yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Deplot Cabai Di Tungurono Disoal : Sedot APBD Rp.250 Juta, Tapi Cabai Terancam Tak Panen
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Ketua LSM Komunitas Hijau Indonesia Iksan F Rawi mengamati papan plan deplot budidaya cabai dilokasi penanaman.(Dok) Binjai- News Metro...
Ketua LSM Komunitas Hijau Indonesia Iksan F Rawi mengamati papan plan deplot budidaya cabai dilokasi penanaman.(Dok)


Binjai- News Metro Langkat
Tanaman cabai yang terancam

Berbagai kalangan mulai meragukan kalau “ Deplot Budi Daya Cabai yg ada di Kelurahan Tunggu Rono, Kecamatan Binjai Timur akan menuai hasil. Pasalnya, tanaman cabai yang modalnya mengunakan Angaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Binjai tersebut sejauh ini terlihat kurang baik.

Pohon cabai yang tumbuh tampak tak sehat. Alhasil, kegagalan akan produksi pertanian disektor yang satu ini hampir dapat dipastikan. Bah..!. Program peningkatan produksi pertanian dan perkebunan lewat kegiatan pengembangan tanaman cabai, sayur-sayuran dan buah-buahan yang di gagas oleh Dinas pertanian Kota Binjai inipun tak ubahnya seperti membuang garam kelaut.
Iksan F Rawi mengamati tanaman cabai

Hal ini diduga disebabkan oleh buruknya kinerja ASN (Aparatur Sipil Negara) yang bernaung di bawah Dinas Pertanian Kota Binjai. Berdasarkan fakta yang di temukan di ,lapangan, sangat terlihat kegagalan program ini.

Penanaman Cabai yang baru saja di mulai tersebut, kini hampir 50 % sudah mengalami  kematian. Menurut salah seorang anggota kelompok yang tidak mau disebutkan namanya, diduga program ini gagal di karenakan kegitan ini tidak dikerjakan oleh Petani yg sebenarnya.

Artinya petani yang menangani program ini adalah petani dadakan. Mungkin karena program ini mengunakan angaran APBD jadi ada upaya untuk mengakali uang rakyat tersebut.” Ujar Ketua Komunitas Hijau Indonesia Iksan Farera Rawi kepada Metro Binjai Kamis (26/1) sore menyikapi persoalan ini. 

Sambung Iksan lagi, gagalnya program ini sudah terlihat dari tidak tepatnya orang yang ditempatkan untuk menanganinya. Misalnya, seorang honorer dinas pertanian Kota Binjai dipercaya menjabat sebagai kepala laboraturium untuk menangani program tersebut. Padahal, yang bersangkutan tidak berkompeten.

Bagimana program nya mau bagus, ternyata kepala Lab. Dinas pertanian Kota Binjai tidak memiliki sertifikat keahlian. Anehnya lagi, ternyata latar belakang pendidikan yang bersangkutan adalah sarjana tehnik bukan pertanian. Jadi kita angap orang yang paling bertangung jawab atas kegagalan ini nantinya adalag Kepala Lab Dinas Pertanian tersebut.” Ungkap Iksan.

Tambah Iksan, dari investigasi yang dilakukan komunitasnya, diterima di lapangan program ini sengaja di buat untuk menguasai lahan Ex PTPN- 2 yang sedang sengketa. Jadi masyarakat jangan berharap banyak dari kegiatan ini. Judul yang menyatakan bahwa program ini untuk  menahan laju inflasi yg disebabkan tingginya harga cabai hanyalah retorika belaka.

Untuk itu kami dari Komunitas Hijau Indonesia akan mengusut tuntas persoalan ini sampai keakar-akarnya dan akan membawanya keranah hukum, RAB dari kegiatan ini juga sudah kami pegang jadi kita mau ada yang bertangung jawab nantinya.

Program ini mengunakan uang rakyat, jadi harus dipertangung jawabkan walaupun seribu rupiah. Jangan nanti ketika program ini dinyatakan gagal misalnya, maka uang sebesar Rp.250 juta itu diangap hilang begitu saja, yang menjadi pertayaan kenapa program itu bisa gagal,sementara didanai APBD ? Menurut kita, kalau memang benar-benar petani yang mengejarkannya, kegagalan itu mungkin tidak terjadi, apalagi pejabat yang menjadi penangung jawabnya memang ahli dibidangnya.

Tapi kalau semuanya memang bukan ahlinya, ya jadinya seperti ini.” Ketus Iksan geram. Kedepan jangan ada lagi program-program yang seperti ini, ratusan juta rupiah dana APBD melayang sia-sia demi kepentingan Politik Kekuasaan, akhirnya rakyat hanya menjadi korban saja, ujarnya

Istilah dalam  teknologi pertanian setiap kerusakan yg menyebabkan matinya tanaman yg sedang di kelola  hingga mencapai 50%, maka sesungguhnya itu sudah masuk dalam kategori serangan berat.  Anehnya dalam perkara yg terjadi ditunggurono ini,  PPL dari Dinas Pertanian kok seolah- olah tutup mata.  Padahal serangan terhadap budidaya cabai sudah dalam kategori berat. (Ismail)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top