yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Hari Jadi Langkat ke- 267 Masih Bergaya Tradisional : Belum Berkelas Internasional, Di Stabat Tak Ada Super Mall Ya ?
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Baleho Hari Jadi Kab Langkat Langkat- News Metro Langkat Hari ini, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Langkat merayakan Hari Jadi La...
Baleho Hari Jadi Kab Langkat

Langkat- News Metro Langkat

Hari ini, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Langkat merayakan Hari Jadi Langkat yang ke-267. Usia yang sudah tidak muda lagi. Berbagai rangkaian kegiatan pun dilakukan untuyk menyambut  datang nya hari yang berbahagia ini. Diantaranya adalah khitanan masal untuk  267 anak, karnaval pembangunan dan budaya, lomba permainan tradisional, pagelaran berbagai etnis yang adadi Langkat, hingga dimeriahkan dengan Haflah Quran oleh 10.000 orang santri dan tausyiah, dan  diakhiri dengan penampilan artis Dewi dewi dari Jakarta.

Sambutan yang meriah rasanya patut  dilakukan mengingat beratnya beban tugas para pemimpin di daerah ini untuk bangkit mensejahterakan rakyatnya. Tantangan demi tangan harus dilalui untuk satu tujuan, membahagiakan masyarakat Langkat baik lahir maupun  batin. Karena itu pulalah, Kami segenap pengasuh dan karyawan Harian Metro Langkat juga ikut bersama menyatakan Selamat Hari Jadi Langkat ke-267, semoga Langkat semakin berjaya.

Dalam perjalanan sejarah, Langkat pernah tercatat sebagai daerah yang paling makmur masyarakatnya di nusantara ini pada masa kepemimpinan Sultan Langkat, Tengku Abdul Aziz Abdul Djalil Rahmatsyah dan diteruskan oleh puteranya, Sultan Mahmud Abdul Djalil Rahmatsyah. Pada masa itu Sultan Langkat banyak memperoleh dana dari hasil perkebunan tembakau, karet, dan minyak. Penghasilan terbesar diperoleh dari minyak yang dikelola oleh Belanda berdasarkan Konsesi yang diberikan oleh Sultan Langkat.

Dari hasil itulah Sultan Langkat membangun  infrastruktur jalan, jembatan, drainase, listrik pendidikan, kesehatan dengan membangun rumah sakit di berbagai tempat, mendirikan sekolah, mengirim siswa ke Jawa, Eropa, Mekah, dan lainnya melalui bea siswa dan lainnya.  Rakyat mendapatkan biaya pendidikan dan kesehatan secara gratis.

Dengan jumlah penduduk sekitar 162.000 orang di masa kepemimpinan Sultan Mahmud Djalil Rahmat Syah pada tahun 1933, dana yang diterima pihak kesultanan cukup besar untuk memakmurkan rakyat langkat. Untuk memudahkan  transportasi rakyat di kampung-kampung, sultan bukan hanya membuka jalan dari kawasan perbukitan hingga ke dataran rendah, juga membangun jembatan  di banyak kampung.

Kemakmuran masyarakat Langkat pada masa itu boleh dibilang sudah melampaui Brunai Darussalam, Malaysia, dan Singapura yang bersama Indonesia juga belum meraih kemerdekaan dari Belanda dan Inggris untuk Malaysia.

Memasuki awal kemerdekaan, sistim pemerintahan bergeser dari kesultanan Langkat menjadi Bupati. Pada saat Sumatera dipimpin oleh Gubernur Mr Teuku Mohammad Hasan,  maka Tengku Amir Hamzah ditunjuk sebagai Asisten Residen. Berikutnya Ia yang tewas karena dipenggal oleh penculiknya, digantikan oleh Adnan Nur Lubis yang disebut sebagai bupati.

Pada saat itu kondisi keuangan pemerintah masih serba sulit karena situasi negara masih lebih banyak tersedot perhatiannya menghadapi agresi belanda, kisruh politik, dan berbagai konflik yang dimunculkan beberapa daerah. Akibatnya terjadi kemunduran dalam pembangunan Langkat

Setelah Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Suharto berkuasa sejak tahun 1968-1998, ekonomi  melaju dengan pesat, walau dibarengi dengan banyaknya pejabat yang korupsi, anggaran APBN untuk membangun daerah semakin memadai. Jumlahnya bahkan semakin meningkat setelah memasuki era reformasi di tahin 1998.

Secara perlahan para bupati sudah bisa membangun masing-masing daerahnya. Kini hampir semua kecamatan di Langkat sudah ada Puskesmas, pembangunan sekolah sudah merata hingga ke pelosok kampung, jumlah jembatan dan pembanguna infrastruktur jalan yang baru terus bertambah. Bahkan Pemkab Langkat baru saja meresmikan satu jembatan yang terpanjang di Langkat di salah satu desa di Kecamatan Selesai.

Kerja keras para bupati Langkat terdahulu hingga sekarang, H Ngogesa Sitepu SH, harus diacungi jempol meski di sana sini masih ada kekurangan.

Di tengah gencarnya para pemimpin Langkat ini membangun daerah ini, ada kabar yang kurang baik karena terkendalanya rencana pembangunan pelabuhan Pangkalan Susu bernilai USD 500 juta  tahun 2010 lalu dengan tujuan kapal ke Malaysia dan Thailand. 

Padahal banyak pihak, termasuk Menteri Perhubungan ketika itu mendukung dan menyatakan bahwa dermaga eks Japex Pertamina layak dijadikan pelabuhan umum.  Secara teknis, menhub mendukung karena jarak tempuh antara Pangkalan Susu  menuju Malaysia dan Thailand hanya berkisar 150 mil.

Pemkab Langkat dan banyak sejumlah pakar lainnya menyatakan bahwa prospek ekonomi Langkat akan terus membaik disektor perkebunan, pertanian, dan sebagainya. Angka yang dipaparkan oleh Pemkab langkat saat itu dinilai layak sebagai  modal pembangunan pelabuhan Pangkalan Susu tersebut. 

Boleh jadi potensi ekspor dari Langkat dan daerah sekitarnya memang layak. Tapi rasanya aneh kalau ada investor yang menolak bujuk rayu pihak Pelindo I kalau potensi pelabuhan itu bakal mengundang bergepok-gepok dolar. Kalau tidak didukung potensi ekspor yang besar, ngapain para investor dari mana pun datangnya membenam uangnya membangun pelabuhan itu.

Lebih jauh lagi, kalau memang potensi ekspor dari Langkat sudah termasuk dalam skala besar dan dikelola dengan baik, potensi parawisata dikelola berkelas internasional, dan lainnya,  tentulah perputaran perekonomian di Langkat menjadi lebih hidup dari pada sekarang ini.

Sekarang ini, jangankan membangun indutri refineri (industri perminyakan dan turunannya), Industri manufactur, dan sebagainya,  untuk membangun dan membuka  super mall di Stabat tak ada yang tergiur,  Hotel berkelas setidaknya berbintang 4, membuka Show Room Mobil, bahkan Bank BCA pun tak ada di Stabat. Sehingga kalau mau berurusan dengan bank ini terpaksa harus pergi ke Binjai.

Untuk mewujudkan mimpi membangun pelabuhan Pangkalan Susu, menarik investor untuk berbinis retail dalam skala menengah ke atas, pusat bisnis dan hiburan dan lainnya masih terbuka sangat lebar. Yakni Pak Bupati dan jajarannya harus merubah pola kerja yang masih bergaya tradisional ke arah yang profesional dan berkelas internasional.

Contohnya dalam mengelola potensi wisata yang luar biasa bagus di langkat. Wisata ke Bukit Lawang sangat menjadi impian orang di negara bule sana untuk melihat Orang Utan, keindahan alam yang hijau, arung jeram, dan sebagainya. Tapi karena ditangani dengan jurus tradisional, bukan hanya pemasukan yang seret dari sana, suasana dan fasilitas di kawasan wisata itu juga mandeg.

Kalau ada yang membangun penginapan, bangunlah di situ. Kalau ada PS atau siapalah yang bisa mengelola dengan sedikit tambahan PAD jadilah. Makanya  PAD dari kawasan Bukit Lawang  dan wisata naik Gajah di Tangkahan tak sampai Rp 300 juta pertahun.  Alangkah kecilnya.

Padahal kalau Pak Bupati dan pihak Dinas Pariwisata mau berlelah-lelah untuk mendapatkan jaringan bisnis biro perjalanan di Eropa, Amerika, dan lainnya, uhtuk menjual wisata di Langkat, peroleh PAD bisa ratusan miliar setahun, Jadikan semua paket wisata  di Langkat untuk program para turis domestik dan asing yang mau ke Langkat, mulai dari trasnportasi udara, darat, hotel, kuliner, dan sebagainya. Bekerja sama dengan warga lokal atau investor untuk mengembangkan kawasan wisata agar lebih menarik. Hari gini kok masih bekerja sama dengan orang amatiran.       

Nasib para nelayan tradisional juga tak banyak berubah akibat dari kepemimpinan bergaya tradisonal ini. Bagaimana dulu nenek moyang menangkap iklan dilaut dengan sampan dan jaring, sekarang masih ada yang begitu. Perairan Langkat yang dikenal sejak dulu sebagai kawasan tangkapan ikan dan hasil lautnya entah mengapa belum juga punya pelabuhan perikanan, Cold Storage, industri pengalengan ikan.

Sudahlah Pak Bupati, sekarang ini melek mata 20 jam sehari bersama berbagai pakar keilmuan untuk serius membangun Langkat pun belum tentu hasilnya bisa diperoleh dalam 10 atau 20 tahun. Kalau memang mau bekerja lebih serius, sepertinya Pak Bupati tak ada waktu alagi untuk ngurusin tetek bengek menghadiri acara HUT Darma Wanita, pelantikan sana pelantikan di sini. Kasi ajalah itu samja Pak Wakil.

Tugas pak Bupati lebih baik banyak keluar menjaring calon investor dari domestik atau luar untuk menanamkan investasinya di Langkat. Bangun kerja sama bisnis dengan para investor atau tingkatkan menjadi hubungan G to G. Setiap jengkal tanah dan air di Langkat harus bisa dijual agar hasilnya kelak bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraanh masyarakat langkat. Ini kerja berat.

Sebab tokoh sekaliber Presiden ke III, Habibie saja harus menahan beratnya teklanan pihak Singapura dalam upayanya membangun Batam. Sebab Singapura yang hidupnya sebagian besar mengharapkan dari jasa pelabuhan lautnya, merasa terancam bila Batam dan kawasan lainnya di Sumatera bisa bangkit perekonomiannya. Salah-salah bisa membuat perekonomian negaranya.

Pengalaman pahit Habibie ketika menjadi Ketua Otorita Batam adalah saat m,enerima tawaran dari p[ihak pelayaran kelas dunia, Evergreen sekitar pertengahan tahun 1980 lalu. Habbie sangat gembira mendengar Evergreen tertarik berbasis di Batam setelah masa kontraknya dengan Singapura berakhir.

Habibie lalu mengajak pihak Evergreen denbgan menggunakan pesawat helokpter untuk meninjau dari udara  memilih lokasi mana yang cocok di Batam untuk dibangun pelabuhan internasional. Celakanya, saat Habiubie mulai merancang pembangunan pelabuhan tersebut, buru-buru Singapura membujuk Evergreen agar tetap bertahan di Singapura dengan cara menurunkan nilai kontrak jauh lebih murah dari sebelumnya.    

Berikutnya datang pu;la tawaran bisnis dari pihak penerbangan Jerman, Lufthansa. Dengan alasan masa kontrak mau habis di Singapura, maskapai asinjg tersebut menawarkan didi menjadikan Bandara hang Nadim Batam sebagai home basenya. Syaratnya hanya satu, landasan pacu bandara harus diperpanjang sekian meter dari sebelumnya dengan alasan pesawat mereka berbadan lebar.

Lagi lagi Singapura menawarkan nilai kontrak yang lebih murah dari sebelumnya kepada maskapai tersebut. Akibatnya, landasan pacu sudah sempat diperpanjang dengan mengorbankan dana yang seharusnya digunakan untuk membangun gudang cargo di bandara tersebut,  pihak Lufthtansa tak jadi pindah ke Batam.

Cerita duka ini ditampilkan hanya sekadar menggambarkan, kendati pun sudah bekerja keras, tapi belum tentu hasilnya bagus. Apa lagi kalau kerjanya setengah melek, mau dapat apa ?

Harapan dalam tulisan ini juga ditujukan kepada siapapun kelak yang akan berlaga pada Pilkada Kabupaten Langkat pada tahun 2018 mendatang. Sebab, sekeras apapun Bupati Ngogesa Sitepu SH di sisa masa jabatannya ini tentu tidak akan segera tampak hasilnya.

Supaya Kabupaten Langkat lebih berjaya dan masyarakat bisa lebih merasakan buah keberhasilan para pemimpinnya, maka calon yang jadi pemenang jadi Bupati Langkat harus siap-siap menanggalkan gaya tradisional ini. Para pemimpin Langkat ke depan dituntut tidak sekadar menjadi pamong yang ramah tamah, cakap dalam ilmu pemerintahan, tapi harus lebih dari itu.

Ia harus bisa tampil menjadi Duta Langkat untuk menjual semua potensi yang dimiliki daerah ini hingga merambah dunia untuk meningkatkanpenghasilan keuangan daerah. Jangan pandainya hanya merengek dana dari Pusat dan  Provinsi, tapi miskin dalam perolehan PAD sendiri. (HAB)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top