yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Usai Disetubuhi, Jhon Habisi Nyawa Buk Guru SMP Itu
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Binjai- News Metrolangkat.com Kapolres Binjai AKBP M Rendra Salipu didampingi Kasat Reskrim dan kanit Pidum saat paparan Teka-teki peny...


Binjai- News Metrolangkat.com
Kapolres Binjai AKBP M Rendra Salipu didampingi Kasat Reskrim dan kanit Pidum saat paparan

Teka-teki penyebab kematian, Amerut Desi Meryani Beru Sitepu alias Desi (24) warga Dusun 6, Namo Cengke, Desa Tanjung Berampu, Kecamatan Salapian, Langkat, akhirnya terungkap, Rabu (19/4).
Guru honor di SMP Negeri 2 Pancurido, Langkat yang ditemukan tewas dibunuh dikawasan perkebunan sawit tersebut, ternyata sengaja dihabasi oleh Erdi alias Jhon (31), seorang honorer Perpas Pemkab Langkat yang tinggal tidak jauh dari rumah Desi.

Atas perbutanya, Jhon diringkus anggota Sat reskrim polres Binjai saat tidur di rumah bersama anak dan istrinya. Tapi, saat polisi membawanya untuk pra rekonstruksi ke lokasi pembunuhan Desi di Dusun Paya Rampah Sawah Ombo, Desa Kuta Parit, Kecamatan Selesai, Langkat, pelaku memukul polisi dan coba melarikan diri.
TErsangka Jhoni

Polisi berusaha mengejar pelaku sembari menembak ke atas untuk peringatan, tapi pelaku tidak memperdulikannya. Hasilnya, polisi pun menembak tepat di kaki kiri pelaku. Penagkuan Jhon, dia tega menghabisi nyawa Desi, karena merasa sakit hati setelah ditampar oleh korban. "Aku tidak terima ditamparnya (Desi)," ujar Jhon saat ditemui terbaring di RS Djoelham Binjai.

Merasa tidak senang karena ditampar korban tersebut, Jhon langsung naik pitam. Dia meninju wajah korban dan menendangnya sampai tersungkur ke tanah. Melihat korban jatuh ke tanah, dengan posisi terlentang, pelaku langsung duduk di perut korban dan memukuli kepalanya pakai pelepah pohon kelapa sawit.

"Kepalanya ku pukul pakai kayu (pelepah) 3 kali sampai berdarah," kata Jhon. Tidak sampai disitu, Jhon juga mencekik leher korban sampai korban benar-benar tewas. "Setelah dia (Desi) tewas, aku seret dia ke parit di tengah perkebunan sawit dan meninggalkannya," kata Jhon.

Kapolres Binjai AKBP Mohamad Redra Salipu SIK MSi mengatakan polisi terpaksa menembak kaki pelaku pembunuhan Desi, akibat melawan petugas saat melakukan tugas. "Polisi harus mengambil tindakan karena pelaku membahayakan nyawa petugas saat mengamankan pelaku," seru Kapolres.

Maih kata kepala FPU 7 Pasukan perdamaian PBB di Sudan, Darfur itu, Jhon bertemu dan membunuh Desi pada hari Jumat (7/4) lalu. "Jasad korban sudah 5 hari membusuk di lokasi sebelum ditemukan," ungkap Kapolres.

Setelah membunuh dan meninggalkan korban di parit perkebunan kelapa sawit tersebut, Jhon membawa kabur kereta Honda Verza BK 4646 RAR, dompet dan 2 unit handphone korban.

Agar aksinya tidak diketahui orang lain, pelaku menjual handphone merk oppo milik korban kepada Ibon Rosandi (27) warga Jalan Simpang Empus, Desa Empus, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, seharga Rp 700 ribu.

Sementara kereta korban dijual pelaku kepada warga Binjai seharga Rp 3 juta. Kasat Reskrim AKP Ismawansa mengaku, polisi masih mencari keberadaan kereta korban yang sudah dijual pelaku. "Kereta yang dijual pelaku belum ditemukan," kata Ismawansa.

Sedangkan penadah handphone yang dijual pelaku, Ibon Rosandi juga turut diamankan polisi. "Pembeli handphone korban diamankan karena sebagai penadah," ungkapnya.

Untuk handphone nokia korban, lanjut mantan kanit VC Polres Pekan Baru itu, tidak dijual pelaku. "Pelaku menggunakan handphone korban untuk kepentingan pelaku setiap hari," jelas Ismawansa.

Saat disinggung mengenai dompet dan uang korban, dijelaskan Ismawansa, memang pelaku juga ikut membawanya. Tapi, saat akan meninggalkan lokasi pembuangan mayat korban, dompet itu terjatuh.

"Dari hasil interogasi, pelaku mengaku kalau dompet dan uang korban yang dicurinya jatuh saat di lokasi kejadian," sebutnya.  Ternyata, pembunuhan yang dilakukan Jhon terhadap Desi, terjadi setelah mereka berdua melakukan hubungan suami istri di sebuah pondok dalam perkebunan kelapa sawit, lokasi pembunuhan Desi.

Setelah berhubungan layaknya suami istri, pelaku memberi uang Rp 100 ribu kepada korban. Namun, korban tidak mau menerima. Pasalnya, menurut Jhon mereka sepakat harga Rp 200 ribu sekali berhubungan badan.

"Kami sepakat untuk berhubungan intim dengan bayaran Rp 200 ribu. Tapi, aku tidak punya uang dan hanya membayarnya Rp 100 ribu saja," kata Jhon. Karena tidak terima 'bayaran' itu, korban pun melawan dan menampar pelaku. "Saat ditampar itulah aku emosi dan langsung menendangnya," kata Jhon.

Tidak itu saja, masih kata Jhon, Desi sempat menakut-nakutinya dengan menyebut akan melaporkan Jhon ke polisi. "Dia bilang mau laporkan aku ke polisi dan keluarganya. Aku takut. Disitu aku langsung membunuhnya," sebutnya.

Selama ini, kata Jhon, dia mengenal Desi sebagai guru di SMP Negeri 2 Pancurindo. Akan tetapi, dia juga mendengar, Desi adalah pecinta perempuan juga.

"Ku dengar dia (Desi) itu lesbi. Makanya, sebelum aku ketemu sama Desi. Dia makan mie aceh sama teman perempuannya, baru bertemu samaku.

Setelah jenazah Desi ditemukan, membuat heboh warga perkampungan tempat Desi tinggal.
Sebelum dikebumikan, ternyata Jhon juga ikut melayat. Tidak hanya melayat jenazah wanita yang dibunuhnya itu saja, Jhon juga turut ikut tahlilan hingga 3 malam selama berturut-turut.

"Aku juga ikut melayat saat mayat Desi di rumah mereka. Malamnya aku juga ikut tahlilan di rumahnya," seru Jhon.
Pengakuan pelaku dibenarkan oleh kanit pidum Ipda Tono Listianto. Memang, sebelum pelaku dan korban bertemu, korban sedang makan mie aceh di Binjai.

"Saat pelaku menghubungi korban untuk berhubungan badan, korban sedang makan dengan temannya. Selanjutnya, pelaku dan korban bertemu," ujar Tono.

Dijelaskan Tono, polisi juga sempat meminta keterangan teman wanita korban, setelah mendengar hubungan mereka berdua. "Tapi, setelah kami minta keterangan, wanita itu tidak tahu sama sekali. Bahkan, dia juga mengaku tidak tahu kemana korban pergi, usai mereka makan mie," ungkap Tono.

Pecahnya kasus pembunuhan yang diungkap polisi, menyimpan pertanyaan di benak masyarakat, bagaimana polisi berhasil mengungkapnya.

Menurut AKP Ismawansa, awalnya polisi mendapat informasi tentang penemuan mayat korban yang sudah tidak dikenali lagi, akibat sudah busuk dan dimakan belatung.

Sehari kemudian, polisi mendapat informasi tentang identitas jenazah korban dari Suhartini (24), wanita yang mengaku sebagai adik ipar Desi.

"Setelah informasi penemuan mayat korban, Suhartini datang dan menyebut kakak iparnya (Desi) telah menghilang 5 hari yang lalu dan tidak ada yang tahu keberadaannya," kata Ismawansa.

Bermula dari informasi identitas korban, polisi melakukan pemeriksaan atas hasil visum mayat Desi.

"Dari hasil visum, pada bagian leher ada bekas cekikan dan ada luka di wajah dan lengan sebelah kiri serta ada luka benturan benda tumpul di kepalanya," jelas mantan Kanit VC Polrestabes Pekanbaru itu.

Hasil visum itu, menjadi bahan bagi polisi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. "Karena jelas ini ada penganiayaan sebelum pembunuhan," katanya.

Apalagi, handphone korban juga dilaporkan hilang. "Dari keberadaan hp korban lah kita lakukan pencarian melalui BTS dengan bekerjasama dengan unit IT," ungkapnya.

Polisi mencaritahu siapa yang menghubungi korban terakhir kalinya. "Kita dapat nomor hp tersangka yang menghubungi korban. Kita lakukan pencarian dan akhirnya kita berhasil meringkusnya," jelas Ismawansa. ( rki )
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top