yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Menelusuri Pungli Bantuan di Dinas Pertanian Langkat : Alsintan Untuk Kepentingan Pribadi, Paket Proyek Dibagi-bagi
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Tim penyidik Kejaksaan Negeri Stabat saat mengeledah kantor dinas pertanian Kab Langkat Stabat- Metro Langkat Dinas Pertanian dan Kabu...
Tim penyidik Kejaksaan Negeri Stabat saat mengeledah kantor dinas pertanian Kab Langkat

Stabat- Metro Langkat

Dinas Pertanian dan Kabupaten Langkat boleh dibilang salah satu dinas terpaporit di Langkat. Pasalnya,dari sekian dinas yang ada, Dinas Pertanian kerab disebut-sebut warga baik dari kalangan masyarakat petani maupun rekanan (pemborong).

Why...? Kalau masyarakat kerab menceritakan soal lika liku jika hendak mendapatkan bantuan alat pertanian maupun bantuan lainya yang melewati berbagai proses berbelit yang ujung-ujungnya pulus .

Sedangkan para rekanan, selalu mengurai kelakuan para pejabat didinas ini yang mengatur dan mengutak-atik sejumlah “kue” proyek yang diangarkan setiap tahunnya. Lalu, seperti apa saja permainan tak sehat dilingkungan dinas ini.?. Pada edisi kali ini Metro Langkat coba menelusuri sejumlah penyimpangan dan permainan didinas yang dipimpin Nasiruddin tersebut.   

Terkuaknya pungutan liar (Pungli) yang dilakukan oknum-oknum di Dinas Pertanian Langkat pada saat adanya bantuan Peralatan Mesin Pertanian (Alsintan) kepada para Kelompok Tani (Poktan) yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se Kabupaten Langkat, makin meluas.

Informasi yang diperoleh Mertro Langkat dari berbagai sumber dari anggota Poktan di wilayah Kec.Selesei, kembali terang-terang menegaskan, bahwa mereka minta aparat Kejaksaan Negeri Stabat, segera mengusut tuntas pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum-oknum di Dinas Pertanian Langkat.

Sumber yang mayoritas merupakan anggotan kelompok tani tersebut mengatakan, bagi Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) yang memiliki dana cukup, secara otomatis menguasai Alsintan untuk kepentingan pribadi pula.

"Kalau untuk wilayah Kec.Selesai, sudah capek dengan iming-iming akan mendapatkan bantuan Alsintan dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat atau Pemkab Langkat, melalui Dinas Pertanian. Karena sudah pasti anggota Gapoktan, akan dimintai dana.

Yah, namanya kita petani, mana ada uang untuk bisa mendapatkan Alsintan untuk kepentingan Gapoktan. Kalau mesin air, bisalah kita upayakan. Tapi kalau sejenis hand tractor, jetor, tractor atau pun open gabah (alat pengering gabah), mana mungkin Poktan ada uang.

Padahal dalam prosedur penyaluran Alsintan itu, secara jelas disebutkan gratis. Tapi pada kenyataannya, pembagian bantuan Alsintan itu tetap dimintai uang yang harus ditanggung anggota Gapoktan. Kalau Kapoktan dan anggotanya tidak memiliki uang, anehnya Alsintan itu bisa dimiliki pihak lain," ujar sumber-sumber yang berhasil ditemui Metro Langkat, kembali menegaskan permainan kotor oknum-oknum di Dinas Pertanian Langkat, Senin  (3/7), hampir senada.

Anehnya, masih menurut anggota Gapoktan, pihak Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) di kecamatan masing-masing, tidak pernah menyampaikan adanya rencana akan memberikan bantuan kepada para Gapoktan.

"Yang diundang cuma Kapoktan aja. Itu pun sudah diarahkan dengan ketentuan tertulis yang wajib diikuti oleh seluruh Kapoktan. Makanya, bagi Gapoktan yang gak mampu, bisa dipastikan tidak akan mendapatkan bantuan Alsintan," ujar para petani tersebut sembari tersenyum.

Dampak dari diberlakukannya biaya siluman yang sudah secara sistematis diberlakukan oleh petinggi di Dinas Pertanian Langkat yang berwenang dengan segala bantuan tersebut, banyak kelompok tani "miskin" sampai saat ini tidak memiliki alsintan yang bersumber dari dana bantuan pemerintah pusat dan bantuan daerah tersebut.

Penyerahan dana pungli yang dipungut dari para gapoktan tersebut yang nantinya akan diserahkan kepada oknum-oknum yang berkepentingan di Dinas Pertanian (Distan) tersebut terkesan cukup rapi. Hal ini memang sudah diatur sedemikian rupa oleh pihak Distan Langkat dengan BPP setempat.

Sehingga jangan heran jika peralatan mesin pertanian yang notabene diberikan pemerintah kepada para kelompok tani untuk mendukung program swasembada pangan di Kab.Langkat, menjadi ajang pengaya diri para oknum-oknum di Distan Langkat.

Menurut para kelompok tani di wilayah Selesei, ada Ketua Gapoktan yang memiliki Kios Pupuk Bersubsidi dan memiliki Kilang Padi. Anehnya lagi, harga pupuk bersubsidi yang Harga Eceran Tertingginya (HET) berkisar Rp85 ribu per karung, dijual kepada kelompok tani dengan harga Rp120 ribu.

"Harga tersebut dibeli dari pemilik kios pupuk bersubsidi yang juga pemilik kilang padi yang menguasai alsintan berupa mesin pengering gabah bantuan pemerintah berinisial Wag," ujar masyarakat anggota kelompok tani lagi.

Sementara itu, Kadis Pertanian Langkat, Ir.Nasiruddin, saat coba dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (3/7) tidak berhasil. Bangunan instansi yang mengayomi para petani yang luas tersebut tampak sepi. Menurut beberapa pegawai yang terlihat santai di instansi tersebut mengatakan jika Kadis, Sekretaris dan beberapa staf lainnya sedang keluar dengan dalih masih dalam suasana lebaran.

Konfirmasi melalui telepon yang coba dilakukan juga tidak berhasil hingga berita ini masuk kemeja redaksi. Untuk itu Metro Langkat akan terus menguak berbagai dugaan korupsi dan penyimpangan didinas yang satu ini. Ikuti terus liputannya. (red)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top