Menemui Jin Penjaga Pisang Bercabang (Bag-2 )




 


Menemui Jin Penjaga Pisang Bercabang (Bag-2 )


Pisang bercabang.
Pak Olot terlihat ggigih dalam bercocok tanam dilahan bukan miliknya. Hidup menumpang lahan untuk meneruskan amanah hidup bersama isteri sengaja diboyongnya dari negeri Banten sejak puluhan tahun silam.

Meski memiliki banyak cucu, Pak Olot memegang banyak pengetahuan soal urusan dunia tanpa batas  sengaja dituntutnya. Selain bekalnya pergi merantau, kehidupan pribadinya penuh kesederhaaan itu, menggugah semangat untuk bisa menginap digubuk biasa ditinggalinya bersama isteri tercinta.

Puas rasanya mendengar jawaban Pak Olot memberikan sinyal bisa tinggal semalam bersama Kakek tua penuh pengalaman dalam dunia tanpa batas. Jelang Maghrib, diajaknya bergegas pergi kepinggiran sungai untuk membersihkan sekujur tubuh menanti datangnya sholat Maghrib.

Kebiasaannya dalam menekuni ibadah sengaja diperintahkan sang Pencipta begitu betul-betul ditaatinya. Tak ada penerangan laik biasanya, hanya sentir-sentir bermodalkan  minyak tanah sengaja ditaruhkan pada sisi dinding gubuk memang telah mapan tempatnya.

Tiga penerangan sudah menyala, satu dibahagian depan atau teras berikut amben atau tempat biasanya bercengkerama. Satunya lagi dibahagian dalam gubuk dindingnya terbuat dari bambu atau tepas hingga ke lantai tanah. 

Sedangkan satu penerangan lagi, sengaja ditaruh Mak Olot dibahagian dapur dan sekitarnya. Usai sholat maghrib berjema’ah, Mak Olot terbiasa manyajikan sajian makan malam. 

Suguhan menu sambal kukus ikan teri juga rebusan daun-daun sengaja ditanamnya disekitaran gubuk tempat tingganya. Tak ketinggalan  sajian pavorit Pak Olot sejak masih muda, lalapan dedaunan apa saja bisa dikonsumsi selalu tak tinggal acap kali menikmati makannya.

Bercengkerama laiknya sudah saling kenal puluhan tahun. Keakraban itu tak sesuai dengan masa kenal sebelumnya. “ Jangan tanggung jika memang kepingin memiliki kemampuan kadigdayaan sesungguhnya itu “ potongan kalimat terlempar dari bibirnya terlihat masih mengunyah makanan didalamnya. 

“ Bukan harus takut dan lari dari kenyataan hidup telah dipilihkan-Nya ??” ujarnya menatap tajam arah wajah. “  Lalapan, sumber kekuatan alam sejati itu justru dilalap atau dimakan dengan perlahan mengunyahnya. Proses penyempurnaan kekuatan dalam diri bisa bertahan sekuatnya. 

Tak memandang jenis daun apa yang dilalap, namun keberkahannya paling utama dilakukan dalam menjemput semua proses pengetahuan masih berada dialam dunia” terang Pak Olot menyerahkan warisan sengaja dipertahankannya hingga usianya menua.

“ Ya, semua jenis tanaman selain bisa bermanfaat untuk semua makhluk diatasnya. Menjawab kebutuhan serta kepentingan juga menyerahkan rahasia alam semesta sengaja diperuntukkan bagi semua makhluk namun jarang difahami secara mendalam” akunya masih menutup rahasia lainnya soal kebiasaannya.

Selain mumpuni dalam dunai diluar batas nalar manusia, beberapa kepemilikan pengetahun soal agama begitu utama dibincangkannya dalam obrolannya malam itu.  Merebahkan semua persoalan hidup serta menyandarkannya pada agama, kekuatan paling utama sengaja dibawa dan diwariskannya apada anak keturunannya. 

“ Bukan pula pada anak-anak atau hencuk diserahkan soal ini. “ Beberapa lainnya juga sudah menanamkan kebiasaan selagi masih hidup didunia. “ Ya ngelmunya sederhana saja, hidupnya bisa dipakek sedangkan matinya dapat ditumpangi ngelmu itu “ bebernya jujur sambil tersenyum renyah menatap. 

Apalagi kebiasaan menatap perilaku atau kemunculan sosok misteri dialam sekitarnya. Pohon pisang bermontong lebih dari satu itu, terus tumbuh dan muncul di tapak atau lokasi tak jauh dari awal kemunculannya. Tokohnya tetap ya itu …?

!” Pria betubuh kekar masih melakoni lokasi juga kemunculan alami bakalan buah juga kelopaknya. “ Idola mereka kaum lelembut menanti datangnya kemuliaan sengaja diserahkan pada alamnya telah ditentukan waktunya itu.

 “ Banyak perilaku lelembut bisa dapat ditandai dan dimengerti dalam menemukannya langsung “ akunya masih menahan semua kejadian aneh pernah dijumpainya dilokasi tak jauh dari tempat tinggalnya.

Usai makam malam hanya bertiga, Pak Olot menyempatkan menjemput secubit garam dari piring kaleng sejak awal sudah dipersiapkan Mak Olot. “ Ini mah kebiasaan mak Olot turuh temurun, menyediakan garam diatas sajian dengan wadah sendiri “ aku Mak Olot membeberkan rahasia didalamnya. 

“ Uyah (garam.red) banyak memberikan ajaran serta anjuran sengaja diajarkan Kanjeng Nabi “ aku Mak Olot meneruskan tenang. “ Memulakannya dengan secubit garam, juga mengakhirinya dengan secubit garam. 

“ Penghulunya lauk pauk dalam waktunya makan, apalagi kebiasaan it uterus dijalankan “ urai Mak Olot membuka tabir kebiasaan keluarganya. “ Lamun engges biasak, (Kalau sudah terbiasa.red) garam akan menghindarkan kita dari beragam jenis penyakit dalam tubuh “ sambung Pak Olot menimpalinya. 

“ Uyah atau garam mah datangnya dari hujan atuh…?!” Engges kituk….?” (Sudah itu.red) Garam turunnya juga dari langit, Penguasanya langit siapa ??” Harus juga dikembalikan pada Gusti Allah. Air hujannya sendiri, ayak wesik nak…?

 (Ada unsur besinya.red) Api, air ditambah deik (ditambah lagi unsur garamnya sendiri. “ Kudu awet hirup dialam duniak …??” (Justru awet hidup di dunia.red)” tegas Pak Olot membeberkan kebiasaan dalam menjemput sosok gaib kerap mendekati pohon pisang bermontong lebih dari satu dilokasi. (bersambung)




Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments