yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Terlalu.. Kapolres Ini Samakan Wartawan Dengan Taik Kucing
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Lampung ~ Metrolangkatcom Kalangan jurnalis lakukan aksi pasca komentar tak etis kapolres yang menyamakan wartawan dengan taik kucing. ...
Lampung ~ Metrolangkatcom
Kalangan jurnalis lakukan aksi pasca komentar tak etis kapolres yang menyamakan wartawan dengan taik kucing. (**)

Sikap arogansi Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan, terkait ucapannya yang menghina profesi jurnalis, terutama di Lampung, dengan menyebut wartawan “Taik Kucing” patutlah disayangkan. 

Peristiwa ini bermula saat wartawan Radar TV Way Kanan, Dedy Tarnando, dan Dian Firasta, wartawan Online Tabikpun.com, tengah meliput aksi penyetopan angkutan batubara oleh masyarakat yang tergabung dalam Posko Mawar di Simpang 4 Blambangan Umpu, Way Kanan, Minggu (27/8/2017) dini hari.

Entah karena apa,tiba-tiba Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan, melontarkan kalimat tak pantas itu, sehingga menimbulkan ekses dan kritikan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Lampung dan DPC Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Pringsewu.

“Ya, saya mendapatkan laporan dari Dedy dan Dian Firasta atas pernyataan Kapolres Way Kanan yang menghina profesi wartawan dengan mengatakan ‘Wartawan Taik Kucing’. 

Hal ini kami ketehui setelah mendengarkan bukti rekaman pernyataan Kapolres yang direkam Dedy dan Dian Firasta. Karenanya.kami sangat kecewa dan meminta Kapolres untuk mencabut pernyataanya segera,” tegas Sekretaris IJTI Lampung, Jefriadi, Minggu (27/8) siang.

Menurut Jefri, apa yang dilontarkan Kapolres Way Kanan itu sangat tidak baik. Karena, sebagai Kapolres, lanjutnya, kata-kata itu tidak patut untuk diucapkan di muka umum. Dan hal itu jelas melukai semua insan Pers di Lampung ini.

“Profesi wartawan ini sangat mulia sekali dan tidak sepantasnya untuk dilecehkan seperti itu. Oleh sebab itu kami mewakili kawan-kawan pers di Lampung menuntut dengan tegas jika Kapolres tidak mencabut pernyatanya segera, maka kami akan minta Kapolri mencabut jabatannya,” ungkap Jefri.

Di tempat terpisah, Ketua DPC KWRI Pringsewu, Margono, SSos, juga menyatakan hal senada. Ia juga mendesak Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan, segera mencabut pernyataan tentang penghinaan terhadap profesi wartawan.

“Sangat disayangkan sekali seorang pejabat penegak hukum melontarkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan. Karena ucapan ‘Taik Kucing’ itu sangat melukai hati insan pers nusantara, khususnya di Provinsi Lampung. 

Dan sebaliknya, Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan, segera mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada teman-teman yang bertugas di lapangan saat peristiwa berlangsung,” ujarnya melalui sambungan selular, Minggu (27/8/2017).

Kronologis
Keterangan dari Dedy dan Dian menyebutkan, kejadian tidak mengenakan itu bermula saat keduanya hendak meliput penertiban mobil batubara oleh kelompok warga Way Kanan di Pos Mawar di Simpang 4 Blambangan Umpu, Minggu (27/8) dini hari.

Saat itu Kapolres hendak memberikan arahan kepada massa yang mencegah lajunya kendaraan angkutan batubara. Pencegatan dilakukan karena telah ada kesepakatan larangan melintas yang telah disepakati sebelumnya.

Di mana, sebelum arahan, lanjut Dian, Kapolres mengecek adakah wartawan di lokasi (Pos Mawar) dan keduanya (Dian dan Dedy) dilarang merekam dan mengeluarkan kamera.

“Setelah selesai memberikan arahan kepada massa, saya dan Dedy mendengar dan melihat langsung bahwa Kapolres dihadapan kerumunan massa mengatakan bahwa wartawan taik kucing.  

Gua tidak takut.  Karena sebelumnya Kapolres merasa kesal ketika intraksi dengan warga di Gunung Labuhan atas urusan yang sama (Pencegahan laju Batubara) rekaman video wawancaranya disebar oleh oknum wartawan di akun Fecebook, sehingga dalam unggahan itu Kapolres mendapat tudingan yang tidak baik dari warga Way Kanan atas cara bicaranya yang khas,” terang Dian.

Namun, tidak disangka-sangka, kata Dian, setelah ia dan Dedy mencoba mengklarifikasi pernyataan Kapolres, bukannya perkataan maaf yang diterima, malah sebaliknya.

“Kapolres mengatakan siapa sih yang mau baca koran sekarang ini? Apa lagi koran-koran Lampung cacingan seperti itu. Sekarang ini orang sudah baca online. Lu bangun tidur bacanya apa? WhatsApp kan. Mana baca koran lagi sekarang, dah tutup semua Koran itu. Nonton TV juga banyak yang nonton TV berita juga jarang,” hardik Kapolres seperti yang ditirukan Dian.

Tak disangka, profesi mulia wartawan yang dilindungi UU Pers No.40 Tahun 1999, ternyata tak berarti apa-apa di mata seorang penegak hukum, seperti Kapolres Way Kanan, Budi Asrul Kurniawan.

Propesi wartawan itu sangat mulia dikarenakan tidak semua orang bisa menjadi wartawan dan untuk menjadi seorang wartawan itu resiko nya amatlah berat pertanggung jawabanya dan wartawan juga dilindungi UU PERS no 40 th 1999 pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Way Kanan AKBP Budi Asrul Kurniawan, menjelas bahwa ia tidak bermaksud menyinggung Dedy dan Dian. Ia hanya tidak suka bahwa kejadian di Tulung Buyut akan terulang kembali lagi di Simpang 4.

“Saya gak ada ngomong ‘taik kucing’, sekalipun mungkin saya ngomong begitu arahnya bukan ke mereka, tapi ke kerumunan orang-orang di Simpang 4. Situasinya hampir sama seperti di Tulung Buyut, Gunung Labuhan. Dimana, kesabaran dibalas dengan hinaan kepada saya. Dua orang itu (Dedy dan Dian) anak baik saya respek dengan keduanya.

 Saya dicaci habis-habisan di Facebook oleh oknum-oknum bahkan lebih dari ‘Taik Kucing’ juga saya menanggapi slow aja om ada saya menuntut klarifikasi oh tidak,” kilah Kapolres. (ril/mec)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top