logo

Hakim & Jaksa Diduga Menerima Upeti Dari Terdakwa

Kasus Penculikan Jadi Perdebatan :
Hakim & Jaksa Diduga Menerima Upeti Dari Terdakwa




STABAT –News Metrolangkat.com

Kasus penculikan yang dialami korban Andi Kesuma alias Asia pada saat kejadian berusia 27 tahun, yang terjadi pada, Sabtu 08 Nopember 2014 lalu, sekira pukul 05.00 WIB di Jalan Umum depan BRI, Jln.Pemuda, Kel.Pekan Tanjung Pura, Kec.Tanjung Pura yang dilakukan oleh terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, dinilai sangat aneh.
Asia korban penculikan


 Pasalnya, sejak sidang pertama digelar di PN Negeri Stabat, baik anggota Majelis Hakim, Edy Siong SH, M.Hum serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Langkat, M.Alfriandi Hakim SH, diduga telah melakukan perbuatan melakukan intervensi  terhadap korban Andi Kesuma alias Asia, agar tidak berbicara banyak dan harus diam sesuai arahan hakim saja.



Bukan hanya itu, sejak kasus yang ditangani penyidik Polres Langkat berdasarkan Surat Laporan Polis Nomor : LP/692/XI/2014/SU/Lkt, tanggal 08 November 2014, tetang perkara tindak pidana kejahatan terhadap kemerdekaan orang dan pemaksaan dan atau mengancam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 333 ayat (1) subsider Pasal #55 ayat (1) KUHPidana, melimpahkan berkasnya ke JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Langkat, mulai terlihat adanya kejanggalan.



Dalam beberapa kali persidangan, ada beberapa materi dan pasal yang tertuang dalam berkas dakwaan, berbeda dengan hasil Berita Acara Penyidikan (BAP) dari pihak penyidik (kepolisian) yang sudah disusun JPU Kejari Stabat, selalu berubah-ubah (sumir).



“Bayangkan, kalau menurut BAP dari penyidik kepolisian Polres Langkat, terdakwa dikenakan Pasal 333, subider Pasal 328 subsider Pasal 335, namun dalam beberapa kali persidangan pasalnya selalu berubah-ubah. Dalam persidangan pertama dan ke empat, JPU malah menghilangkan Pasal 333 dan 328 menjadi pasal 335 dan mengganti pasal lainnya menjadi Pasal 484 tentang perbuatan tidak menyenangkan,” ujar Jonni, keluarga dari korban Andi Kesuma alias Asia, yang didampingi, Ardiansyah (LSM Bara Api), Hasan, Denny dan Along, kepada METRO LANGKAT, di Stabat (9/8), sore, usai menyaksikan persidangan kasus tersebut di PN Stabat.



Ditambahkan Jonni, sejak sedang kedua hingga persidangan ke lima dengan agenda sidang Pembacaan Tuntutan JPU dengan nomor agenda persidangan 434/Pid.B/2016/PN STB, pihak korban tidak pernah diberitahu oleh JPU kapan agenda persidangan tersebut akan digelar. Bahkan keluarga korban dianggap seperti sudah tidak akan mengehadiri persidangan  tersebut dan terus berjalan tanpa dihadiri korban dan saksi korban.



“Anehnya, saat sidang dalam agenda pembacaan tuntutan, pada saat sidang berlangsung, Anggota Majelis Hakim yang menyidangan kasus tersebut menjadi hakim tunggal, Edy Siong SH, M.Hum, terkesan hanya main-main. Dugaan permainan yang ditunjukkan majelis hakim Edy Siong dan dan JPU, M.Alfriandi Hakim SH, semakin mencolok.


Masak iya, begitu sidang baru dibuka, begitu melihat Kami datang, sidang langsung diketok oleh Hakim Edy Siong. Ini sidang apa sebenarnya? Masak iya baik Majelis Hakim dan JPU bisa akrab berjalan beriringan dan pergi dengan terdakwa mengendarai mobil masing-masing langsung meninggalkan PN Stabat menuju ke salah satu rumah makan. Ada apa ini?” ujar Jonni lagi sembari mengatakan bahwa usai persidangan tersebut, baik Majelis Hakim dan JPU tidak memberitahukan hasil dan status persidangan.



Ditambahkan Jonni, Majelis Hakim, Edy Siong, ini pernah menjadi salah satu hakim kontroversi yang memvonis hukuman mati anak di bawah umur di Nias pada pada bulan Mei tahun 2015 lalu, dan kasusnya masih ditangani Komisi Yudisial (KY) dan KONTRAS.



“Kita tau sebenarnya kasus penculikan keponakan saya ini majelis hakim dipimpin 3 orang. Masing-masing Dewi Andriyani (Ketua) Anita Silitonga dan Edi Siong (masing-masing anggota). Tapi dalam sidang ke lima dalam agenda Pembacaan Tuntutan, yang menyidangkan cuma Edy Siong. Anehnya, Edy Siong yang menjadi hakim kontroversi karena memvonis hukuman mati anak di bawah umur ini, sepertinya coba menimbulkan masalah baru di PN Stabat.

Kita puya dokumentasi, dimana usai persidangan “abal-abal” yang hanya berlangsung 2 menit, JPU M.Alfriandi Hakim SH, langsung merangkul terdakwa untuk pergi meninggalkan PN Stabat. Hakim Edy Siong SH,M.Hum, yang berada di dalam mobil Pajero warna putih langsung didatangi paman terdakwa, melakukan perbincangan dan kemudian beriringan meninggalkan PN Stabat,” ujarnya.



Dari pantauan METRO LANGKAT BINJAI, saeusai persidangan “kilat” kasus penculikan dengan terdakwa Winardi alias Ahen, seluruh hakim dan panitera dikumpulkan di salah satu ruangan di lantai II Gedung PN Stabat. Selanjutnya, seluruh hakim dan panitera serta staf PN Stabat buru-buru meninggalkan gedung pencari keadilan tersebut.



Sementara itu, Majelis Hakim Edy Siong, usai persidangan “kilat” yang dipimpinnya, langsung dicecar keluarga korban sehubungan dengan status persidangan dan mengapa pihak korban tidak dibertahu hasil persidangan serta undangan untuk mengikuti sidang.



Namun, Hakim Edy Siong, malah menyarankan keluarga korban untuk menanyakan hal tersebut ke Humas PN St, sembari langsung meninggalkan gedung PN Stabat beriringan bersama terdakwa.



“Bahkan, biar tau aja Bro, JPU Hakim (M.Alfriandi Hakim SH-Red), pernah saya tanyakan kenapa pasal yang ditetapkan selalu berubah-ubah dan mengapa mobil terdakwa jenis Avanza warna biru abu-abu BK1311 RW yang sudah disita sebagai barang bukti karena digunakan untuk menculik korban, tidak tampak di Kejari Langkat.
Bahkan Ibu terdakwa, Ani, yang diduga sebagai otak penculikan dan pengancaman korban Andi Kesuma alias Asia, karena kasus hutang pelunasan sisa tunggakan arisan, tidak pernah dihadirkan dalam persidangan. Begitu juga narkoba  sabu-sabu yang digunakan terdakwa Winardi alias Ahen, sebagai alat menakut-nakuti korban agar terjerat hukum dalam kasus lain, tidak pernah diusut,” ujar Jonni yang diamini para pendamping korban.



Hingga gedung PN Stabat sepi, sampai saat ini, baik korban dan pendampingnya, belum tahu status sidang pembacaan tuntutan bagi terdakwa, apakah ditunda atau ada salinan putusannya.



Sementara itu, JPU Kejari Stabat, M.Alfriandi Hakim SH, sebagai jaksa yang membacakan tuntutan, saat dikonfirmasi METRO LANGKAT terkait adan ya dugaan perubahan pasal dan indikasi pungli untuk merubah pasal yang menguntungkan terdakwa kasus penculikan, belum berhasil. Konfirmasi yang dilayangkan ke ponselnya, belum kunjung berbalas.



Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum Kejari Stabat, Ilham SH, menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan konfirmasi langsung kepada jaksa bersangkutan yang menyidangkan kasus penculikan tersebut.



“Tidak ada perubahan pasal dalam perkara Hendri Winardi, dan hari ini agenda acara tidak ada pembacaan tuntutan. Dan antara terdakwa dan jpu akrab itu harus karena tanggungjawab dalam sidang. Terimaksih atas infonya,” ujar Ilham SH, menjawab konfirmasi METRO LANGKAT, melalui pesan singkat dari ponselnya, Selasa (9/8) sekitar pukul 20.00 WIB malam.(RUDI)










Tags

advertisement centil

Metrolangkatbinjai.com - merupakan media informasi terupdate seputaran kabupaten langkat, dan selalu memberikan informasi-informasi yang menarik setiap harinya.