yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Bag-1 ,HAJI SUJARNO: UPAYA MESINTESISKAN PENDIDKAN MASA LALU KE MASA KINI
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Mohd Fadli Arbi Oleh MUHAMMAD FADLI* Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa magister asal Langkat, menyodorkan draf tulisan, diman...
Mohd Fadli Arbi


Oleh MUHAMMAD FADLI*

Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa magister asal Langkat, menyodorkan draf tulisan, dimana saya diminta untuk memberikan pengantar tulisannya tersebut. Tidak tanggung-tanggung, tulisan mahasiswa tersebut mengangkat satu tema penting yang tak tersentuh oleh pemikir lainnya di Langkat sana, sejak satu dasawarsa terakhir ini.

Tulisan mengangkat “50 Orang Tokoh Terkemuka Langkat”, berlatar profesi berbeda mulai dari ulama, pendidikan, birokrat, politisi, pengacara, budayawan dan lainnya.Tentu saja,tulisan ini dapat mengundang pro dan kontra.Tulisan yang baik, meski demikian ujar Derrida, fisluf Prancis kenamaan.

Beberapa orang terkemuka lain yang masih ada, diantaranya Datuk Syamsul Arifin, tokoh kharismatik yang model kepemimpinannya cukup populis dimasyarakat Langkat. Meski pernah menghabiskan waktu di penjara karena kasus korupsi yang menimpanya, namun tak mengurangi rasa hormat “masyarakat” Langkat untuk mencintai tokoh satu ini.


Sri Datuk Johar Arifin Husain, yang telah menjadi tokoh nasional berkat konstribusi pemikirannya dibidang olah raga, menghantarkannya menjadi ketua umum PSSI pertama kali dari Langkat. Ada juga nama advokat Togar Lubis, berkat kegigihannya menginisiasi dan menginspirasi pemberantasan korupsi di Langkat melalui literasi kesadaran berbasis hukum.

Haji Sujarno sebagai tokoh pendidikan kharismatik dan terkemuka, menarik sintesa konsep pendidikan Langkat masa lalu ke masa kini dengan konsep integrasinya—meski pada akhirnya—cita tersebut tidak sepenuhnya terealisasi.Dan tokoh-tokoh lainnya.

Untuk tulisan ini, saya akan melihat sosok haji Sujarno lebih dekat,melalui core gagasan pendidikan yang pernah diusungnya untuk Langkat meski tidak proficiate. Sosok haji Sujarno cukup menarik buat saya, terlebih saya diminta untuk meranking posisinya  diantara tokoh-tokoh Langkat lainnya.

Secara tentative, saya menempatkan haji Sujarno masuk duapuluh besar deretan tokoh Langkat terkemuka, karena gagasan dan kostribusinya “menghidupkan asa” masyarakat Langkat masa itu,kembali bersemangat berbicara pendidikan yang meredupseabad lalu pasca meninggalnya sultan Abdul Aziz Rahmadansyah al-Haj dan Tengku Amir Hamzah.Mungkin latar birokrasi yang panjang sebagaimana ulasan penulis buku.


Pendidikan Langkat Masalalu ke Masa Kini
Saya belum pernah menyaksikan, tepatnya disatu pemerintahan daerah, seorang yang pernah berposisi sebagai kepala dinas pendidikan dan kebudayaan, cukup apresiatif. Haji Sujarno tidak sekadar dikenal oleh atasannya sesamabirokratmelainkan juga bawahan dan masyarakat luas pada umumnya.Posisi strategis ini seolah menempatkannya sebagai makhluk “seksi” untuk suksesi pemerintahan mendatang.

Meski beliau tidak terlalu terobsesi.Tapi itu soal niat dan pilihan. Ribuan guru, baik negeri maupun swasta, mulai tingkat TK sampai SMA, bahkan perguruan tinggi, mengenalnya sebagai sosok humanis dalam dunia pendidikan.Saya sedang tidak memujinya.

Tetapi ini satu fenomena langka, yangpernah dirasakan rakyat Langkat masa kepemimpinannya.Situasi yang pernah terjadi seabad silam, tepatnyaterhadap tokoh penting pendidikan mereka, sultanAbdul Aziz Rahmadansah al-Haj.Untuk tokoh besar Langkat terakhir ini akan penulis rangkum dalam perspektif berbeda (commen perspektif).

Sebagai manusia Langkat yang berkecimpung didunia pendidikan,saya seolah disodorkan satu realita menyaksikan bergeraknya satu fenomena yang sedang bergeliat di Langkat; tentang satu harapan, cita-cita, semangat akan bangkitnya kembali ghirah pendidikan, yang pernah menjadi akar sejarahnya.

Mudahan saja, ini bukan sebuah patamorgana.Karena semangat kebangkitan itu menjadi bahan perbincangan civitas dunia pendidikan yang belum pernah rasanya terjadi setelah meninggalnya Sultan Abdul Azizi Rahmadansyah al-Haj dan Tengku Amir Hamzah, yang keduanya begitu perhatian terhadap dunia pendidikan.

Haji Sujarno adalah fenomena.Saya menyadari, banyak keterbatasan dan persoalan untuk mengangkat derajat pendidikan Langkat ke pentas yang selayaknya di panggung nasional. Semangat itu yang mungkin tidak dimiliki tokoh-tokoh pendidikan lainnya di Langkat sana.

Bagaimana mungkin, meluasnya pembicaraan tentang arti penting pendidikan terutama oleh kaum mudanya, yang pernah sirna seabad lamanya di tanah Langkat—kini berlahan—bergeliat, menampilkan eksistensinya. Fondasi itu digali kembali oleh haji Sujarno: dimana puing-puing pendidikan masalalu,disusun berlahan hingga mulai tampak bentuk dan wujudnya meski terlihat samar, namun kian jelas eksistensinya.

Tidak mudah untuk menangani sebuah institusi pendidikan, yang oleh Ki Hajar Dewantara, harus bergerak melalui nurani.Dunia pendidikan bukan sekadar suplai pengetahuan yang berpangkal dari rasio sebagaimana rumus icomene Descartian: cogito ergo sum, melainkan kesadaran akan hakikat manusia, kemanusiaan, dan memanusiawikan, yang berpangkal pada jiwa, ruh atau nurani. (Bersambung)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top