Becak Bawa Kayu Olahan Bayar Rp.20 Ribu

Tiap Melintas Depan Pos Polsek Besitang :
Becak Bawa Kayu Olahan Bayar Rp.20 Ribu

BESITANG - News Metrolangkat.com

InI harus jadi perhatian Kapolres Langkat AKBP Mulya Hakim Solichin SIK. Pasalnya,kinerja Kapolsek Besitang dan jajaranya diduga melangar etika profesi.  Untuk mengelabui berbagai pungli yang dilakukan, oknum - oknum Polsek Besitang membungkusnya dengan modus razia.
Tiap melintas kena pungli di depan Pos Polsek Besitang

Apa yang dilakukan jajaran Polsek sebenarnya di keluhkan banyak masyarakat,pasalanya razia yang dilakukan hanya untuk memuluskan pungli. Selain rajia Pungli, oknum polsek juga melakukan kutipan terhadap angkutan yang membawa barang.

Apa yang dilakukan Mapolsek Besitang tak jarang menuai kecaman dari sejumlah kalangan para sopir angkutan barang, baik truk, pickup dan becak barang roda tiga.

Pasalnya, praktik operasi rutin tersebut cenderung disalahgunakan menjadi praktik pungli (pungutan liar) oleh oknum petugas Polsek dari tengah malam hingga menjelang ‎pagi.

Sehingga sosok polisi menggelar razia di depan mapolsek Besitang seperti "hantu" membuat para sopir angkutan barang mati ketakutan.

Karena, hendak melintasi, sudah pasti terperangkap operasi rajia setiap malam yang digelar, sama artinya sadar tidak pelak dompet akan kebobolan.

Padahal tujuan awalnya sebetulnya baik, di antaranya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), sasarannya termasuk menjaring pelaku kejahatan, razia senjata tajam, narkoba, kejahatan pencurian kendaraan bermotor, hingga antisipasi terorisme.

‎Sayangnya para sopir, truk dan becak barang biasa pun tak luput terjaring dari petugas. Razia cenderung meresahkan para sopir bahwa diketahui "UUD" (Ujung-Ujungnya Duit).

Kenyamanan dan kelanggengan untuk mengangkut barangpun terganggu sehingga sangat terusik sehingga tidak mendapat kenyamanan.

Diakui atau tidak, pungli merupakan "penyakit" lama yang terus menggurita di jajaran kepolisian, hingga saat ini masih saja marak terjadi.

Berdasarkan pantauan yang dihimpun modus oknum polisi pungli saat menggelar sweeping dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat jalan dan jenis angkutan barangnya.‎

Biasanya, para sopir di hadapan polisi seperti telah dibuat "mati kutu", pokoknya dibuat selalu ada saja kesalahan bagi para sopir angkutan barang hendak melintas di depan mapolsek Besitang.

Namun, tidak mau dipersulit dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan agar lebih cepat setiba di tujuan, para sopir mengambil jalur ringkas.

‎Jika memilih jalur ringkas, maka harus memberikan beberpa kocek. Rata-rata nilainya sangat bervariasi berkisar dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.

Tak hanya truk angkutan barang, bahkan tidak luput angkutan becak barang dengan bermuatan kayu ‎olahan dari Nangroe Aceh Darusalam (NAD), setiap becak barang melintas wajib singgah dan melaporkan kepada petugas piket penjagaan.

Sudah tidak rahasia umum lagi, para pengendara becak barang memberikan ‎kocek sebesar Rp20ribu s.d Rp30ribu setiap melintas di depan mapolsek Besitang.

Puluhan ton atau kubik kayu olahan dari NAD tanpa dilengkapi dokumen sah, bebas melintas dan masuk melalui wilayah hukum Polsek Besitang.

Artinya, disinyalir barang ilegal seperti, kayu, bawang dan BBM mentah (kondensat) bebas melintas asal wajib setor kepada oknum petugas ‎polisi di Besitang.

Terkesan operasi polisi yang sebelumnya bertujuan baik, kemudian diselewengkan oleh oknum tertentu menjadi ajang praktik pungli dalam balutan sweeping.

Kapolres Langkat,AKBP Mulya Hakim Solichin,SIK mengatakan akan melakukan kroscek kebenarannya Perihal pungutan liar (pungli) di wilayah hukum mapolsek Besitang.

"Kita akan kroscek informasi ini, dan kita ucapkan Trims atas informasi berharga ini," tegas Kapolres Langkat,AKBP Mulya Hakim Solichin,SIK.( yg)


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments