Ya Allah...!!! Pemkab Langkat Tak Pernah Lirik Prestasi Anak Negri

Coretan Yong :


Yong Ganas.
Cerita Dibalik Piala Danone 2016:
Ya Allah...!!! Pemkab Langkat Tak Pernah Lirik Prestasi Anak Negri


Final Piala Dunia Danone Nations Cup (DNC) 2016 yang digelar Minggu (24/7) di Stadion Remaja Soemantri Brojonegoro- Kuningan Jakarta Selatan, usai sudah. 16 Tim yang terbagi dalam 4 Grup telahpun membuktikan kekuatan Tim Masing-masing.

Diantara ke-16 Tim tersebut SSB Metro Langkat berada di Grup (A) bersama Jakarta – SSB Imran Soccer Academy, Sulawesi Barat – SSB Mitra Manakarra Mamuju,
Papua – SSB Batik. Dan digrup ini SSB Metro Langkat merupakan juaranya.

Untuk sampai ketitik ini bukanlah persoalan mudah. Sebab, saat dilakukan seleksi ditingkat Kabupaten/ Kota hingga Propinsi, SSB Metro Langkat harus kerja keras  menyisihkan 448 Tim SSB se Sumut hingga memastikan diri menjadi sang juara mewakili Propinsi ini membawa nama daerah Langkat.

Tim SSB Metro Langkat dipastikan  mendapat Tiket melangkah ke Jakarta mengikuti pertandingan berikutnya. Di Jakarta Tim SSB Metro Langkat akan berhadapan dengan Tim SSB dari setiap Propinsi yang ada. Untuk mengimbangi mereka bukanlah perkara yang mudah. Apalagi anak-anak SSB dari Propinsi lain itu didukung sepenuhnya oleh Pemerintah daerahnya maupun Propinsi-nya. Baik itu dukungan semangat (moril) maupun materi. 

Wajar kalau fasilitas mereka jauh lebih baik ketimbang Tim SSB Metro Langkat yang tak dilirik Pemerintah kelahirannya dari dilahirkan hingga menorehkan Prestasi dikancah Nasional. Namun, semangat anak-anak SSB Metro Langkat untuk mengharumkan nama daerah khususnya dan Propinsi umumnya tak pernah kendur.

Itu karena niat awal pendirian SSB (Sekolah Sepak Bola-red) ini oleh M Darwis Sinulingga memang bukan karena sesuatu melainkan keinginan membina anak-anak Negeri ini yang punya bakat namun tak terbina. Bercerita kebelakang lagi, SSB Metro Langkat didirikan sekitar 6 bulan lalu. Awalnya, seorang penggila bola di Stabat yakni T Alihafizsyah datang menemui penulis.

Katanya, “ Bang...!! aku mau abang jadi pembina bola, karena kulihat di Langkat ini, banyak Tim Bola yang mati suri akibat kurangnya Pembinaan dari Pemerintahnya, jadi aku punya usul bagaimana kalau kita dirikan sekolah sepak bola SSB Metro Langkat, biar aku yang melatih anak-anak bersama dua pelatih lainya yakni Julfan dan M Yunus, sedangkan abang jadi pembinanya, “ kata Tengku Ali waktu itu.

Jujur, penulis tertawa mendengar penyampaian T Ali tadi waktu itu. Pasalnya, untuk mengurusi sebuah Tim sepak bola atau SSB bukanlah mudah. Selain penulis sendiri bukanlah pemaian bola, untuk menghidupi sebuah tim membutuhkan banyak pengorbanan, baik waktu, pikiran, tenaga dan uang.

“ Aku mohon maaf Tengku, kayaknya aku ngak sanggup, jadi coba cari sajalah orang lain, aku ngak punya uang, untuk menghidupi koranku ini saja aku harus jual koran dulu, jadi bagaimana mungkin aku bisa menghidupi yang lain, “ kataku memberikan alasan kepada T Ali waktu itu.

“ Bang..!! aku ngak minta uang dari abang, yang aku minta abang jadi pembina kita, membina SSB Metro Langkat, itu saja,aku sedih lihat anak-anak ngak tau mau main kemana, karena ngak ada yang mengurusi,  kalau persoalan yang lainya bisa kita lakukan secara gotong royong,tiap latihan kalau perlu bawa bontot (bekal makanan-red) dari rumah masing-masing “ jawab Tengku membujuk.

Mendengar ketulusan hatinya aku tak dapat menolak apa yang disampaikan T Ail tadi. Ahirnya akupun setuju untuk membuka SSB Metro Langkat. Begitu SSB Metro Langkat dibuka, persoalan kecil mulai muncul. Persoalan itu meliputi untuk pembelian kaos kaki, bola buat latikan, sarung tangan, kostum dll.

Tak dipungkiri, untuk mengadakan kaos kaki saja aku sempat kebingungan, memang uangnya tidak seberapa, namun karena memang tak punya uang, aku meminta anak-anak untuk bersabar dulu. Untuk mengatasi beban pembelian kaos kaki latihan anak-anak SSB akupun menjual koran dengan menyisihkan Rp.500 rupiah setiap satu exp nya dari penjualan.

Ahamdulilah dalam satu minggu kebutuhan buat pembelian kaos kaki tadipun terpenuhi. Kira-kira begitulah cara ku dan kawan-kawan menghidupi SSB ini. Dari memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-hari saat latihan dilapangan sampai memenuhi undangan tanding diberbagai tournamen mulai tingkat Kecamatan, antar SSB, hingga Kabupaten Kota, Piala Dispora, Piala Bupati, Piala Mempora dan lain-lain sebagainya.

Untuk mengikuti tourmanen-tournamen tersebut jelas tidak gratis. Pastinya ada uang pendaftaran dan sebagainya. Otak penulis terus dipusingkan dengan biaya-biaya tersebut. Memang nominalnya masih terbilang ratusan ribu. Ada yang pendaftaranya Rp.300 ribu, hingga Rp.450 ribu.

Meski angkanya kecil menurut ukuran pejabat, tapi menurut kami angka tersebut harus keluar keringat dulu mencarinya. Karena semangatnya anak-anak SSB hendak mengikuti setiap event tersebut dengan segala upaya penulis mencarikan biaya pendaftarannya. Alhamdulilah, dari setiap Turnament yang diikuti Tim SSB Metro Langkat selalu pulang dengan membawa prestasi.

Dalam kurun beberapa bulan saja, ada belasan Tropi yang diperoleh anak-anak SSB Metro Langkat. Kini Tropy-tropi tersebut menghiasi kabin steling diredaksi Hr Metro Langkat. Hingga ahirnya Liga Danone DNC Regional Sumatera Utarapun dihelat. Mimpi rasanya untuk ikut dikompetisi ini. Apalagi sepanjang sejarah, dari Langkat khususnya belum ada yang bisa lolos di Piala Dunia bola tingkat anak-anak tersebut.

Tapi pantang rasanya menyerah sebelum mencoba. Dan seperti mimpi meman. Setelah mengikuti berbagai tahapan dan seleksi, pada tanggal 30-31 Januari 2016 lalu bertempat di Stadion Teladan-Medan, Tim SSB Metro Langkat mampu menaklukkan ratusan SSB yang ada di Sumut hingga memperoleh Tiket mengikuti Final Piala Danone DNC di Jakarta 23-24 Juli 2016.

Sungguh prestasi yang mengharukan. Harunya?, karena sampai saat hari ini Pemerintah Kabupaten Langkat sendiri belum sempat mengucapkan Apresiasinya kepada anak-anak ini sebagai bentuk dukungan. Untuk yang kesekian kalinya kepala penulis dibuat pusing dengan undangan keberangkatan ke Jakarta.

Sebagai ungkapan kegembiraan, penulis selaku pembina  SSB Metro Langkat coba mengabarkan hal ini kepada pihak Pemerintah Kabupaten Langkat melalui dinas Terkait yakni Dispora. Pemberitahuan tersebut dilakukan secara lisan maupun tulisan yakni surat. Dalam surat tersebut dijelaskan kalau anak-anak SSB memohon waktu dan kesedian Bupati Langkat selaku kepala daerah untuk melepas keberangkatan Tim SSB Metro Langkat berlaga di Jakarta.

Sayangnya, meski empat hari sebelum keberangkatan surat telah dilayangkan, tapi tak ada jawabpan dari Pemerintah Kabupaten Langkat. Padahal, tak hanya Bupati saja yang dikabarkan, Sekertaris Daerah (Sekdakab) Langkat, Kadispora  juga telah diberi tahukan. Tapi memang sebuah Prestasi tak ada gunanya agaknya di Bumi Amir Hamzah ini. Belakangan tersiar kabar kalau semua pejabat di Langkat berbondong-bondong menjemput Piala Adipura di Batam.

Ahirnya tanpa ucapan dari satu orangpun pejabat di Langkat, anak-anak bola binaan SSB Metro Langkat yang membawa nama besar Kabupaten dengan seribu masalahnya ini, berangkat menuju Bandara KNIA sebelum terbang ke Jakarta. Mengunakan angkutan L300 pinjaman seorang pedagang sayur asal Sei Semayang-Sunggal, Rivaldo Saragih, Rizky Firdaus, Aulia Fahriki, Kaka Irawan,  Habib Firnanda, M Rafi Yuanda Saragih. Arkhan Fikri, M Adlin Dwi Cahyo, dan Raka Rayhan diangkut pukul 05.00 Wib tanggal 20 Juli kemarin.

Rupanya kabar menyedihkan ini sampai ketelingga Gubernur Sumut H.T Eri Nuradi. Jelang tenggah hari pasca keberangkatan Tim SSB Metro Langkat, penulis dan Oficial lainya diterima Gubernur diruangan kerjanya didampingi Kadis Pora Sumut, Burhanuddin Siagian. Dengan besar hati orang nomor satu ini mengucapkan selamat dan sukses kepada Tim SSB Metro Langkat.

“ Atas nama Pemerintah Sumatera Utara saya mengucapkan selamat kepada Tim SSB Metro Langkat, saya salut dan bangga ada Tim sepak bola dari Langkat yang berprestasi seperti ini, insya allah kita bisa menang dan melaju ke luar Negeri. Meski tidak ada perhatian dari Pemkabnya, tetaplah semangat kepada anak-anak, “ pesan Gubernur memberi semangat.

Sambutan singkat Gubsu tadi setidaknya menjadi pengobat hati anak-anak SSB yang pergi tanpa disemangati oleh Pejabat Langkat yang mestinya mendukung secara moril prestasi yang ditorehkan anak-anak bangsa ini.Dan hari ini Minggu (24/7) Tim SSB Metro Langkat membuktikan diri mampu mensejajarkan diri diliga Nasional bersaing dengan Tim bola yang serbacukup asupannya dari Propinsi lain.

Setelah berjuang tanpa dukungan dari Pemkab Langkat,  Tim SSB Metro Langkat ahirnya menduduki posisi ke-4 Sei Indonesia setelah Jakarta Juara-1, Jawa Tenggah-2, Jawa Timur-3 dan Sumut (SSM Metro Langkat) Juara-4. Posisi tersebut sebenarnya tak pernah dimimpikan oleh penulis maupun pelatih. Sebab, bisa masuk ke Stadion Teladan-Medan saja waktu itu kami rasa itu sudah prestasi yang luar biasa.

Tapi berkat tangan dingin pelatih dan tuah badan anak-anak, kita ahirnya bisa menorehkan prestasi yang selama ini belum pernah ditorehkan tim Sepak Bola anak-anak dari Langkat maupun Sumut. Sayangnya, menyempatkan diri untuk melontarkan  ucapan selamat atas prestasi ini saja Pemkab Langkat pelit.

Apalagi yang lain. Mmmmm.. Semoga kedepanya Pemkab Langkat mau memperhatikan anak-anak berprestasi dari Negeri ini, apapun prestasi itu.Dan menyisihkan sebagian angaran Pemerintahnya buat membina anak-anak berprestasi tadi bukan hanya  sibuk meraih prestasi semu yang ceritanya itu-itu saja. Begitu juga wakil-wakil rakyat di Langkat hendaknya saudara peduli dengan kondisi ini bukan malah sibuk menambah angaran belanjabuat jalan-jalan.(**)


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments