Arisan Antar Keluarga Berujung Penculikan



 Laporan : Rudi H


Arisan Antar Keluarga Berujung Penculikan
 


Nama saya Andi (27). Inilah sekelumit kisah drama hidup yang saya alami.
Kasus drama penculikan yang saya alami ini bermula dengan adanya kegiatan arisan antar keluarga dan kerabat.

Selama lebih 10 tahun saya mengikuti arisan ini tanpa pernah ada permasalahan apapun. Semua proses pembayaran kewajiban setoran dan penarikan, semua berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, langkah, rezki, pertemuan dan maut, memang semua sudah diatur oleh Tuhan. Belakangan, ayah saya sering sakit-sakitan dan usaha yang saya geluti juga mulai tersendat.

Perputaran perdagangan kecil-kecilan yang saya jalani terpaksa terhenti karena kehabisan modal akibat modal yang ada menyangkut di kolega saya yang. Sehingga mulai menimbulkan masalah dalam pemabayaran dan setoran arisan.

Singkat cerita, sekitar tahun 2014 lalu, setoran arisan saya otomatis tesendat yang menjadi hutang dengan pemegang kendali arisan, yakni keluarga Hendrik Winardi alias Ahen.

Akibat hutang pembayaran setoran arisan (maaf.., nominalnya tidak saya sebutkan-red), saya akhirnya diculik oleh pelaku Hendrik Winardi alias Ahen, yang mengakibatkan saya selalu ketakutan dan sangat trauma selama setahun. Padahal, selama ini saya coba membayar hutang yang nilainya tidak seberapa itu dengan cara mencicil.

Awal cerita penculikan terhadap diri saya tersebut terjadi di Jalan Pemuda, persis di depan Bank BRI Tanjung Pura, Kab.Langkat, sekitar pukul 05.30 WIB.

Pada saat itu, saya sedang berusaha mencari sesuap nasi bersama istri saya (Yanti) guna memenuhi kebutuhan anak kami tercinta (Andi) Tapi tanpa diduga dan tidak disangka-sangka, dalam setiap langkah saya ternyata sudah dibayang-bayangi oleh Hendrik Winardi alias Ahen, anak dari Bu Ani, yang mengendalikan arisan.

Saat kaki saya dan istri melangkah menjalankan usaha kecil-kecilan yang kami lakukan, tiba-tinba satu unit mobil jneis Avanza warna Hitam BK 1311, melaju ke arah kami (saya dan istri). Tiba-tiba, persis di depan saya dan Yanti, istri tercinta, mobil tersebut tiba-tiba berhenti.

Tanpa basa basi, turun tiga orang lelaki bertubuh tegap langsung menghampiri saya dan istri. Tiba-tiba, salah seorang pria tegap tersebut langsung mencekik leher saya. Sementara 2 pria tegap lainnya menyeret paksa saya dan memasukkan tubuh saya ke dalam mobil tersebut.

Saya sangat terkejut dan ketakutan setengah mati. Namun, begitu saya berada dalam mobil para penculik itu, saya melihat sudah ada 3 pria lainnya. Diantara pria yang menculik saya ternyata salah seorang diantaranya Hendrik Wanardi alias Ahen, anak dari Bu Ani, pengendali arisan warga Medan.

Tanpa basa-basi kemudian saya diapit diantara pria tegap lainnya. Disaat itulah si Hendrik Winardi alias Ahen mengeluarkan kata-kata bernada ancaman.

“Mati kau sekarang..!” ujar Hendrik kepada saya yang gemetar ketakutan.

Dengan penuh ketakutan, saya coba beranikan diri mengutarakan rasa penasaran atas penculiian di depan istri saya.

“Kenapa culik saya ? Kalau saya ada salah kita kan bisa bicara baik-baik, Hen..(panggilan singkat untuk Hendrik Winardi alias Ahen)..!?” ujar saya gemetar.

Tetapi Hendrik Winardi alias Ahen sepertinya terus dirasuk setan. Mendengar kalimat yang saya lontarkan, Hendrik Winardi malah mnegeluarkan kalimat bernada ancaman lain.

“Mati kau binatang..! Biar kau tahu aku ini siapa..!” ujar Hendrik terlihat beringas.

Mobil kami terus berjalan meninggalkan istri saya yang menjerit-jerit histeris atas kasus penculikan yang saya alami, menuju ke Hamparan Perak, Kab.Deli Serdang.

Tidak cuku dengan memaki dan mengancam, tiba-tiba Hendrik Winardi alias Ahen malah mengeluarkan seseuatu dari saku celananya. Barang yang diambil dari saku cerlana tersebut kemudian diarahkan ke wajah saya.

“Kau tahu ini apa..? Ini sabu sabu alias narkoba..!” ujar Hendrik Winardi sembari memasukkan benda berbentuk kristal berwarna putih derbungkus plastik kecil bening.

Dengan masih kesetanan, Hendrik Winardi alias Ahen mengancam saya jika sabu sabu tersebut bakan dilarutkan dalam air dan akan memaksa saya untuk minum. “Sabu sabu ini nanti aku masuikkan ke dalam air dan harus kau minum,” ujar Hendrik dengan penuh nada ancaman.(bersambung)
Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments