/perahu, namun tak membuahkan hasil. Ombak yang kian mengganas akhirnya perahu pun karam. Musibah akhirnya menghampiri Riski Ramadan. Karena tak pandai berenang, Riski sempet berteriak minta tolong. “Tolonglah woy, aku tak pandai berenang,” katanya seraya menulurkan kedua tangannya di permukaan laut.

Malang tak bisa ditolak, Fahi dan M Arif tak bisa berbuat apa. Sebab keduanya juga harus mati-matian berenang ke tepi pantai untuk menyelamatkan diri akibat ganasnya ombak yang diperkirakan tingginya sekitar 2 meter.   

Sesampainya di tepian,  M.Arif Almunawar dan Fahmi Aldy,langsung menatap ke laut tempat mereka karam. Pikiran mereka terngiang-ngiang dengan  teman nya yan telah hilang di laut tersebut. Namun tak lama  menunggu lama kedua nya lansung berjalan ke dalam hutan bakau guna mencari bantuan.

Berselang setengah jam kedua nya berjalan, di bedengan sebuah tambak udang yang terbengkalai tiba-tiba terdengar suara bot. Kedua melihat dan langsung meminta pertolongan pada seorang nelayan sondong udang kecepai, berasal dari dusun kebun ubi. Kepada nelayan tersebut,  kedua nya langsung menceritakan kronologi kejadian yang mereka alami. Setelah itu keduanya bersama nelayan tersebut bergegas menuju tempat karamnya perahu.

Setibanya di lokasi kejadian, mereka suadah tak menemukan Riski Ramadan. Bahkan tak ada satu pun sisa dari bot/perahu mereka yang tersisa. Karena itu nelayan sondong udang kecepai, bergegas menuju desa nya dusun kebun ubi guna memberi kabar pada mereka
dan segera memberi tahu pada rekan serta masaraka setempat.

Berikutnya salah satu masarakat dengan mengunaka telpon selular mengontak pos Kamla Angkatan Laut,serta atok/kakek dari korban yang hilang,Uncu Asan yang brrada tepat di TPI. Informasi pun dengan cepat beredar hingga kepada keluarga korban yang di Jalan Pelabuhan.

Sekira pukul 06:00 WIB, senja hari Surya dari Metro Langkat beserta Uncu Hasan, Kamla serta anggota turut serta segenap masarakat serta kluarga korban,turun ke TKP guna melakukan percarian korban hilang di sekitar Paloh Selampit Hingga larut malam. Karena  keterbatasan jarak pandang pada malam hari juga cuaca yang kurang bersahabat sekira pukul 10:00 WIB  alam usaha pencarian dihentikan.

Upaya pencarian kembali dilanjutkan pada Minggu keesokan harinya. Kendati kerja keras petugas Kamla dan lainnya iotu suadah berusaha keras menyisir lokasi lokasi kejadian dan sekitarnya, tapi belum membuahkan hasil.

Jenazah koban barulah ditemukan oleh warga nelayan dalam terapung tidak bernyawa tak jauh dari lokasi kejadian. Mengetahui hal ini, petugaws Kamla, Airud dan sejumlah warga segera mendatang lokasi dan tak lama kemudian memboyong jenazah korban ke rumah ayahya Yusf dan ibundanya Inur.

Masyarakat di sekitar tenpat tinggal korban banyak juga banyak yang bwerduka edan kehilangan atas kepergian korban. Alamarhum Riski Ramadan semasa hidup dikenal sebagai anak yang baik bergaul baik sesama teman seusianya maupun  pada para orang tua setempat.

Karena sayangnya pada orang tua, alamrhum Riski sudah lama hidup mandiri dengan cara bekerja apa saja asal mendapatkan sekadar uang kebutuhan dirinya. Mau kerja di bengkel, cari pucuk nipah, dan sebagai9nya. Ia sejak lama dikenal tidak mau membebani ekonomi kedua orang tuanya.



Foto 1 : Warga dan anggota TNI nersama-sama mencari korban yang hilang

Foto 2 : Korban yang meninggal, Riski Ramadan

Foto 3 : Dua korban yang selama, Fahmi (kaus hijau) dan M Adir Al Munawar,

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments