MENGUAK MISTERI BUNKER PENINGGALAN BELANDA (Bag-4)




MENGUAK MISTERI BUNKER PENINGGALAN BELANDA (Bag-4)

Penelusuran supranatural dikawasan pintu keluar sebelah wetan berujung diberikannya tanda. Tunggul kayu tualang itu masih dapat terlihat persis disebelah mulut pintu rahasia. Semak belukar juga tanah menutupi mulut pintunya.
Bunker Peningalan Belanda yang menyimpan sejuta Mistis.

 Tanda-tanda alam lainnya masih ikut meyambut kemunculan benda-benda sengaja dikuburkan disekitaran pintu rahasia. Usai menerima kisah dari saksi mata soal ini, penelusurannya ke lokasi memang tak sia-sia. Buktinya, bola merah disertai sehelai selendang terbang rendah. Bagaimana kisahnya?

Pengakuan beberapa saksi mata menerima langsung serta menemukan tada-tanda alam sengaja diserahkan pada manusia terus diikuti. Mengikut sertakannya dalam penelusuran ke lokasi mulut pintu rahasia. Tersembunyi dibalik gundukan meninggi itu, mulut pintu rahasia menyimpan banyak pusaka didalam lorongnya kian terkuak lebar. 

Hanya berjara beberapa puluh meter dari berdirinya bangunan tua atay rumah tuan sebelumnya. Menyusuri beberapa lembah terjal disebelahnya, mulut pintu rahasia itu dapat ditemukan diantara tanaman kelapa sawit beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, komoditi disekitaran lokasi itu hanya tampak pohon puluhan tahun lamanya diusahakan perusahaan perkebunan milik PTPN-2 dulunya. Meski telah berubah komoditi andalannya, lokasi tanaman kelapa sawit tengah diusahakan pihak menajemen Kepong Malaysia namun tetap mengeluarkan pesan juga tanda sejatinya benda didalamnya. 

Usai terdengar suara azan sholat I’sya dikawasan, melangkahkan kaki menuju hanya bermodalkan senter tangan biasanya. Berjalan perlahan melintasi lokasi pabrik buatan Belanda tidak beroperasi lagi itu.

Gudang-gudang tua tetap digunakan meski berusia ratusan tahun. Berjalan menurun meninggalkan lekukan bukit diseaki tumbuhan kelapa sawit masih berusia muda. Aura mistisnya mulai terserap supranatural itu.

Saksi mata dalam soal inipun ikut merasakan kehadiran sosok-sosok sudah mulai menampakkan diri disekitarannya. Saksi mata itu mengarahkan arah pintu keluar “ Bergeraknya sedikit ke hilir, jika langsung menemukan mulut pintu keluar dituju “ dianjurkannya melintasi pabrik tua dan tak beroperasi itu.

 “ Sebaiknya memang dari arah sini… ??” sebut saksi itu sembari berjalan perlahan. Ki Zoel dengan tenang mengikuti arahan saksi mata dalam soal ini, hanya terus mengamati kejadian didepan “ Berapa jauh lagi ditemukan mulut pintunya ?!” tanya Ki Zoel sembari memperhatikan keganjilan mulai tampak.

“ “ Itu ada dibalik tanaman hanya beberapa puluh pohon lagi “ Jawab saksi itu kian cepat berjalannya. Tak sabar menemukan mulut pintu keluar, Ki Zoel bersama saski itu, terus menerangi beberapa wilayah lainnya dibantaran tebing serta tanah gundukan.

“ Itu lokasinya …?!” tunjuk saksi itu dengan mengarahkan senternya. Mulut pintu sudah tertutup tanah, hanya beberapa jerjak besi ukuran sejempol tangan masih dapat terlihat walau beberapa helai saja.
Membersihkannya dengan perlahan, ukuran mulut pintu dijumpai. Arah sebelah kiri dan kanannya hanya berkisar satu meteran saja. Sedangkan tingginya kurang dari satu meter bisa dibaca.

Kelelahan membersihkan pintu rahasia, terpaksa harus beristirahat sejenak mengusir rasa letih dengan semangat menggebu-gebu sebelumnya itu. Saksi mata itu bernama Mas Moge,  dilahirkan disekitaran lokasi perkebunan 50-n tahun silam it uterus berkelakar.

 Kesan akrab walau masih beberapa kali bersua dengan supranatural muda (Ki Zoel.red) sengaja memburu lokasi berawal informasi dari penduduknya. Beristirahat beberraps saat, menyuguhkan sajian istimewa makhluk sengaja menunggui benda pusaka masih terkubur.

Mencoletkan beberapa titik minyak wangi sengaja dibawanya. Mempersiapkan seluruh keperluan juga kebutuhan utama makhluk disekitarannya. Ki Zoel dengan sederhana melakukan ritual dalam menjemput kebenaran selama ini terus bergulir ditengah-tengah masyarakat terkait soal peti pusaka masih dibawa pergi berpindah-pindah penjaganya.

Bergerak mundur beberapa langkah dari mulut pintunya, berkelakar dengan suara sedikit berbisik-bisik dimalam cerah penuh bintang diatas langitnya. Tiba-tiba  diserahkan rasa panas muncul dari dalam lorong pintu keluar. “ Mas …?!”

 Bisa merasakan hawa panas keluar dari dalam lorong ?!” tanya Ki Zoel pada sahabatnya.  Memperhatikan hawa panas sengaja dirasakan langsung didepan mulut pintu. Diserai angin bergerak kencang memulas pohon kelapa sawit hanya berjumlah tiga batang saja.

Keanehan itu kian muncuat, angin menerpa pohon kian kencang bersama munculnya sehelai selendang putih terbang rendah diatas ujung pohon kelapa sawit masih muda. Masih merasakan hawa panas berasal dari mulut pintu .

Meliuk-liuk menyerahkan khabar berikut tanda kemunculannya. Ki Zoel dengan rendah hati “ Bukan kepingin memilikinya, hanya mencari tahu kebenaran kisah tengah berkembang ??” akunya jujur sengaja menengadahkan kepalanya kearah selendang itu. “ Bukan mau memilikinya …?!” ujarnya berulangkali soal niatnya dilokasi.

Meski tidak ada jawaban sepatah kata[un dari makhluk penunggu pusakanya. Kemunculan dua rasa, hawa panas serta selendang dengan tiuoan angn kencang disekitarnya telah menyerahkan tanda kebenaran soal itu.
Menguji kemampuan , melakoni komunikasi bersama seluruh makhluk penunggu sengaja mengawai pusaka sengaja dibenamkan. Kaget bukan kepalang kedua sahabta sengaja mendatangi lokasi. 

Bola merah berdiameter lebih dari satu meteran itu, menerangi kemunculan peti selama ini dicibirkan warga muncul diatas mulut pintu keluar. “ Pria kekar betubuh kasar tetap mengawasinya kemanapun peti itu bergerak-gerak “ urai Ki Zoel menguraikan kejadian itu pada sahabatnya Mas Moge.

Takjub memandangi kemuncuan peti diatas mulut pintu, sehelai selendang masih terbang rendah mengikuti irama kemunculan peti selama ini misteri. Bola merah itu tetap menerangi kejadian malam itu. “ Jangan bergeser lebih dulu, masih-masing bertahan, disuguhkan peristiwa ganjil dalam mendatangi lokasi.

Laku kendel dipunya Mas Moge, mengantarkannyabeberapa kali menemukan keganjilan soal mpusaka milik mpenguasa perkbunan itu dapat ditatap matanya. “ Besaran dan petinya persis ditunjukkan sebelumnya lima belas tahun silam. Ketika itu masih berusia tiga puluhan tahun. Memeilik omongan masih kecil, peristiwa aneh itu sudah ditunjukkannya.

Dua kali melihat langsung soal ini ??” aku Mas Moge menguraikan kejadian aneh itu. Pria bettubuh kasar itu masih menatap dengan mata tajam pada kami berdua. Ki Zoel dengan semangat tinggi, memolekan kembali minyak bawaannya diatas permukaan bumi lorong rahasia.

“ Terima kasih semua…?!” Peti itu memang benar muncul serta ada pemiliknya. Namun sayang, dalam ritual kelokasi itu, pemilik atau sang penunggu tidak memberikannya semua isi didalam petinya. Berbeda dengan si Mbah, Pembantu rumah tuan sengaja diserahkan bentuk serta model petinya berikut seluruh isinya sengaja dibeberkan  padanya. (bersambung)








Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments