yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Empat Nelayan Pkl Susu Terseret Arus Hingga ke Samudera Hindia : Diselamatkan Kapal Tanker Jerman Setelah 12 Hari Terapung-Apung Dilaut
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Salah seorang nelayan Pkl Susu yang diselamatkan kapal tanker Jerman Ahirnya diselamatkan kapa...
Salah seorang nelayan Pkl Susu yang diselamatkan kapal tanker Jerman
Ahirnya diselamatkan kapal asing
Empat nelayan yang Terapung-apung ditengah lautan tersebut


Pangkalan Susu-Metro Langkat

Kisah menyedihkan telah dialami oleh empat nelayan bubu ikan kerapu, warga Jalan Pembangunan Lingkungan XI Kelurahan Beras Basah Ujung Kampung Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. Akibat kapal yang mereka gunakan untuk mencari ikan karam, akhirnya mereka terseret arus laut hingga  sampai ke samudra hindia. Allahu Akbar, nyawa mereka masih tertolong setelah berhasil diselamatkan oleh Kapal super Tanker milik perusahaan pelayaran Jerman, setelah 12 hari lamanya terapung bertarung menahan rasa lapar, haus, dan sebagainya.

Kisah dramatis ini kemudian diceritakan oleh awaluddin, 44 tahun, kepada Wartawan Metro Langkat di Pangkalan Susu, Senin (15/01) tidak lama setelah mereka tiba di bertemu keluarganya masing-masing. Juru mudi kapal itu mengatakan, pengalaman yang menantang maut itu  berawal  pada Juma't malam 19 Desember 2016 lalu.

Hari itu, sekira sekira pukul 08:00 WIB, mereka bergerak menuju arah utara barat,sekitar delapan puluh (80) mil,dari lepas pantai Pangkalan Susu. Namun sebelum sampai ke lokasi yanjg dituju untuk menangkap ikan, mereka sempat mengalami kendala di ruangan mesin, Yakni  putus nya teli kopling mesin.

Setelah perbaikan mesin dapat diselesaikan, mereka kembali berlayar dan sampai dilokasi yang   mereka tuju sekira pukul 21:00 wib,  mingu malam 21 Desember, mereka sempat bekerja mengangkat beberapa bubu ikan di sekitar laut Langsa Aceh Timur. Di sela sela itu mereka bahkan masih sempat menanak nasi beberapa saat. Sekira pukul 04:30 wib menjelang subuh,mereka istirahat tertidur-

Gelagat buruk mulai menerpa ketika tak lama berselang, salah satu anak buah kapal nelayan, Poniman 27 tahun, tersentak dari tidurnya karena  air yang perlahan masuk ke kapal telah membasahi tubuh nya. Seketika Poniman menjerit membangunkan awak yang lain. Celakanya, belum sempat para nelayan bertindak mencek apa yang terjadi, tak lama berselang kapal nelayan langsung tengelam . Yang  tersisa hanya sebuah peti bermuatan es.

Di saat gelap masih menyelimuti pada dini hari itu, para nelayan itu berusaha menyelamatkan diri dengan berusaha keras meraih peti es yang sudah mengapung tersebut. Dengan segala upaya,  ke empat nelayan ini berusaha membongkar isi peti tersebut. Usaha mereka tak sia sia,akhir nya mereka ber'empat berhasil masuk kedalam peti es. Mereka meninggalkan posisi laut tempat kapal mereka tenggelam, tanpa sempat tahu apa penyebabnya.

Daolam kondisi terapung di laut luas seolah tak bertepi itu, keempat nelayan hanya bisa berdoa seraya teringat anak isteri, serta keluarga lainnya yang ada di kampung halaman di Pangkalan Susu. Petis es tersebut memang telah menyelamatkan mereka dari maut, tapi lantaran ukurannya kecil hanya berukuran sekitar 1 x 2 meter, maka mereka berempat harus bergantian tidur dan dan yang berjaga-jaga mana tau ada kapal yang melintas untuk menolong mereka.

Dio dalam peti itu, mereka bergantian, tiga tidur dabn satu orang berdirui. Bagi yang berdiri ini tugasnya bukan hanya berusaha mencari kapal bantuan, tapi juga harus siaga untuk menjaga keseimbanaghna peti es tersebut. Kalau tidak, petis es tersebut bisa oleng dan terbaluik.

Dari hari ke hari keadaan mereka bertambah payah karena harus bertarung menahan lapar dan haus. Setelah beberapa hari kemudian, seorang diantaranya jatuh sakit. Untuk mengisi petus, mereka hanya berharapkan hujan turun yang mereka tampung dengan menengadah kedua tangan lalu meminumnya. Sebagian ada air hujan yang masuk ke dalam pati es. Air itu mereka bagi berempat.

Selama berhari-hari di tengah laut, hujan sering turun. Air hujan yang mengguyus sekujur tubuh sudah tidak mereka rasakan lagi dinginnya atau panas sengatan mata hari di siang hari sudah terasa kosong.   Sebab, rasa putus asa sudah menyelimuti diri mereka dan hanya tinggal menunggu kematian saja yang belum datang. Bagaimana tidak, saat itu tak satu kapal pun yang melintas untuk dapat dimintai pertolongan. Setiap kali mereka menatap ke sekitarnya yang ada hanya laut tak bertepi. 

Akibat penderitaan yang berkepanjangan itu, kondisi fisik ke empat nelayan ini pun makin hari makin drop dan terlihat kurus. Padahal tadinya perawakan mereka ini gemuk dan kekar. Kalau pun sesekali mereka sedikit timbul semangat, adalah saat indahnya kenangan bertsama anak dan isteri dan keluargan lainnya selama ini di kampung.  

Di tengah beratnya cobaan dan putus asa semakin mendera, akhirnya datang jualah pertolongan yang dinanti-nantikan. Setelah dua belas  hari mereka terapung apung ,sekira pukul 03:00 wib, persis tanggal 1 januari 2017, sebuah kapal tengker berbendera Jerman bernama, MV THALANSYA AXYA lewat tepat di samping, menghampiri mereka.

Melihat ini, sontak awaluddin (44) selaku tekong,  terbangun dari baringannya dan melambai lambaikan tangan nya. Kapal pun merapat dan seluruh ABK kapal langsung melakukan evakuasi terhadap ke empat nelayan tersebut. Komunikasi berjalan lancar, karena  salah satu awak kapal nelayan bisa berbahasa ingris.

Setelah sempat berkomunikasi beberapa saat di ruangan kapten kapal,  juru mudi kapal tanker   mengatakan pada Poniman, bahwa dalam radius dua mil sebelumnya, iya mulai curiga dengan sebuah obyek tertangkap melalui radar mereka. Sang juru mudi kemudian langsung melaporkan pada kapten dan sang kapten merespon obyek tersebut. “Setelah melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh, teryata sebuah obyek itu adalah sebuah peti terbuat dari bahan fiber yang berisi keempat korban kapal nelayan yang tenggelam,”  ujar juru mudi pada Poniman (27).

Ke empat nelayan itu sempat tersert arus hingga ke Pulau Wondo di kawasan Samudera Hindia. Dari sini kapten kapal membawa mereka pulang ke Indonesia. Segenap kru kapal tanker bersimpati pada mereka. Melihat kondisi mereka yang lemah, mereka diberikan makanan bubur yang sarat dengan gizi. Karena itulah kondisi fisik mereka berangsur-angsur pulih selama dalam perjalanan di kapal tersebut.

Ke empat nelayan itu kemudian diturunkan di Johor Malaysia pada 2 Januari 2017. Mereka selanjutnya diterima oleh AKBP Wino Sumarno, S.s MPd, Perwira Polri yang bertugas di bagian Divisi Hubungan Internasional yang berada di Johor Baru. Setelah melakukan proses administrasi keimigrasian, pihak staf keimigrasian kemudian mengontak Haji Lembab, abang angkat Awaluddin yang berada di Pangkalan Susu.

Berbagai proses lainnya juga dilakukan seperti bekerja sama dengan Komandan Pos Kamla Pangkalaj Susu, Peltu Kom Surya Budiman. Stelah dimnilai cukup, maka ke empat nelayan pun dipulangkan melalui perlabuhan laut Johor Baru, Stulang Laut Malaysia menuju Batam. ,Di Batam, keempatnya kemudian disambut oleh seorang warga Pangkalan Susu yang tinggal di Batam. Setelah istirahat dan berada satu malam, ke empatnya kemudian pulang naik pesawat ke Pangkalan Susu naik pesawat melalui bandara Kuala Namu, Kamis (12/01) lalu. 

Di bandara Kuala Namu, Haji Lembab dan sanak famili, Komandan Pos Satuan Angkatan Laut Peltu Kom Surya Budiman, sudah lebih dulu menunggu kedatangan mereka. Suasana haru tak terleakkan saat ke empatnya bertemu di bandara tersebut. Suasana haru disertai rasa bahagia karena bisa bertemu lagi juga terasa saat ke empat dan keluarga nyang menjemput tiba di Panmgkalan Susu. Sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat setempat melakukan acara tepung tawar, syukuran dan doa selamat.

Beerikut nama korban : Awaluddin 44 tahun, pekerjaan nelayan, alamat Jalan Pembangunan Lingkugan Xl Kelurahan Beras Basah Kecamatan Pangkalan Susu Kabupatebn Langkat, Junaidi  29 tahun, pekerjaan nelayan,  alamat jalan pembangunan ling Xl kel beras basah kec pangkalan susu, Gunawan,  20 tahun pekerjaan nelayan alamat jalan pembagunan lingkungan Xl beras basah kec pangkalan susu, Poniman, 27 tahun, pedagang, alamat Desa Timbang Lawan,Dusun lllV Kecamatan Bahorok Langkat.;

Ke empat korban kapal tengelam dan seluruh masarakat nelayan ujung kampung sangat berharap kepada pemerintah khusus nya perikanan da kelautan Kabupaten  Langkat,agar bisa memperhatikan segala kepentingan kebutuhan alat komunikasi dari tengah laut menuju pos angkatan laut pangkalan susu,guna kepentingan apa bila terjadi hal yang sama lebih mempermudah para nelayan menghubungi dan meminta bantuan dari pos kamla terdekat,demi kelangsungan hidup para masarakat nelayan,agar lebih mempermudah komunikasi serta imformasi,METRO LANGKAT-SURYA)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top