yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Menguak Mistis Penungu Sawit Bercabang Tiga Di Tanjung Keliling- Bag 2 Dihuni Nenek Gaib Berwatak Sadis Dan Kejam
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Liputan : Ki Tigor Pohon sawit bercabang tiga Sempadan sungai atau zona Reparian, fokus pelestarian semua tumbuhan diepanjang aliran s...
Liputan : Ki Tigor
Pohon sawit bercabang tiga



Sempadan sungai atau zona Reparian, fokus pelestarian semua tumbuhan diepanjang aliran sungai berikut habitat yang hidup disekitarannya. 

Aturan tidak memupuk dan menyemprot berbahan dasar kimia itupun terus dlakukannya disepanjang alur sungai memang membelah kawasan perkebunan patungan itu. 

Tugas mulia diembannya, pasca kebijakan perusahaan mempensiunkannya dari perusahaan PTPN-2, pekerjaan rutin tetap dilakoninya dengna ikhlas walau banyak menguji rintangan dibalik pekerjaan mempolet tanda cat merah pada batang sawit disekitaran aliran sungai. 


Mimpinya pasca kemunculannya itu, tak cukup membawa penasaran tinggi, sikap ingin tahunya muncul mendadak. Kegelisahan begitu tinggi dirasakannya usai bertemunya dengan sosok perempuan renta dibatang sawit bercabang. 


Mulyono tetap meneruskan niat suci mempertahankan kawasan lestari dan hijau. “ Rasa kantuk seakan tak tertahankan lagi rasanya, beberapa kali memberikan tanda soal itu” akunya polos membeberkan kisah nyata dibalik batang sawit bercabang .

“ Padahal tak mengerti sedikitpun soal dedemit atau dunia lain yang kerap dibincangkan meski tak nyata namun ada” urainya mengikuti perasaan kian penasaran.

Tak cukup sempadan membelah kawasan divisi dua saja, melainkan banyak area sempadan tetap dan terus dilakukannya memberikan polet atau tanda sejatinya kawasan memang sesuai aturan itu” bebernya melanjutkan kisah.
Pohon mistis

Kegelisahan terus meninggi, ditekan rasa kantuk bukan main hebatnya itu. Mencoba membaringkan badan, memang sudah waktunya beristirahat. “ Perempuan renta berpenampilan sempurnya itu amat membekas dalam ingatanku.

“ Pasalnya….?” Sambil menahan perbincangan. “ Pesannya kental dan sangat jelas dalam mimpi itu. “ Nenek tua itu tak hanya sendiri, jadi disetiap batang sawit bercabang memang sudah penunggunya” ingatnya mengulang pesan perempuan renta dalam mimpinya.

“ Tokoh-tokoh gelap mata dan sadis ikut dibeberkannya satu persatu, walau membocorkannya penuh dengan rasa sesak didada berkali-kali terjaga dari tidur. “ Anehnya lagi ?!” sambungnya mengkisahkan,
“ Walau berulang kali namun mimpi soal sempadan tetap teringat kuat dan terus menjalar dalam kisaran tidur hingga pukul tiga tengah malam jelang pagi” urainya.

“ Jangan pernah takut dan mundur, justru rasa terima kasih ini dikhabarkan, pelestarian kawasan dan rumah tinggal kami akan tetap terjaga??” pesan kental itu berkali-kali muncul dari suara serak-serak basa sang nenek renta.

“ Mungkin saja, perempuan renta bertengger dibatang sawit bercabang tiga itu adalah sosok pemimpin mereka. “ Karena kemuculan disiang bolng dihari sebelumnya, sang nenek renta hanya berkarakter lembut dan bersahabat divanding dengan sosok-sosok lainnya dikawasan batang sawit bercabang” diakuinya masih tertekan penasaran tinggi.

Dalam mimpi itu sambung Mul meneruskan, “ Asal muasal mereka-mereka yang menetap didunia lain disekitaran batang sawit bercabang amatlah panjang kisah misterinya.

“ Selain menampakkan diri disiang bolong, keberanian makhluk itu muncul dengan tanda-tanda sederhana, tanpa menyerahkan rasa khawatir, bahkan banyak mengajarkan soal-soal kesantunan menjadi perhatianku hingga beberapa kali menapaki alur sempadan” terangnya terus terngiang soal mimpi pasca kemunculannya.

“ Tiga batang disebelahnya memiliki cabang dua, makhluk berperangai kejam” Mereka-mereka para korban pembantaian kekejaman kolonial sebelumnya harus rela mati dan terbunuh dengan cara-cara sadis dan keji” pesan lembut dang nenek duduk diatas batu tidak begitu besar masih terdapat dilokasi.

“ Paling terparah ?!” sambung perempuan renta sang pemimpin itu melanjutkan. “ Waspada dengan batang sawit bercabang berada diseberang ?!” terang nenek renta itu mengingatkan. Justru soal itu pula menjadikan terjaga dan terasa haus sekali ditenggorokan.

“ Belum bisa bangkit, masih tetap mengingat pesan sang perempuan renta, justru belum memasuki wilayah sempadan diseberang” gumamnya memunculkan kecemasan dalam hati. Tak dapat tidur hingga kokok ayam jelang azan subuh.

Penyerahan khabar sang nenek amat berarti sekali mejelajah kawasan sempadan keesokan harinya. Hal apa lagi ditemukan pasca diserahkannya semua tokoh penunggu batang sawit bercabang ? (Bersambung)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top