Katanya Swasembada Beras : Tapi..!! Di Secanggang, Pasutri 3 Hari Tak Makan

Katanya Swasembada Beras :
Tapi..!! Di Secanggang, Pasutri 3 Hari Tak Makan



Potret buram negeri Langkat.(ist)
Secanggang, News Metrolangkat.com

Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH melalui Kepala Dinas pertanian Kabupaten Langkat, Basrah Daulay mengatakan Kab Langkat merupakan Kabupaten penyumbang beras terbesar di Sumut. Hal itu karena Langkat memiliki potensi lahan sawah seluas 38,456 hektare.

Setiap tahunnya kita menaikkan target produksi sebesar 5% dari produksi sebesar 60 ribu ton pertahun sesuai perintah Bupati dan Mnteri pertanian,di mana selama enam tahun terakhir tetap surplus dan tetap swasembada beras.” Ujar Kadis Pertanian ini pada satu kesempatan.

Kalau dari pernyataan tersebut dapat dipastikan kalau masyarakat Langkat tak kekurangan beras, sebab produksi pertanian terus meningkat. Namun, kenyataanya dilapangan masih ditemukan masyarakat yang tak bisa mengisi perutnya alias kelaparan. Parahnya, warga miskin ini sampai tiga hari tak melihat nasi. Subhanallah....!
masih ada warga langkat seperti ini

Kisah kelaparan warga Langkat yang menetap di Kecamatan Secanganggan ini sangatlah menghiris hati ditengah seribu prestasi Langkat. Tak ubahnya seperti kisah-kisah dijaman rasullah peristiwa ini terjadi.
Dikisahkan, saat baginda Nabi besar Muhammad S.AW mengangkat  Umar bin Khattab sekitar Tahun 586-590 atau sekitar 644 M sebagai khalifah ke-2 dalam sejarah Islam, saat itu pula Umar bin Khattab menghadapi cobaan yang cukup berat.

Saat itu, umat Islam dilanda paceklik karena masuk dalam tahun abu. Di tahun itu, bahan makanan  sungguh sulit didapat, hasil pertanian sebagian besar tidak dapat dikonsumsi, hingga menyebabkan umat Islam dilanda kelaparan. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab mengajak seorang sahabat bernama Aslam menjalankan kebiasaannya menyisir kota.

Dia hendak memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar. Sampai pada satu tempat, Umar dan Aslam berhenti. Dia mendengar tangisan seorang anak perempuan yang cukup keras. Umar kemudian memutuskan untuk mendekati sumber suara itu, yang berasal dari sebuah tenda kumuh.

Setelah dekat, Umar mendapati seorang wanita tua terduduk di depan perapian sambil mengaduk panci menggunakan sendok kayu. Umar kemudian menyapa ibu tua itu dengan mengucap salam .

Si ibu tua itu menoleh kepada Umar dan membalas salam tersebut. Tetapi, si ibu kemudian melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan kehadiran sang khalifah. "Siapakah gerangan yang menangis di dalam wahai ibu?" tanya Umar kepada ibu tua.

"Dia anakku Tuan," jawab ibu tua itu. "Apa gerangan yang membuat dia menangis? Apakah dia sakit?" tanya Umar lagi. "Tidak. Dia kelaparan," jawab si ibu ketus. Umar dan Aslam tertegun beberapa lama, keduanya merasa heran melihat si ibu tua yang tak kunjung selesai memasak.

Mengatasi rasa herannya, Umar kemudian bertanya, "Apa gerangan yang kau masak itu? Kenapa tidak masak juga?" Si ibu kemudian menoleh, "Silakan, kau lihat sendiri." Ketus si ibu tua itu. Umar dan Aslam kemudian menengok isi panci itu. Mereka seketika terkaget menjumpai isi panci yang tidak lain berupa air dan batu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Umar dengan sangat kaget. Si ibu menjawab dengan menganggukkan kepala. "Untuk apa kau masak batu itu?" tanya Umar lagi. "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang sedang kelaparan. Semua ini adalah dosa Khalifah Umar bin Khattab.

Dia tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sejak pagi aku dan anakku belum makan . Makanya kusuruh anakku berpuasa dan berharap ada rezeki ketika berbuka.  Tapi, hingga saat ini pun rezeki yang kuharap belum juga datang. Kumasak batu ini untuk membohongi anakku sampai dia tertidur," kata ibu tua itu.

"Sungguh tak pantas jika Umar menjadi pemimpin. Dia telah menelantarkan kami Rakyatnya," sambung si ibu.


Mendengar perkataan kasar ibu tua itu, Aslam berniat menegur si ibu dengan mengingatkan bahwa yang ada di hadapannya adalah sang Khalifah. Namun, Umar kemudian menahan Aslam, dan segera mengajaknya kembali ke Madinah sambil meneteskan air mata.

Sesampai di Madinah, tanpa beristirahat, Umar langsung mengambil sekarung gandum. Dipikulnya karung gandum itu untuk diserahkan kepada sang ibu. Melihat Umar dalam kondisi letih, Aslam segera meminta agar gandum itu diangkatnya. "Sebaiknya aku saja yang membawa gandum itu, wahai Amirul Mukminin," kata Aslam.

Dengan nada keras, Umar menjawab, "Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan Akhirat?"

Aslam pun tertegun mendengar jawaban itu. Dia tetap mendampingi Khalifah mengantarkan sekarung gandum itu kepada si ibu tua. Kisah mengharu biru zaman Khalifah Ummar Bin Khattab ternyata terulang kembali di tahun 2016 ini, tepatnya di kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat.

Sepasang suami istri miskin papa yang tinggal di istana derita mereka yang beratapkan langit berlantaikan  tanah. Mereka adalah Karmedi alias Kar (41) dan istrinya Siti Aminah alias Gebek (40) warga Lingkungan I Kampung Banten Desa Hinai Kiri, Secanggang Langkat.

Saat disambangi wartawan bersama Ketua ICW Koorda Langkat M.Mas,ud, Karmedi menceritakan bahwa istrinya demam selama dua ini, namun pria paruh baya yang berkerja berpenghasilan sehari Rp.17.000 ini tak menceritakan apa masalah utama yang menyebabkan istrinya demam.

Telisik punya telisik , ahkhirnya Ia (Kar-red) mengaku, bahwa mereka telah 3 hari 2 malam tak makan nasi, karena ketiadaan beras untuk dimasak. “Masya Allah ,, rupanya bu Gebek ini demam karena ketiadaan beras untuk dimasak, masih ada di zaman modern ini masyarakat Langkat yang hidup dalam kelaparan” Ujar Dimas menahan haru saat menyerahkan tali asih untuk pembeli beras keluarga ini

Sementara Karmedi, saat ditanya kenapa Ia dan istri bertahan dalam kelaparan, padahal jiran tetangga, handai taulan bahkan kepala Desa dapat dimintai pertolongan, Karmedi hanya tertunduk dengan seribu bahasa.

“Gak berani saya pak, kami orang miskin papa, tak sanggup kami minta pertolongan, iya kalo ditolong kalo ngak hanya jadi bahan gunjingan, biarlah kami puasa pak, semoga Allah menolong kami simiskin, makasih ya pak Dimas” ucap Karmedi penuh syukur.(yg)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments