yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Mirisnya Hidup Bunga, Setelah Ibu Wafat Diperkosa Ayah Kandung & Ayah Angkat Belasan Kali
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Bilik usang inilah saksi bisu perbuatan keji yang dirasakan Bungga berulang kali.(budi) Pangkalan Brandan- News Metrolangkat.com Saa...
Bilik usang inilah saksi bisu perbuatan keji yang dirasakan Bungga berulang kali.(budi)


Pangkalan Brandan- News Metrolangkat.com

Saat ini perhatian kita tertuju kepada kejadian yang sangat memelikukan hati kita semua, tatkala seorang gadis belia yang masih putih polos, harus menahan pahit getirnya kehidupan ini. Di saat dirinya akan tumbuh mekar menjadi seorang gadis, disaat inipulah harapannya hancur bersama perbuatan bejat sang ayah kandung dan ayah angkatnya

Sebut saja Bunga (16) merupakan gadis dibawah umur yang sudah ditinggal pergi sang ibunda menghadap sang Khalik beberapa tahun yang lalu. Sejak kepergian ibunya, Ia tinggal bersama Awaluddin, 45 tahun, yang tak lain ayah kandungnya, serta Jaka (12) sang adik yang memiliki keterbelakangan mental.


Sebelum sang ibu meninggal dunia, perjalanan hidup Bunga bersama keluarganya masih diliputi rasa bahagia, meskipun kondisi kehidupan serba kekurangan. Masa kecilnya selalu mendapat belaian kasih sayang sang ibu hingga Bunga mulai menginjak masa remaja.  Tapi nasib berkata lain setelah ibunya meninggal dunia beberapa waktu lalu. Sejak itu malapetaka dan derita harus dialami  oleh Bunga. 

Tak lama setelah sang ibu pergi ujntuk selamanya, Ia dan ayah serta adiknya harus tinggal menumpang di rumah gubuk reot milik pasangan Syamsul Bahri (37) dan dan istrinya Erna (40) yang memiliki ukuran luas 4 x 5 meter dan beralaskan tanah, di Jalan Baypass Gang Asli Kel Alur Dua Pasar Kec Sei Lepan Kab Langkat, karena rumah bunga yang berada dikawasan rel kereta api di gusur pihak PJKA beberapa waktu yang lalu

Saat Kru Metro langkat didampingi Deskonti Andres (58) Kepling V Kel Alur Dua Pasar, menyambangi kediaman Syamsul Bahri (ayah angkat Bunga), terlihat kondisi rumah yang mirip gubuk reot jauh dari harapan kita menemui sebuah rumah yang layak huni

Dengan luas sekitar 4 x 5 meter, berdindingkan tepas dan papan-papan semperan sisa potongan, beratapkan daun nipah dan beralaskan tanah, membuat, hati teriris beginilah kehidupan masyarakat kita yang jauh dari perhatian Pemerintah

Saat itu keluar dari belakang rumah, seorang kakek tua bernama Agus Salim (77), yang tak lain merupakan orang tua Syamsul Bahri, dengan nada parau mengatakan, " Syamsul tinggal dirumah ini bersama istrinya (Erna) dan juga Bunga (red-nama samaran) serta Jaka, sementara Awaluddin tinggal di belakang rumah ini", ucap kakek tua ini sambil menunjukan tangan

Didampingi Deskonti Andres selaku Kepling, terlihat ruangan kecil dibelakang rumah Syamsul berukuran 1,5 x 2 meter, dengan tilam kusam dan lusuh serta beberapa kain kumal dan peralatan makan, "disinilah Awaluddin tinggal dan tidur, terpisah dari mereka", tambah Agus Salim

Menurut keterangan Deskonti Andres selaku Kepling, Awaluddin dan Syamsul Bahri bekerja sebagai pembuat sapu lidi dari daun nipah, dengan harga jual sebesar Rp 5.000/kg, dan satu hari mereka hanya bisa membuat lidi sebanyak 3 atau 4 kg.

Setelah tinggal satu rumah, rupanya diam-diam setan telah menggoda syahwat sang ayah Awaludin dan Syamsul Bahri. disinilah sang ayah bejad Awaluddin dan Syamsul Bahri melampiaskan nafsu bejadnya kepada Bunga, yang tak lain merupakan darah dagingnya sendiri, hingga berulang-ulang kali

Dimana perbuatan cabul sang ayah (Awaluddin), kepada Bunga sudah berulang mencapai 6 kali perbuatan, dimana perbuatan pertama dilakukan sang ayah pada tanggal 3 Agustus 2016 sekitar jam 21.00 WIB, dimana pada saat itu Bunga mau tidur dan mengambil bantal, langsung ditarik sang ayah ketempat tidurnya. Tanpa rasa iba dan kasihan sang ayah bejat ini langsung menggauli bunga, dan aksi bejad sang ayah berlanjut hingga keenam kalinya, pada tanggal 13 Agustus 2016 sekitar jam 11.00 WIB

Menurut keterangan tetangga sekitar, Sofyan (48), warga disini sudah curiga dengan perbuatan cabul yang dilakukan sang ayah (Awaluddin) sejak beberapa tahun yang lalu, namun karena tak ada bukti yang kuat warga hanya bisa diam saja

Dulu sewaktu Ibu Bunga (Ani) masih hidup dan terbaring sakit, malam sekitar jam 21.00 WIB, Bunga pernah dihimpit sang ayah secara diam-diam, saat itu Bunga berusaha memberontak dan kejadian itu di ketahui oleh istrinya (Ani), saat itu dalam keadaan sakit Ani berkata, "Jangan kurang ajar, anak sendiripun mau kau embat juga", ucap beberapa warga menirukan perkataan Ani waktu itu

Oleh Awal keduanya di pukul hingga kepala Bunga berdarah, dan Bunga langsung lari keluar rumah dalam keadaan kepala berdarah, saat ditanya warga, Bunga menjawab " dirinya dipukuli sang ayah karena lari mau ditindih" ucap beberapa warga menirukan perkataan Bunga

Warga juga menambahkan, bahwa pengangkatan Bunga menjadi anak angkat Syamsul Bahri ada maksud lain, dimana sebelumnya Syamsul memendam rasa suka kepada Bunga. Pada tahun 2015 lalu, Syamsul berniat mempersunting Bunga menjadi istrinya, padahal saat itu Syamsul sudah mempunyai istri (Erna)

Oleh warga niat Syamsul dibatalkan karena Bunga masih dibawah umur, " Saat itu Bunga mau dikawaninya, tapi karna masih di bawah umur, saya selaku Kepala Lingkungan dan warga menentang keras niat Syamsul, dan saya bilang bukan hanya kau aja yang gawat, kita semua juga gawat, dan bisa dipenjara karena ini", ucap Deskonti Andres  selaku Kepling dilingkungan itu

Dan mulai saat itu, Bunga bersama adiknya Jaka tinggal serumah bersama Syamsul Bahri, sementara ayah Bunga (Awaluddin) tinggal di belakang rumah dengan ruangan yang sangat sempit, dan kesempatan inilah yang digunakan Syamsul untuk menyetubuhi tubuh gadis polos ini

Dengan ancaman, dan kekerasan perbuatan Syamsul terus berlanjut hingga kejadian ini terulang hingga 7 kali berturut-turut dimulai dari Senin 15 Agustus 2016, hingga perbuatan yang ke-7 kalinya pada Minggu 28 Agustus 2016 sekitar jam 00.01 WIB, didalam rumah Syamsul

Dan peristiwa ini terbongkar, disaat Bunga menceritakan ini kepada Winda (22) yang tak lain merupakan kakak sepupunya, disaat itu Winda tak percaya dan langsung menceritakan kepada warga setempat, dilanjutkan kepada Kepala Lingkungan Deskonti Andres dan Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang, S.Sos.M.Ap

Atas peristiwa ini, Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang, S.Sos.M.Ap beserta warga, Minggu (12/3) sekitar jam 23.00 WIB membuat laporan ke Mapolsek Pangkalan Brandan, dan malam itu juga kedua tersangka dicari pihak Kepolisian di bantu warga sekitar

Dan pagi Senin (13/3) sekitar jam 08.00 WIB tersangka Awaluddin ditangkap disalah satu rumah warga yang tak jauh dari kediaman tersangka, tak lama berselang Syamsul Bahri juga ditangkap pihak kepolisian saat berada dirumahnya, dan kedua tersangka langsung diboyong ke Mapolsek Pangkalan Brandan guna menjalani pemeriksaan

Sementara itu, Senin (13/3) saat kru Metro Langkat mencoba mengkonfirmasi tersangka diruangan periksa Polsek Pangkalan Brandan, mengapa tersangka (Awaluddin) tega berbuat demikian, dengan wajah enteng tersangka mengatakan, "Hukumnya tidak haram karena dia anak saya, dan saya yang kasih makan, dan kalau melonte itu dosa, saya lakukan dan saya nembaknya diluar dan tidak didalam karena takut anak saya hamil", ucap ayah bejat ini tanpa ada raut wajah penyesalan terlihat di wajahnya

Ditanya apakah mengetahui perbuatan yang dilakukan Syamsul terhadap anaknya, Awaluddin menjawab "saya tidak tau, anak saya digituin oleh Syamsul", tambahnya



Winda (22) kakak sepupu korban, saat ditemui di Polsek Pangkalan Brandan, menceritakan, kita tau kalau Syamsul suka sama Bunga (red-nama samaran) dan saat mau dinikahinya dulu, kami menolak karena dia masih kecil dan Syamsul sudah punya bini (istri)

Tak tau kalau selama tinggal dirumahnya, Bunga selalu digituinnya, dan bunga selalu mendapat tekakan berupa ancaman dan pemukulan, hingga Bunga mengalami luka fisik, dibagian kepala, tangan dan sekujur tubuh, sehingga bunga tidak berani menceritakan perihal apa yang dialaminya, dan setiap kali bunga mencoba melarikan diri Syamsul Bahri selalu melakukan tindak kekerasan dengan cara memukul

Winda juga menambahkan, beberapa tahun yang lalu Bunga juga mengami nasib malang, dirinya pernah ditipu dan dijual oleh seseorang bernama Nur, kepada lelaki hidung belang di lapangan Golf Tangkahan Lagan, namun pelakunya (Nur) lari meninggalkan bunga dengan uang sebesar Rp 100.000, setelah digituin ", ujar Winda dan keterangan ini dibenarkan juga oleh keterangan beberapa warga tetangga Bunga

Sementara itu, Bunga yang ditemui diruangan Polsek Pangkalan Brandan, dengan wajah lugu dan polos mengatakan, sang ayah selalu bersikap kasar dan selalu mengancam setiap melakukan perbuatannya.

“Sama dengan Syamsul, yang selalu mengancam dan akan memukul jika mengadukan hal ini kepada orang lain, bahkan jika keinginannya tak dituruti, dirinya menjadi bulan-bulanan amarah Syamsul yang tak segan-segan untuk memukul", ujar gadis polos ini sambil meneteskan air mata

Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang, S.Sos.M.Ap, Selasa (14/3) saat dikonfirmasi diruangan kerjanya terkait peristiwa ini, mengatakan, "Kedua tersangka sudah diamankan pihak kepolisian, sekarang yang menjadi fokus perhatian kita adalah masa depan korban yang masih di bawah umur,” ujar Pak Camat.

Tadi kita sudah kontek ke Kabupaten, dan korban akan kita kirim untuk mendapat perawatan dan perlindungan dari dinas terkait yang membidangi masalah ini. “Nanti bersama Lurah Alur Dua, korban akan segera kita antar, ini yang menjadi prioritas kita terhadap korban", tambah Camat Sei Lepan

Kapolsek Pangkalan Brandan AKP W Sidabutar saat dikonfirmasi mengatakan, "Saat ini berkas tersangka sudah kita laporkan ke Unit PPA Polres Langkat, kedua tersangka dijerat pasal 290 ayat 2e 3e KUHP  junto pasal 81 ayat 2 subsider pasal 82 ayat 1 UU RI Nomor  35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman 15 tahun penjara, dan secepatnya kedua tersangka akan kita kirim ke Polres", ucap Kapolsek  (Budi)









Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top