yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Diduga Biang Perusak Lingkungan : Warga Akan Demo PLTU Pangkalan Susu, Banyak Ternak Ikan di Keramba mati
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Abu dari cerobong PLTU yang kini mulai dikeluhkan warga Pangkalan Susu. (Ilustrasi) Pangkalan Susu-Metro Langkat Masyarakat Pangkalan Su...
Abu dari cerobong PLTU yang kini mulai dikeluhkan warga Pangkalan Susu. (Ilustrasi)


Pangkalan Susu-Metro Langkat

Masyarakat Pangkalan Susu Kabupaten Langkat merasa senang dengan keberadaan PLTU  Pangkalan Susu. Sebab pasokan listrik menjadi bertambah sehingga tabiat buruk  PLN yang sering melakukan pemadaman listrik hingga mewabah ke seluruh Sumut bisa seperti makan obat, tiga kali padam dalam sehari.

Cuma belakangan ini banyak pula warga di kota minyak yang merasa tak sedap dengan ulah PLTU yang berada di Tanjung Pasir tersebut. Mereka terusik dengan abu yang kerap ditebar dari cerobong asap mesin pembangkit PLTU I dan II dan  sisa abu dari pembakaran batu bara untuk mesin pembangkit PLTU yang dibiarkan menumpuk di lokasi 3/4.

H Said Ruly dan Mustafa, dua tokoh masyarakat Pangkalan Susu ini menilai pihak PLTU telah lalai menyebabkan terjadinya penyebaran abu dari cerobong asap dan tumpukan abu sisa pembakaran batu bara yang  diduga mengandung limbah B 3 yang berbahaya untuk kesehatan manusia.

Terjadinya pencemaran debu dari asap itu, sudah sering dilaporkan Said ke pihak PLTU. Ia mengatakan bahwa asap bisa bercampur debu karena pihak PLTU tidak secara cermat untuk melakukan perawatan atau penggantian filter cerobong. Makanya setelah hal itu dilaporkannya ke pihak PLTU, asap cerobong menjadi bersih sekitar dua bulan lalu.

Menurut H Said Ruly,  perusakan lingkungan akibat penyebaran limbah ini sudah berlangsung lama hingga sudah sangat meresahkan warga Pangkalan Susu. Pemandangan saat cerobong mengeluarkan kepulan asap yang mengandung debu terlihat kelabu yang pekat. Sedangkan kalau dalam keadaan normal, asap terlihat tipis. Akibat kepulan asap bercampur debu yang beterbangan ke sana ke emarii mengikuti arah angin ini kemudian terlihat menempal di atap rumah, jendela, tanaman sawit  milik warga, dan sebagainya. 

Terjadinya pencemaran debu dari asap itu, sudah sering dilaporkan Said ke pihak PLTU. Ia mengatakan bahwa asap bisa bercampur debu karena pihak PLTU tidak secara cermat untuk melakukan perawatan atau penggantian filter cerobong. Makanya setelah hal itu dilaporkannya ke pihak PLTU, asap cerobong menjadi bersih sekitar dua bulan lalu.

Seorang nelayan warga Pulau Sembilan, Aswin mengatakan kalau arah angin menuju ke arah laut, maka kawasan pemukiman mereka akan tercemar dengan debu asal cerobong asap. Pintu, kacaca jendela, dtutupi oleh debu tersebut. Namun sejauh ini Ia belum menemukan adanya warga yang sudah terkena penyakit akibat debu ini.

Namun yang membuatnya jengkel adalah pencemaran air laut akibat limbah batu bara yang berasal dari Ponton penampungan batu bara dan buangan air limbah dari PLTU tersebut yang dilakukan sekali dalam tiga bulan. “Gara-gara limbah batu bara ini, ikan di laut bahkan yang dipelihara penduduk di dalam keramba mati dan mengapung,” kata Aswin.

Pencemaran air laut dari ponton ini sudah terjadi saat awalnya ponton yang mengangkut batu bara milik PLTU Pangkalan Susu ini bersandar dan ditambat di Pulau Sembilan sekitar lima tahun lalu. Awalnya warga nelayan di sana diam saja lantaran menilai hal tersebut tidak akan berdampak yang berbahaya.

Belakangan ceritanya jadi lain. Batu bara yang berada di ponton ini sering tertimpa air hujan dan air nya yang melimpah le laut kemudian mengandung limbah berbahaya. Warna air laut di kitar ponton menjadi tercemar dan warnanya hitam.”Akibatnya ikan yang berada disekitarnya menjadi mati dan mengapung di permukaan laut,” kata Aswin.

Aswin dan para nelayan di sana mengajukan protes, hingga kemudian PLTU memindahkan lokasi penambatannya di Tanjung Pasir. Masalah baru muncul, penambatan yang beralih ke lokasi penambatan ponton di Tanjung Pasir ini menyebabkan terjadinya pencemaran limbah batu bara di sekitarnya. Akibatnya Aswin dan para nelayan yanjg biasanya sering mencari ikan di sekitar perairan tersebut terpaksa menghindar dari lokasi tersebut.

“Sekarang tak ada gunanya menangkap ikan di sana. Ikan jenis apapun tak ada lagi ditemukan karena air sudah berwarna hitam lantaran tercemar batu bara yang berasal dari ponton tersebut,” kata Aswin.

Yang lebih mencemaskan bukan hanya itu. Menurut Aswin, hampir tiga bulan sekali pihak PLTU membuang air dari bak penampungan ke laut. Air yang panas ini, kata Aswin, sebagai biang penyebab banyaknya ternak ikan kerapu milikpengusaha dan warga setemnpat yang mati mengapung di laut. Ikan di laut juga banyak yang mati.

H Said Ruly mengatakan, pihak PLTU juga dinilainya tidak cermat mengawasi abu sisa pembakaran batu bara yang kini dibiarkan menumpuk di lokasi 3/4. “Kalau ini dibiarkan berlama, maka abu batara yang bercampur air hujan akan merembes ke dalam tanah yang bisa menjadikan air tanah akan tercemar,” kata Said Ruly.

Dalam kaitan inilah kemudian Said Ruly dan Mustafa sudah merancang akan melakukan aksi demo untuk memprotes dugaan pencemaran lingkungan ini dalam waktu dekat. Selain masalah lingkungan, Said mengatakan juga akan mempertanyakan keengganan pihak PLTU Pangkalan Susu untuk menerima warga Pangkalan Susu dan sekitarnya untuk bekerja di perusahaan pembangkit listrik ini. (Metro langkat-Surya)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top