Menjumpai Jin Penunggu Pisang Bercabang (Bag-3 )







Menjumpai Jin Penunggu Pisang Bercabang (Bag-3 )


Gaya bertutur bahasa kalem juga lemah lembutnya, Pak Olot begitu dekat dengan puluhan cucu dipunyainya dari keturunannya sendiri. Didatangi banyak pembawa niat memang khusus untuk menjemput kekhasannya dalam meramu semua kebajikan lewat cara juga metode pengobatan kerap dilakukan.

Botol-botol berjejer disenta-senta rumahnya terbuat dari batang bambu terlihat sudah menguning warnanya. Disana pula terselip banyak jenis ramuan sengaja dipersiapkannya dalam menjawab kemunculan banyak pengunjung sengaja memerlukan bantuannya lewat jenis ramuan tradisionil telah lama digelutinya.

Kesederhaannya itu, hidup apa adanya tanpa terlalu banyak mengeluh melakoni kehendak sang Maha Kuasa. Walau sebatas bercocok tanam dibidang tanah bukan miliknya. Pak Olot tampak tegar serta biasa-biasa saja. Menyisir dan memberikan sesuatu lewat ajaran agaa dianutnya.

Sistem pendekatan dengan bangsa atau kaum lelembut memang sudah nongol disekitaran tepat tinggalnya terus dilakukan. Pasca berbincang panjang lebar dengannya, usai makan malam obrolannya begitu menggetarkan jiwa. Memperjalankan ilmu pengetahuannya untuk bisa lebih bermanfaat, amanah tercurah dari leluhurnya terus dilakoninya meski hidup bukan miskin namun serba pas-pasan.

Mengikuti jejak ritualnya jelang tengah malam, rupanya Mak Olot telah mempersiapkan sajian khas keluarga kecil itu. Pisang kepok rebus terlihat kuning sebelumnya disajikan diatas baki botot tanpa alas, diletakkan diatas piring plastik berwarna biru. Pak Olot mengisaratkanku untuk dapat ikut dalam ritual malam itu.

Tegakan batang pohon pisang bermontong lebih dari satu itu, tak jauh dari aliran air sungai Bekulap masih kawasan Langkat Hulu masih diarea perbukitan dihulunya. “ Hayuk urang kadituk….??” (mari kita kesana.red)” ajak Pak Olot mempersilahkan mengikutinya.

Penampilan luar biasa, ikat kepala berwarna sengaja dibalutkannya dengan cirri khas suku Badui asal negeri Banten terlihat jelas. Mengenakan baju koko berwarna putih serta kain sarung kotak-kotak hitam Pak Olot berjalan gontai menuju bantara sungai dimana tumbuh tegakan batang pisang plus buah bermontonglebih dari satu. “ Didiek helak nyah ….??”

Disini saja dulu ya…red) ujarnya ramah penuh kelembutan. Menyediakan beberapa meter lokasi bersih disamping batang pohon pisangnya, mengembangkan sehelai kain kapan putihseukuran satu meter persegi.
Meletakkan sebuah tasbih diatasnya, Pak Olot pergi kebantaran untuk mengangatkan air wudhuk. “ Ritual nak kudu bagus lamun hayang panggih jeng panguasa ??” (Ritualnya harus bagus jika kepingin bertemu dengan penguasanya.red)” tuturnya kian halus terdengar.

Mendirikan sholat sunnah gaib langsung dilokasi diatas sajadah selembar kain kafan. Pak Olot melakukananya dengan tenang dan syahdu. Duduk bersila menghadap arah Qiblat, lantunan serta potongan Qalamullah kian asyik terdengar menyejukkan jiwa malam itu.

Desiran angin dibantaran sungai Bekulap kian cepat dan kerap dirasakan melemparkan aroma serta wewangian khas bangsa lelembut kian ramai mengahampiri. Menyaksikan langsung dari pojok sebelah kanan duduknya Pak Olot.

Kesaksian aneh dan takjub, menyaksikan keragaman bentuk sosok lelembut terus berdatangan kian ramai mengahampiri lokasi duduknya bPak mOlor diatas selemsbarvkain kafan kia seru ditonton malam itu.
Tak ada sebatang rorokpun terbakar, hanya dapat menelan air liur sepanjang ritual khusus menemukan kemunculan sosok-sosok gaib melingkupi batang pisang bermontong terus dikerjakannya. 

Berulang kali bacaan pernah terdengar dan terngiang berulang kali dibacakan Pakm Olot dengan sengaja. Tanpa hadirnya kemenyan malam itu, aroma khas sudah mulai tercium batang hidung. Enath dri mna munculnya kawan-kawan kita itu, satu persatu duduk berbaris laksana sholat berjema’ah mengikuti arah duduk Pak Olot.

Memberikan salam kepada mereka-mereka makhluk gaib begitu terdengar santun menyapa kehadirannya. Pak Olot masih bertahan diatas selembar sajadah kain kafan sengaja dibawa. Sosok gaib itu muncul dengan seragam sorban putih, sementara satu sosok pria kekar bertubuh besar dengan warna hotam pekat tak menghampiri koloni lelembut perseragam sorban duduk akrab bersama Pak Olot.

Tontonan jarang dijumpai dibelahan dunia manapun, kemunculan sosok pria bersorban sebanyak tujuh penampilan menambah penasaran serta rasa mendadak bertanya.

Isarat Pak Olot begitu dapat ditangkap perasaan malam itu, tak sepatah katapun terlontar mempertanyakan soal mkemunculan lelembt disekiatar ritualnya. Potongan doa’doa terus mengair kencang dibacakannya dengan sungguh-sungguh. Butiran air mata tampak beberapa kali diseka Pak Olot karenanya.

Sosok-sosokm itu menampakkan diri secara nyata disekitaran batang pohon pisang bermontong, tak hanya itu gerakan sederhana juga perilaku ritual berbasisi agama amat kuat terasa. Qalamullah sumber utama kekuatan dipunyainya dialirkan begitu saja seiring wktu melakukannya.

Diusianya itu, ritual serta tirakat juga puasa senin Kamisnya masih dijumpai.  Usai ritual, menggulung selembar kain kafan dijadiakn sajadah. Sambil berjalan pulang, Pak Olot membeberkan kejadian itu. “ Perlakuan itu pernah diajarkan serta sangat dianjurkan ketika Pak Olot masih beranjak dewasa.

“ Ya harus dilakukan dipinggiran sungai semasih di negeri Banten dulunya. “ Apalagi seluruh perlakuan ritualnya tak melenceng kemana-mana niatnya. Kian cepat dan dekat sosok lalembut menghampiri manusia hampir sama perlakuannya walau sudah berbeda dunia itu” urai Pak Olot membeberkan.

“ Sholat sunnha gaib, ditambah amalan sholeh lainnya. “ Sholawat Nariah begitu banyak manfaat serta kerahasiaan didalamnya, juika memang manusia itu sungguh-sungguh meminta bukan selain dari Allah” sambung Pak Olot tegas soal itu. “ Meskipun kejadian aneh sengaja diserahkan pada ummat manusia didunia juga karena Allah.

“ Kan hayang nyahok baek urang geh….??” ( Kan mau tahu aja kita soal itu,red). “ Kembali pada kita manusia, ika sengaja menghadirkan mereka lelembut dengan cara salah dan dilar kepatutan pasti mereka juga hadir dengan cara kita lakukan. Akan tetapi jika caranya seperti encuk saksikan sendiri.

Menghadirkan mereka dengan cara santun lagi mulai, ditimpa sisi ahalam didalamnya. Bertemu dan berjumpa dengan makhluk Allah diatas permukaan bumi berdeda alam tetap masih dapat dirasakan. “ Pelajari soal itu  hingga akhir hayatmu, menyandarkannya apada Al-Qur’an juga hadist” pesan Pak Olot sudah tiba didepan gubuknya. (bersambung)


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments