Langgeng restuono Langgeng restuono Author
Title: Memaafkan Diantara Jalan Berkubang
Author: Langgeng restuono
Rating 5 of 5 Des:
Laporan : Bang Yong..  Meski lebaran Idul Fitri kali ini dibarengi dengan urusan anak masuk sekolah dimana para orang tua sibuk mendaft...
Laporan : Bang Yong.. 
Meski lebaran Idul Fitri kali ini dibarengi dengan urusan anak masuk sekolah dimana para orang tua sibuk mendaftarkan anak-anaknya yang akan masuk sekolah baik ditingkat dasar (SD) maupun lanjutan (SMP-SMA-red),tapi tidak menghilangkan kemeriahanya.

Pusat-pusat perbelanjaan baik kelas mewah hingga pajak bawah, terlihat ramai diserbu masyarakat yang mencari kebutuhan mulai dari sandang hingga pangan. 
Para pedagangan musimanpun tumbuh subur bak jamur dimusim hujan berjejer dipingir emperan dan trotoar jalan. Berharap rejeki tambahan dibulan penuh berkah didapat, berbagai daganganpun dijajakan dengan beragam harga yang ramah kantong. 

 Imbasanya ditiap-tiap persimpangan antrian panjang kendaraan berjejer menunggu giliran jalan karena jumlah armada angkutan terus bertambah dari musim kemusim ditambah badan jalan yang hanya itu-itu saja. Kini kemacetan tak hanya terjadi dipusat kota, sekarang diperempatan jalan desapun mulai macet. Hal ini diangap lumrah. Karena memang inilah bunga-bunga Idul Fitri. Bulan kemenangan bagi umat Islam setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa. Saatnya bersilaturahmipun tiba. 

Saling kunjung mengunjungi memang sebuah tradisi keharusan yang diajarkan para orang tua terdahulu. Meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama sebuah harga yang tak boleh ditawar tawar. Nah..! tak ketingalan wartawan anda juga memanfaatkan moment liburan Idul Fitri beberapa hari ini untuk mengunjungi sanak keluarga yang tinggal disudut-sudut Kecamatan sana. Tak hanya keluarga,para sahabat, rekan kerja, juga dikunjungi. 

 Harapannya, selain menjaga silaturahmi, juga meminta maaf kepada mereka atas salah maupun khilaf yang pernah dilakukan baik sengaja maupun tak disengaja. Dan,saat mendatangi sejumlah tempat di Langkat, penulis dibuat terkagum-kagum dengan pembangunan sarana di Langkat yang terus dilakukan. Hampir ditiap pelosok ditemukan jalan yang belum diaspal dengan lubang mengangga dipenuhi air. Jalan berlumpur dan becek tadi sepertinya tak rela melihat warga berpakaian cantik melintas diatasnya. 

Pasalnya, bercak lumpur tadi tampak menempel dibagian kaki celana maupun baju warga. Tak jarang juga warga terperosok masuk kedalam lubang yang berkubang. Umpat dan repet warga terdengar pilu. Apalagi mereka bergumam kalau baru saja mencuci sepeda motornya kini sudah terlihat seperti kerbau selesai berkubang. “ Ya tuhan..! sampai kapanlah jalan ini bagus,kenapalah ngak bagus-bagus jalan kami ini,” gerutu warga yang baru saja melewati jalan yang berlumpur dikawasan Salapian itu.

 “ Kita memang bangga dengan pemimpin kita sekarang ini, sebab banyak kali prestasinya selama dua periode menjabat,jadi wajarlah kalau kita dukung untuk menjadi orang nomor wahid di Sumut ini, biar sekalian..” sambar warga lainya. “ Kalau mereka itu lewat disini naik mobil Portun manalah dirasanya jalan kayak gini, kalau kita naik kereta smash pulak, apa tak keriting rasanya,lama-lama kena asam lambungpun.” Repet warga yang katanya hendak bersilaturahmi kerumah keluarganya di Bahorok- Bukit Lawang. 

 Kondisi yang sama juga dirasakan warga di Langkat Hilir. “ Jalan rusak parah terutama di Sawit Seberang,Padang Tualang...sementara di Teluk Aru, Kec Pematang Jaya dan Kec Sei Lepan cukup memprihatinkan karena baru 6 bulan dikerjakan sudah hancur...ini disebabkan kualitasnya atau muatan truk pembawa sawit,kayu dan sertu melebihi tonase.entah lah yg jelas APBD Langkat menjadi sia sia karena tidak bisa dinikmati masyarakat utk membawa hasil pertanian krn jalan rusak. 

Awak raya ke 5 kedesa dogang tempat adek,jalan mulus sampai simpang sangga 5 setelah itu lanjut ke Desa Kuala Gebang hati mulai cemas karena jalan tak beraspal. Naluri itu gak salah ketika mau masuk je Desa Kuala Gebang kecemasan itupun terjawab jalan berkubang,” tulis Adam Malik yang akrab disapa Uak Adam dalam akun FB nya. Memang mencari maaf dan memberi maaf diantara jalan berkubang tadi terasa begitu berbeda memang. 

Pertanyaanya apakah kita memaafkan orang yang telah membuat jalan itu berlubang dan berlumpur.? Jawabpanya ada pada diri kita masing-masing. Tak mau berpanjang kalam,berkenaan masih suasana lebaran, disini penulis mengaturkan sepuluh jari memohon maaf atas segala kekhilapan. “ Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir & bathin.(**)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top