yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Nelayan Miskin Bubun Berharap Bupati Langkat Peduli Mereka
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Tanjungpura-Metro Langkat Sedikitnya ada 13 nelayan kecil di Desa Bubun Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, yang hidupnya makin mempri...



Tanjungpura-Metro Langkat

Sedikitnya ada 13 nelayan kecil di Desa Bubun Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, yang hidupnya makin memprihatinkan. Walau sudah puluhan tahun bekerja karas mengais rezeki dengan sampan kecil nun di laut yang hening, tapi kemiskinan tetap saja membelit. Dari masa ke masa tak pernah merasakan manisnya hidup dengan penghasilan yang memadai.
Nelayan Miskin di Bubun Tanjungpura mencari ikan dengan sampan kecil

Kendati beban hidup terasa berat, tidak membuat mereka putus asa. Meski badai menghempas perahu, tapi layar harus tetap berkembang. Begitulahgtekad hidup yang btertanam jauh di lubuk hati mereka. Makanya, bila tiba saatnya turun ke laut, tanpa perduli dinginnya cuaca.

Para nelayan miskin ini dengan jiwa yang tegar tetap melaut, meski harus menggunakan sampan layar, mengayuh dayung, serta menggunakan alat tangkap jaring ikan yang berukuran kecil.

Ikhlasnya mereka mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pun tak pula surut walau harus menahan beratnya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan kali ini. Setiap kali usai menjalankan ibadah makan sahur, sekitar 13 nelayan tradisional ini bergegas turun ke laut.

Di tengah gelapnya hari dan hembusan angin malam, mereka secara perlahan mengayuh datyung serta membentangkan layar yang sudah kumuh menuju lakosai tempat biasanya menangkap udang atau ikan, Selasa (06/06). 

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam,  para nelayan yang rata-rata sudah berusia diatas 60 tahun ini, lalu mulai menebar jaring untuk mendapatkan ikan atau udang. Jika rezeki sedang bagus, mereka sudah bisa pulang sekiar pukul 12 siang.

‘Kalau lagi sepi, kami harus memperpanjangmnya hingga pukul 3 sore menjelang Asar. Dari hasil tangkapanseperti ikan, udang, kepiting, rata-rata Kami bisa dapat Rp 30.000 per hari. Kalau beruntung paling tinggi bisa Rp 50.000,” kata Suhaimi, seorang nelayan berusia 77 tahun.

Dengan penghasilan seperti itu, mereka hanya bisa dipakai buat belanja akan sehari-hari. Tak pernah terpikirkan dibenak mereka untuk bercita-cita menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Hampir semua anak-anak-anak mereka purtus sekolah.

Jangankan membiayai anak sekolah, rumah tempat tinggal saja berupa rumah gubug reot dan diantaranya sudah nyaris rubuh kalau tak ditopang dengan kayu. Rata-rata ruah berdinding tepas, berap rumbia dan banyak bocor, dan ada beberapa yang bisa menggunakan dinding kayu. Begitulah gambaran para petani gradisional ditengah gemuruhnya modcernisasi dalam dunia kelautan dan perikanan di negara ini.

Mereka sadar dan mengakui di usia yang tak lagi kudah tentu tak kudah untuk bisa merubah hidup menjadi nelayan yang lebih maju, misalnya. Perasaan yang telah lama menjebak itulah akhirnya membuat mereka selamanya larut menjadi nelayan tradisional.

Dalam kondisi seperti itu mereka kini hanya bisa berharap adanya perhatian dan bantuan dari Pemkab Langkat siapapun para dermawan yang tyerketuk hatinya.

“Kami ini bukannya iru melihat Pemkab Langkat sering memberikan bantuan perahu beresin, alat tangkap ikan, dan sebagainya. Sebab terlalu banyak nelayan kecil yang harus dibantu. Tapi untuk kali ini, mohonlah Bapak Bupati Langkat untuk emberikan bantuan perahu bermesin dan a;lat tangkap ikan kepada Kami nelayan tradusinal di Bubun ini.

Supaya Kami bisa tenang menghadapi masa tua dan digantikan oleh anak yang lebih maju peralatannya,” kata Suhaimi yang didampingi sejumlah nelayan yang senasib. 

Harapan Suhaimi dan kawan-kawan patut diperhatikan oleh Bapak Bupati Langkat. Sebab, kalau tidak diperhatikan, nasib nelayan kecil  ini akan tetap terjebak dalam kemiskinan hingga ke anak cucu. (Putra).

Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top