Ratusan Remaja Lakukan Aksi Kesadaran Dampak Kawin Muda

Ratusan Remaja Lakukan Aksi Kesadaran Dampak Kawin Muda
 STABAT - News Metrolangkat.com



Memperingat Hari Anak Nasional (HAN) 2016, ratusan remaja berasal dari perwakilan seluruh pelajar setingkat SMU/SMK/Sederajat  se Kabupaten Langkat dan Pramuka, melakukan serangkaian kegiatan serta aksi menyebarluaskan informasi tentang predator anak serta resiko dari pemaksaan kawin muda.

 Aksi kepedulian sosial yang diselenggarakan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kab.Langkat, menggandeng salah satu organisasi sosial masyarakat Non Government Organization (NGO) PESADA Medan dan Forum Multi Stakeholder (FMS) Lancang Kuning, berlangsung tertib di bawah pengawalan satuan pengamanan dari Polres Langkat, Sabtu (23/7).

Adapun kegiatan yang dilaksanakan tersebut, mulai dari diskusi dengan tema Membangun Kesadaran Kritis Mengenai Dampak Kawin Anak, dimulai dari Taman Budaya Tengku Amir Hamzah, Kompleks Lemtaba Stabat dan melakukan aksi bersama turun ke jalan ke arah Bundaran Simpang Kantor Bupati Langkat.

Dalam orasinya, Yeni Rosdaini, salah satu pengurus dari P2TP2A Kab.Langkat, menjelaskan tentang Sosialisasi Kekerasan Terhadap Perempuan dan UU Perlindungan Anak.

 Menurut Yeni, perempuan dan anak sangat rentan menjadi korban kekerasan. Sehingga, seseorang yang belum berumu 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, berhak mendapatkan perlindungan Pengalahgunaan dalam kegiatan politi, Melibatkan dalam sengketa bersenjata/konflik, Melibatkan dalam kerusuhan sosial, Melibatkan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dan melibatkan dalam bentuk peperangan.


“Anak juga berhak mendapatkan perlindu8ngan perlakuan dari perbuatan disakriminasi, eksploitasi ekonomi dan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan sexual, penelantaran dan banyak bentuk kejahatan anak lainnya,” teriaknya.

Sementara, lanjut Yeni, kekerasan terhadap anak bisa terjadi dimana-mana.

“Kekerasan dan kejahata seksual terhadap anak bisa terjadi di rumah, lingkungan rumah, sekolah, di jalanan dan tempat-tempat dimana anak-anak dipekerjakan menjadi buruh atau pekerja seks di tempat hiburan malam,” ujarnya bersemangat.

Sementara itu, Pernyatan Sikap FMS Lancang Kuning, yang dibacakan Fatimah Triyani, menyatakan, bahwa berdasarkan data P2TP2A Langkat, untuk semester I tahun 2016, P2TP2A telah menangani kasus kekerasan seksual sebanyak 30 kasus, disusul dengan kekerasan fisik terhadap anak.

“Secara khusus, dalam rangka memperingati HAN tahun 2016, FMS Lancang Kuning menyoroti mengenaimasih maraknya terjadi perkawinan anak di Kabupaten Langkat. Hal ini berdasarkan temuan di lapangan bahwa pada orang tua masih ada anggapan bahwa menikahkan anak perempuan secepatnya merupakan solusi untuk keluar dari persoalan ekonomi,” papar Fatimah.

Ditegaskannya, dampak perkawinan anak/pernikahan dini bagi anak perempuanlebih kompleks dibandingkan dengan anak laki-laki.

“Anak perempuan yang menikah lebih cepat, secara kesehatan reproduksi akan lebih rentan mengalami keguguran dahkan kematian. Tidak bisa lagi mengakses pendidikan, rentan terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga perceraian.

Dalam Pernyataan Sikapnya, P2TP2A, PESADA, FMS Lancang Kuning serta ratusan perwakilan pelajar putra dan putri tingkat SMU/SMK/Sederajat serta pramuka meminta kepada seluruh masyarakat harus ikut berperan serta menjaga serta melindungi anak dari berbagai perbuatan kejahatan terhadap perempuan dan anak.

“Dalam kesempatan ini, Kami mengajak para orang tua untuk tidak menikahkan anak usia dini, mengajak masyarakat untuk tidak mempekerjakan anak usia dini. Usia ideal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan bagi laki-laki adlah 25 tahun. Melaksanakan hukuman kebiri bagi predator anak, mengajak masyarakat berperanaktif melakukan pengawasanpada anak, dan apabila ditemukan kekerasan/pelecehan terhadap anak segera melaporkan ke pihak berwenang, Serta memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi sejak usia dini,” teriak Fatimah.

Sementara itu, PESADA dan FMS Lancang Kuning mengemukakan, berdasarkan sidang umum PBB pada tahun 1954 (resolusi 836-IX) telah merekomendasikan bahwa semua negara agar melembagakan Hari anak Universal, yang akan dipandang sebagai bentuk persaudaraan dunia. Saling pengertian diantara para anak dan sebagai kegiatan promosi kesejahteraan anak di dunia.

“Saat ini memang kehidupan untuk anak-anak belum menguntungkan. Terlepas apakah mereka sadar ataupun tidak. Masalah kesejahteraan terus mengancam kelangsungan hidup anak-anak. Mulai dari dalam kandungan, hingga usia beranjak dewasa, kasus demi kasus yang melibatkan nyawa anak-anak muncul seolah tiada habisnya.

 Contohnya, semakin meningkatnya angka kasus kekerasan seksual, pernikahan dini, aborsi pada janin, narkoba pada anak dan remaja dan banyak lagi kekerasan serta kejahatan terhadap perempuan dan anak terjadi di Kabupaten Langkat,” ujar PESADA serta FMS dalam diskusinya.

Dalam kesempatan itu, baik P2TP2A, PESADA dan FMS Lancang Kuning, menyesalkan kuran berperannya para wanita atau Ibu-ibu yang tergabung dalam beberapa persatuan di tubuh birokrasi Pemkab Langkat.

“Banyak organisasi stau persatuan perempuan, seperti KORPRI, Dharmawanita dari legislatif dan yudikatif serta Persatuan Istri Prajurit (Persit) dan PKK yang sebenarnya sangat berhubungan erat dengan perannya di tengah-tengah masyarakat, kurang berpartisipasi dalam sosialisasi perlindungan perempuan dan anak,” ujarnya.

Aksi damai ratusan remaja putra/putri yang digawangi P2TP2A, PESADA dan FMS Lancang Kuning, mulai dari Taman Budaya Amir Hamzah hingga terpusat di Bundaran Tugu Simpang Kantor Bupati Langkat (jalan lintas provinsi menuju Aceh), menarik perhatian para pengendara.

Selain berorasi, para pejuang anti kekerasan perempuan dan anak, secara bergantian melakukan orasi dan membentangkan spanduk, poster dari kartun yang bertuliskan berbagai bentuk ajakan untuk membudayakan kepedulian masyarakat kepada pengguna jalan.

Selain berorasi menentang kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menentang kebijakan pernikahan dini, ratusan pelajar juga membagi-bagikan stiker Stop Pernikahan Dini kepada masyarakat di sepanjang jalan serta pengguna kendaraan pribadi/umum.(rud)



Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments