yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Bag-Ke 2, HAJI SUJARNO: UPAYA MESINTESISKAN PENDIDKAN MASA LALU KE MASA KINI
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Oleh MUHAMMAD FADLI* Konsep yang pernah dikemukanan Sultan Abdul Aziz Rahmadansyah al-Haj seabad lalu, bahwa ruh pendidikan adalah ...



Oleh MUHAMMAD FADLI*


Konsep yang pernah dikemukanan Sultan Abdul Aziz Rahmadansyah al-Haj seabad lalu, bahwa ruh pendidikan adalah nurani dan nurani tidak bisa lepas dari dimensi nilai (agama).Maka pendidikan yang jauh dari nilai-nilai(agama) sebenarnya telah kehilangan dimensi pendidikan itu sendiri, dan dengan mudah terombang ambing walau pengetahuan yang diproduksi menjulang tinggi.

Mohd Fadli Arbi


Begitu hebat Sultan Langkat satu ini berbicara visi pendidikandimana orang lain belum pernah membicarakan itu sebelumnya. Gagasan Pendidikan Dialogis-Partisipatif Komunikasi yang dialog-interpretatif adalah kultur yang langka di Langkat sana.



Sekelas pejabat, menyangkut eksistensi dan kehormatan dirinya, selalu melihat dengan siapa sepantasnya mereka bicara. Itulah sebabnya, banyak pejabat lain membangun komunikasi yang formalistik, namun tidak halnya dengan sosok haji Sujarno; yang cenderung membatinkan realitas sebagai bahasa komunikasi yang dibangunnya.



Model komunikasi yang dialogis ini menggena pada setiap orang yang ditemuainya, baik dari kalangan pejabat, guru,bahkan rakyat biasa. Hampir setiap orang mengenalnya, dengan satu kesan: sosok pejabat sederhana, bersahaja, meng-ummat, apa adanya. Dikalangan Muhammadiyah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sosoknya cukup dikenal baik karena spirit pendidikan progresif dari kultur organisasi tersebut, mewarnai kiprah perjalannya sebagai tokoh yang cukup diperhitungkan didunia pendidikan Langkat.



Gagasan pendidikan yang diusungnya, berbasis kesadaran transformatif melalui pendekatan cultural-dialektis, menuju gerakan partisipatoris yang berspirit relegiusitas.Konteks sosiologis masyarakat Langkat sangat kompleks.Situasi dan kondisi kehidupan sosial-keagamaan yang terus menerus dirongrong massifikasi perubahan sosial yang digerakkan oleh industri dan pasar, yang berujung pada monopoli penghisapan akumulasi modal/kapital dan penguasaan produksi oleh sekelompok elite.



Kondisi demikian sebenarnya merupakan tantangan hebat buat orang yang mendaku berpendidikan namun tak bernyali ketika dihadapkan pada persoalan kemanusiaan disekitarnya. Kondisi sosial di atas semakin memprihatinkan dimana sistuasi sekelompok orang memperkaya diri dan kroninya berhadapan dengan kemiskinan sosial dan kultural masyarakat disisi lainnya.



Selain berhadapan dengan kultur acuh tak acuh, dunia pendidikan di Langkat juga berhadapan dengan persepsi sosial bahwa kemakmuran identik dengan akumulasi materi (kekayaan), serta jabatan mentereng sebagai simbol keberhasilan dan kehormatan,dengan sederet gelar dunia pendidikan. Oleh karena pentingnya gelar sarjana secara simbolik, maka gelar palsu pun menjadi alternatif untuk mendongkrak prestise sosial itu.



Situasi yang mendorong prilaku pada kompetisi kotor bahwa memperoleh posisi jabatan tertentu atau pangkat struktural di dalam sebuah institusi pemerintah dilakukan dengan cara apa saja danmenerabas apa saja.



Feodalisme pemikiran di atas terkondisikan oleh suasana kompetisi di arena pendidikan dan lapangan ekonomi yang tidak berimbang, yang menciptakan sekat-sekat sosial, identifikasi sosial, bahkan kelas sosial diantara orang kaya/miskin, berpunya/tidak punya, atau kalang elit/non-elit yang berjarak demikian lebar.



Membumikan Gagasan dari Idealitas ke Realitas Praksis

Penulis yang besar dalam tradisi HMI, memahami gagasan yang disampaikannya.Beberapa kali kami bertemu di Yogyakarta, membaca pemikiran haji Sujarno, aksentuasi kebaikan baginya adalah conditiosine qua non, harus menularkan kebaikan lainnya.

Prinsip itulah yang melekat pada konsep pendidikan yang diusungnya.Meski beliau menyadari,rapuhnya basis etika dan estetika pada lembaga pendidikan di Langkat,membuatnya terlihat keropos, rapuh, dan tak lagi mampu menyuntikkan nilai-nilai etik dan estetik guna menopang ketatnya persaingan global yang kian kapitalistik.Prinsip pembentukan sumberdaya manusia yang sekadar mendewakan kemampuan kognitif (logika saintifisme) membiakkan manusia yang maju secara intelektual namun mundur bahkan rusak secara moral-spiritual.

Proses modernisasi dunia sosial-pendidikan dimulai awal abad ke-20, merupakan puncak tantangan kemanusiaan Indonesia, khusunya masyarakat Langkat,  yang paling krusial dan meliputi spektrum yang cukup luas. Persoalan-persoalan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan berakar pada  bangunan struktur relasi sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum dan agama yang timpang.


Relasi sosial dominan yang puncaknya menciptakan jurang kemiskinan, ketidak adilan, diskriminasi, dan isu fundamentalisme pemikiran sekuler dan keagamaan, mengharuskan dunia pendidikan mencari jawaban alternatif atas berbagai persoalan di atas.Persoalan yang tak terlepas dari masih sulitnya sebagian dari kita meletakkan kerangka berfikir mana yang normative dan mana yang historis, mana yang idealitas dan mana yang realitas, mana yang fakta dan mana yang opini.


Melalui konsep yang diusungnya, haji Sujarno tidak mengesampingkan pendidikan yang berangkat dari perspektif normative dan pendidikan sebagai sebuah fakta sosial yang historis.Idealitas pendidikan adalah mengusung nilai-nilai yang memang seharusnya ada dalam cita-cita (das sollen) pendidikan itu sendiri.



Sedangkan realitas pendidikan adalah suatu kenyataan pendidikan yang merupakan bentuk perwujudan nilai-nilai yang seharusnya (das sein).Apa bila kedua nilai itu kita aplikasikan dalam dunia pendidikan, maka secara sederhana dapat kita klasifikasikan dalam dua rumusan nilai(bersambung)


Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top