yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Gaji Belum Terbayar, Puluhan Bidan & Perawat RSU Insani Tingalkan Pasien
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Suasana di RSU Insani tanpak sepi pasca aksi mogok perawat dan bidan  Langkat – Metrolangkat.com Puluhan Bidan dan Perawat di Rumah Sak...
Suasana di RSU Insani tanpak sepi pasca aksi mogok perawat dan bidan


 Langkat – Metrolangkat.com

Puluhan Bidan dan Perawat di Rumah Sakit Umum Insani, secara sepihak melakukan aksi mogok kerja. Hal ini dilakukan karena para pekerja pelayananan kesehatan tersebut merasa kalau pihak manajemen RSU Insani tersebut belum membayarkan gaji mereka.

Namun sayangnya, aksi para Bidan dan Perawat yang melakukan mogok kerja tersebut secara tiba-tiba meninggalkan tanggungjawabnya saat merawat pasien, sejak Senin (30/10) pekan lalu.

Akibat aksi yang sepertinya sudah terkoordinir tersebut, membuat sejumlah dokter dan pihak manajemen RS Umum Swasta yang berlokasi di Jln.Perniagaan 36, Kec.Stabat, Kab.Langkat itu, kelimpungan. Hingga berita ini diterbitkan, para dokter dan staf di rumah sakit itu terpaksa merangkap pekerjaan sebagai perawat dan bidan.

Kendati masih ada beberapa perawat dan bidan yang bertahan untuk tetap melayani para pasien yang datang berobat atau pun pasien rawat inap, namun kondisi tersebut jelas sangat berpengaruh pada pelayanan kesehatan yang diberikan.

Kondisi yang dirasakan saat ini. diakui pihak manajemen Rumah Sakit milik dr.R Suwelen tersebut. Menurut Direktur RS Insani, dr.Rudy, apa yang dilakukan puluhan Bidan dan Perawat yang melakukan aksi mogok secara sepihak itu tentu sangat mengejutkan. Apalagi, saat ini pihak RS Insani mengalami kekurangan tenaga bidan dan perawat sekitar 60 persen.

Pasalnya, sebelumnya sudah berulangkali pihak manajemen menyampaikan kepada para Bidan/Perawat dan seluruh karyawan RS itu untuk tetap bersabar dengan situasi keuangan yang dialami. Karena, pihak majemen memilih lebih mendahulukan kepentingan kebutuhan para pasien yang sedang dirawat inap, seperti kebutuhan makan dan minum.

“Semula, para Bidan/Perawat itu memang memaklumi keadaan keuangan yang sedang kita alami. Tapi, kok tiba-tiba mereka melakukan aksi mogok satu persatu meninggalkan kewajiban dan tanggungjawab mereka dalam melayani para pasien.

 Bayangkan, bagaimana keadaan pasien yang sedang dirawat di ruangan UGD, tiba-tiba ditinggal begitu saja oleh perawat/bidan yang dipercayakan melakukan penjagaan dan perawatan. Kalau terjadi apa-apa dengan pasien, siapa yang disalahkan?” ujar dr.Rudy yang didampingi Manager RS Insani, Nazri Ilong, kepada Metro Langkat, Jum’at (3/11)

Menurut dr.Rudy dan Nazri Ilong, keadaan keuangan RS Insani tersebut disebabkan karena pihak BPJS saat ini sering terlambat mencairkan klaim BPJS yang diajukan pihak manajemen.

“Bayangkan, klaim biaya jasa pelayanan kesehatan yang telah kita kirimkan ke BPJS sering terlambat. Hingga bulan berjalan saat ini, pihak BPJS baru membayarkan klaim yang kita berikan untuk bulan Juli 2017. Sedangkan klaim bulan Agustus, sampai saat ini belum kunjung dibayar. Jujur saja, dalam keterlambatan pembayaran gaji para bidan/perawat serta dokter, memang kita akui adanya kesalahan pihak manajemen.

Namun, karena pasien di RS ini mayoritas seluruhnya merupakan pasien peserta BPJS, jadi keuangan kita mau gak mau ya bergantung kepada pembayaran klaim BPJS. Karena keuangan RS selama ini sudah didahulukan untuk mmbayarkan gaji dan memenuhi segala kebutuhan pasien, khususnya yang dirawat inap,” jelas dr.Rudy.

Dalam kesempatan itu, pihak manajemen RS Insani menilai kalau program pemerintah dalam pelayanan jasa kesehatan melalui BPJS saat ini, seperti pepatah bagai pungguk merindukan bulan.

Sebab, pemerintah saat ini sepertinya tidak siap untuk membayarkan klaim pelayanan kesehatan dari pihak rumah sakit, kususnya RS swasta.

“Untuk Sumatera Utara saja kalau tidak salah, ada 7 RS yang menghentikan kerjasama dengan BPJS. Termasuk di Kota Binjai. Hal ini terjadi karena pihak manajemen merasakan dampak dari ketidakprofesionalan pihak BPJS.

Sehingga, biaya operasional RS sudah tidak sesuai dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk melayani pasien peserta BPJS. Jika pihak BPJS tidak terlambat dan selalu tepat waktu membayar klaim yang diajukan pihak RS, mungkin gak mengalami seperti ini,” papar dr.Rudy.

Menyangkut aksi mogok yang dilakukan, pihak RS Insani mengetahui adanya aksi mogok yang dilakukan puluhan bidan/perawat karena ada pemberitahuan dari pihak Disnakertrans Langkat.

“Memang, pada hari Senin (30/10) itu, bidan/perawat satu persatu mulai menghilang. Namun, pada hari Selasa (31/10) sekitar 35 bidan/perawat kita, diam-diam mendatangi Disnaker untuk melaporkan masalah gaji mereka.

Jadi, kita udah menjelaskan semuanya tentang situasi sebenarnya yang tengah kita hadapi. Sehingga, pihak Disnaker memahami tentang kendala keuangan karena keterlambatan pembayaran klaim dari pihak BPJS. Begitu juga dengan akibat aksi yang dilakukan puluhan bidan/perawat RS ini,” terangnya.

Saat ditanyakan apakah setelah gaji para bidan/perawat yang melakukan aksi mogok dibayarkan, pihak manajemen menerima mereka kembali untuk melaksanakan tugasnya, baik dr.Rudy maupun Nazri Ilong, belum bisa menjawab.

“Kalau masalah para bidan/perawat itu mau kerja lagi setelah kita bayarkan hak mereka, saat ini kita belum mengambil sikap. Namun yang jelas, para bidan/perawat itu dianggap sudah meninggalkan tanggungjawabnya meninggalkan pasien yang menjadi tanggungjawab mereka dalam menjaga dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan bingnya masing-masing.

Saat ini kita sudah banyak bidan/perawat yang mengirimkan lamaran kerja untuk bekerja di sini. Tapi saat ini tenaga mereka masih belumj kita pergunakan, karena sebagai bidan/perawat pemula, belum tentu bisa mengerjakan tugasnya dengan maksimal karena harus belajar lagi dan harus menyesuaikan diri sesuai dengan tugas dan kewajibannya masing-masing,” papar dr.Rudy  diamini Nazri

Dalam kesempatan itu, pihak Rs Insani juga mempertanyakan tentang sikap BPJS Langkat yang sepertinya tidak profesional dengan memindahkan secara sepihak petugas verifikator berkas pengajuan klaim BPJS yang biasanya berada di RS ini ke RS Putri Bidadari.

“Nah, sebenarnya itu yang jadi pertanyaan kita kepindahan petugas verifikator berkas klaim BPJS Yang akan kita ajukan yang bernama Ervanny R Padang, selalu berada di RS kita. Tapi, setelah ada RS Putri Bidadari, kenapa Ervanny R Padang itu kok terus menetap di sana.

Apa pihak BPJS diberikan fee lebih besar oleh pihak RS yang baru saja beroperasi di Kab.Langkat itu. Sehingga, pemeriksaan berkas klaim BPJS yang akan kita ajukan jadi terlambat. Karena pihak verifikator lebih mengutamakan RS yang baru dari pada RS mitra BPJS yang telah lebih dulu beroperasi di Kab.Langkat. Atau paling tidak, pihak BPJS bisa membagi waktu petugas verifikator masing-masing 3 hari, atau mengirimkan petugas verifikator yang lain untuk klaim RS Insani,” harapnya.

Sementara itu, Kepala BPJS Kab.Langkat, Rosmayanti Nasution, SE, MAP, saat dikonfirmasi terkait keterlambatan pembayaran klaim BPJS menyebabkan puluhan bidan/perawat di RS Insani, melakukan aksi mogok mengatakan hal itu bukan tanggungjawab pihak BPJS.

“Kalau gaji bidan/perawat itu, ya seharusnya menjadi tanggungjawab pihak manajemen RS Insani sendiri. Bukan tanggungjawab BPJS. Kalau pun terlambat pembayaran klaim BPJS, ya itu karena pihak RS Insani yang lalai karena terlambat mengirimkan klaimnya,” elak Rosmayanti, mejawab konfirmasi Metro Langkat melalui ponselnya, Jum’at (3/11)

Namun, saat ditanyakan kenapa pihak BPJS bisa terlambat membayarkan klaim jasa pelayanan dan perawatan kesehatan pihak rumah sakit, sehingga saat ini bada beberapa rumah sakit yang menghentikan kerjasama dengan BPJS, Rosmayanti mengatakan kalau saat ini dirinya sendang di Sei Lepan.

“Bang, saya sekarang sedang tugas luar. Saya berada di Puskesmas Sei Lepan. Nanti ajalah saya hubungi lagi. Gak enak ngobrol lewat telfon,” ujarnya.

Namun, janji Rosmayanti akan menghubungi Metro Langkat terkait konfirmasi masalah keterlambatan pembayaran klaim BPJS pihak RS Insani, tidak kunjung menghubungi.

Saat dilayangkan konfirmasi melalui pesan singkat ke ponselnya bahwa pihak BPJS baru membayar klaim yang diajukan pihak RS Insani hanya bulan Juli 2017. Sedangkan klaim yang sudah dimasukkan untuk bulan Agustus 2017, sampai saat ini belum kunjung dicairkan, Rosmayanti tidak kunjung membalas.

Begitu juga saat ditanyakan mengapa petugas verifikator pemeriksaan berkas klaim BPJS yang biasanya bertugas di RS Insani ,saat ini dipindahkan ke RS Putri Bidadari yang baru saja beroperasi. Apakah pihak RS yang baru saja beroperasi tersebut memberikan fee lebih besar kepada pihak BPJS sehingga dipindahkan, Rosmayanti juga tidak membalasnya hingga berita ini diterbitkan.(RUD)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top